Jambi mungkin tidak setenar tetangganya, Palembang yang belum lama menjadi tuan rumah perhelatan olah raga tebesar se Asia Tenggara. Walaupun tidak setenar Palembang, namun Jambi memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Keanekaragaman yang dimiliki Jambi berpadu dengan keramahan penduduk dan kearifan lokal yang mereka miliki dalam mengelola sumberdaya hayati.
Pada masa lalu, Jambi pun memiliki daya pikat tersendiri. Lekukan aliran sungai Batanghari yang mengalir dengan gemulai menyisiri kota Jambi. Sungai ini menjadi urat nadi kehidupan di Jambi tempo dulu, bahkan mungkin sampai sekarang. Batangari tidak saja menjadi alur utama perdagangan dan transportasi melainkan juga tempat di mana sebagian penduduk mencari sumber penghidupan.
Dengan luas Provinsi Jambi 53.435 km2 dan jumlah penduduk 3.088.618 jiwa pada tahun 2010, Jambi sedang bergeliat membangun negeri. Di sudut-sudut jalan protokol maupun di jalan sempit akan terlihat antusiasme masyarakat dalam membangun daerah. Mereka bersemangat dan tampak ceria menjalani aktifitas harian.
Jambi pun digadang-gadang sebagai salah satu propinsi yang memiliki kekayaan minyak bumi cukup melimpah. Seperti minyak bumi. Cadangan minyak bumi Provinsi Jambi sebesar 1.270,96 juta m3. Cadangan minyak bumi antara lain terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, struktur Kenali Asam, Kecamatan Jambi Luar Kota dan Kabupaten Batanghari. Selain itu cadangan gas bumi Provinsi Jambi sebesar 3.572,44 milyar m3. Cadangan tersebut sebagian besar terdapat di Struktur Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Muara Jambi dengan jumlah cadangan 2.185,73 milyar m3. Cadangan batubara Provinsi Jambi sebesar 18 juta ton, yang merupakan batubara kelas kalori sedang yang cocok digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik. Cadangan terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Bungo.
Salah satu keunggulan lain dari Jambi adalah perkebunan. Praktek perkebunan sudah lama ada di Jambi, bahkan pengusaha Jambi menyumbangkan helikopter untuk presiden RI pertama untuk menunjang aktifitas kepresidenan. Sekarang komoditas perkebunan yang sangat dominan adalah Karet dan Kelapa Sawit. Di hampir pelosok ditemui perkebunan karet dan sawit. Namun ironisnya, pemilik kebun bukan lagi masyarakat Jambi melainkan pemodal-pemodal yang ada di Jakarta bahkan Malaysia.
Perkebunan di Jambi pernah mengalami masa jaya. Saat itu, perkebunan masih dikelola oleh penduduk. Kemakmuran jelas dirasakan oleh masyarakat Jambi. Ini tergambar dari aktifitas keseharian masyarakat yang terekam dalam jawaban sepele atas sebuah pertanyaan hendak kemano? Mereka akan menjawab tidak kemana-mana. Ya walaupun mereka tidak kemana-mana tetapi cadangan pangannya sudah cukup untuk satu tahun bahkan lebih. Jawaban berbeda akan ditemui pada masyarakat Jawa yang menjawab akan ke sawah atau bekerja.
Di Jambi juga terdapat salah satu warisan masa lalu yang penting. Candi muarajambi. Situs percandian ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Di duga oleh beberapa kalangan candi ini sebagai pusat dari kerajaan Sriwijaya, mengingat sampai sekarang pusat dari kerajaan Sriwijaya belum ditemukan. Palembang yang mengklaim sebagai pusat kerajaan Sriwijaya juga tidak memiliki situs arkeologis yang mendukung untuk itu. Letaknya yang dekat dengan sungai Batanghari memang memungkinkan situs ini pada masa lalu sebagai pusat kerajaan.
Etnis melayu adalah salah satu etnis penting di Indonesia, bahkan bahasa dari etnis ini menjadi bahasa resmi negara. Selain itu juga etnis melayu memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sebagai entitas bangsa. Etnis melayu menurut beberapa kalangan bepusat di Jambi, mengingat di daerah ini terdapat kerajaan besar yang dikenal dengan kerajaan Melayu. Bahkan di Kerinci ditemukan aksara kuno.
Islam dan Masyarakat Jambi
Kalau benar pusat kerajaan Sriwijaya berada di Jambi, maka Jambi merupakan jalur penting bagi persebaran agama Islam di Indonesia. Dalam sejarah diketahui bahwa Puteri Champa melahirkan anaknya (dari Brawijaya V) di Palembang (Sriwijaya/Kerajaan Melayu) yang kelak anak ini menjadi tokoh penting pada perkembangan Islam di Jawa. Anak Puteri Champa dengan Barawijaya ini adalah Raden Fatah, pendiri kerajaan Islam Demak. Kerajaan Islam pertama di Jawa.
Bila pusat kerajaan Sriwijaya itu di jambi, maka berarti juga Puteri Champa menetap di Jambi dan Raden Fatah lahir di Jambi, bukan Palembang. Jika demikian adanya, maka Jambi berperan penting dalam proses islamisasi di Nusantara. Tidak saja sebagi perlintasan melainkan juga tempat lahirkan peradaban Islam itu sendiri.
Sampai saat ini, Islam menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Jambi. Ada ungkapan bahwa adat bersandi syara’ dan syara bersandi kitabullah. Ungkapan ini bukan hanya milik Minang melainkan juga di Jambi cukup dikenal. Ungkapan ini menyiratkan bahwa Islam menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jambi, dan nuansa keislmanan pun dapat ditemui di sudut-sudut sempit kota Jambi dan di tempat terjauh pedalaman Jambi.
Bagi masyarakat Jambi, Islam tidak saja sebagai agama yang berisi aturan-aturan atau norma melainkan juga sebagai spirit membangun tradisi baru. Di banyak segi kehidupan dan aktifitas harian masyarakat jambi, islam menjadi spirit pendorong langkah. Islam sudah menjadi sistem kognitif masyarakat Jambi yang darinya aktifitas masyarakat lahir.
Nuansa keteduhan agama Islam sudah merasuk dan menjadi bagian integral dari masyarakat Jambi, bahkan mungkin Islam sudah menjadi identitas Jambi dalam evolusi kebudayaannya. Dalam etika pergaulan, etika politik, bahkan etika yang paling pribadi pun warna Islam terlihat jelas dalam pantun-pantun yang biasa didendangkan oleh masyarakat.
Selain kaya akan ragam jenis tarian, musik, dan tradisi-tradisi adat. Jambi juga terkenal akan pantunnya. Masyarakat pandai dan lincah bertutur melalui pantun. Ungkapan senang, sedih, duka, atau ketidak sukaan terhadap orang atau keadaan diekspresikan melalui pantun, termasuk juga pedoman hidup. Apapun bisa dipantunkan oleh orang Jambi. Pergilah ke Jambi dan bergaullah dengan orang-orangnya maka tidak lama kita mengobrol akan keluar pantun, dan disusul dengan pantun lainnya.
Menikmati Masa Kini Menerawang Masa lalu
Di daerah yang dikenal sebagai tanggo rajo, berada tidak jauh dari pasar angso duo, terdapat sebuah tempat yang menarik. Orang Jambi menyebutnya dengan Ancol. Di tepian sungai Batanghari ini masyarakat biasa berkumpul bersama keluarga, kerabat, teman, atau pasangan. Disaat kita menikmati kuliner ringan, seperti jagung bakar, air tebu, atau kopi khas Jambi, maka disaat bersamaan mata juga disuguhi pandangan yang elok, matahari berlahan terbenam. Perubahan pijarnya memperindah liukan sungai Batanghari. Dari terang berlahan meredup menambah kesyahduan suasana.
Mereka yang datang ke tempat ini pun tampak bercengkrama dengan hangat, bersenda gurau. Ya obrolan di sini mula dari gosip politik di Jambi sampai pada curhat-an yang sifatnya pribadi. Di temani jagung bakar obrolan menjadi kian asyik. Duduk di tempat ini akan membuat waktu seolah berhenti, padahal waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa, ketika satu potong jagung bakar telah habis atau satu gelas kopi telah habis, maka itu berarti sudah dua jam kita duduk-duduk di tempat tersebut.
Ada satu lagi kuliner khas Jambi. Tempoyak. Kuliner yang berasal dari fermentasi dari durian lokal yang kemudian diolah menjadi makanan akan terasa nikmat sekali. Bila dibuat gulai ikan toman sejenis gabus., manis, asem, dan legit menyatu memperkuat rasa. Kuah tempoyak yang tidak tidak encer dan juga tidak terlalu kental makin berasa nikmat dan segar berbaur dengan rasa pedas.
Sungguh suatu penjelajahan yang sangat berarti dalam usaha lebih mengenal budaya Indonesia.
Oleh Mohammad Fathi Royyani, Peniliti LIPI
WOW... keren. Keren banget. Beberapa anggota rombongan
Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Bogor berujar spontan ketika
menyaksikan hamparan hijau persawahan dan panorama gunung.
Itulah Gunung Menir di bagian barat kawasan Taman Nasional Gunung
Halimun Salak (TNGHS). Tepatnya dekat Kampung Menir, Desa Ciasihan,
Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Gunung Menir serasa Kintamani,
Bali, yang terkenal dengan keeksotisan hamparan persawahannya.
Decak takjub kembali terucap saat rombongan masuk Kampung Kiara
Payung. Lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari lanskap Gunung Menir
yang menawan. Perkampungan masih asri. Tidak banyak rumah. Dominan
hamparan sawah dilindungi pohon-pohon besar hutan Gunung Salak yang
setiap saat diselimuti kabut.
Suasana kian romantis karena padi sudah menguning. Suara burung mencicit dan suara gogoprak (alat manual buatan petani) bertalu-talu mengusir burung. Gogoprak terbuat dari bambu mirip calung (alat seni Sunda). Tali panjang diikatkan pada satu tiang bambu.
Untuk mengusir burung, tali di bagian ujung tiang ditarik, keluarlah
suara goprak... goprak... goprak. Burung pun beterbangan menjauh dari
tanaman padi.
Satu jam terlalu singkat untuk menikmati suasana kawasan dengan
duduk di galangan sawah atau di bale-bale rumah bambu sederhana. Guyuran
hujan bahkan menjadi sensasi sendiri. Itulah keindahan.
Tidak ada yang bisa mengurangi artinya. Indah di pagi hari, sejuk di kala siang, dan romantis di sore hari. Bisa menyaksikan sunrise dan sunset.
Ketakjuban bertambah ketika tiba di penghujung Curug Ciparay. Dari
pemukiman warga ke Curug Ciparay berjarak sekitar 1 kilometer. Meski
harus berjalan kaki, kita tidak akan merasa capai karena udara sejuk dan
keindahan menghampar di sekeliling.
Kawasan Gunung Menir dan Kampung Kiara Payung dengan Curug
Ciparay-nya tergolong masuk daerah terpencil. Curug Ciparay memiliki
ketinggian sekitar 50 meter dan berada di atas Curug Seribu di kawasan
Gunung Salak Endah (GSE). Air Curug Ciparay yang jernih terus mengalir
sampai jauh.
Belum banyak orang tahu akan keberadaan Curug Ciparay dengan
pemandangan persawahan dan pegunungan eksotis. "Curug ini masih perawan,
jarang orang ke sini," tutur penduduk setempat.
Saat ini baru ada satu tempat penginapan di kawasan Curug Ciparay
dan Gunung Menir. Tempat itu diberi nama Bambu House. Ada 13 kamar
tersedia dengan tarif Rp75 ribu untuk dua orang dan Rp50 ribu untuk satu
orang per malam. Lokasi tempat penginapan berada di antara permukiman
warga yang masih sedikit.
Memancing
Untuk masuk area Curug Ciparay dipungut biaya Rp5.000 per orang oleh
pengurus RW. Uang yang terkumpul digunakan untuk memperbaiki
infrastruktur. Berpemandangan menarik. Bisa memancing. Setiap pengunjung
juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat dan ikut dalam
aktivitas keseharian.
Menurut Nursin, salah seorang sesepuh di Kampung Kiara Payung, area
Curug Ciparay dibuka pada 2005. ”Kami yang membuka area ini. Ini atas
saran dan dorongan dari beberapa orang pramuwisata HPI Kota Bogor. Saat
itu kami mengerahkan massa untuk membuka jalan,” terangnya.
Gunung Menir awalnya bernama Gunung Kelir. Namun karena warga
Belanda, Nyungcing, menguasai tempat itu, Gunung Kelir kemudian disebut
Gunung Menir.
Sule, 28, putra Nursin, punya cara untuk mengenalkan Curug Ciparay.
Dia bersama adiknya mengambil gambar/merekam proses pembukaan jalur ke
Curug Ciparay, keeksotisan Curug Ciparay, suasana Kampung Ciparay, dan
pemandangan lanskap Gunung Menir.
Gambar-gambar itu dijadikan CD dan dijual ke pengunjung di tempat
objek-objek wisata dan pasar. ”Kami jual Rp5.000 per CD. Saat itu lebih
dari 1.000 CD terjual. Mulailah ada yang datang, terutama pelajar,"
urainya.
Ketua HPI Kota Bogor Bagus Karyanegara menyebutkan banyak objek
wisata di Kota maupun Kabupaten Bogor belum tersentuh. "Karena itu kami
menyurvei di mana saja potensi-potensi tujuan utama wisata. Objek wisata
di kota maupun di kabupaten itu satu paket,” kata Bagus.
Resolusi yang digadang-gadang Bagus ialah menjadikan Bogor sebagai
tujuan utama wisatawan, bukan lagi tempat transit seperti selama ini.
Untuk mencapai target tersebut, banyak yang harus dibenahi bekerja sama
dengan dinas pariwisata dan budaya setempat.
Selama ini pengunjung domestik maupun mancanegara hanya bertahan
satu hari dan paling lama dua hari di Bogor. ”Setelah satu-dua hari,
mereka pergi ke Pangandaran, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, atau Sumatra.
Jadi pramuwisata di sini harus lintas sektoral. Kalau land di sini, mereka tidak perlu keluar kota lagi. Di Bogor saja sudah cukup.”
Hasil survei HPI akan dikemas di website. Selanjutnya mereka
mencetak banyak pamflet, brosur, peta, dan sebagian dititipkan di
bandara. Pihaknya akan mencetak sebanyak 1 juta pamflet dalam sebulan
agar tak putus-putus. "Tiga bulan ke depan akan dievaluasi. "Kami ingin
minimal wisatawan bertahan tiga hari di Bogor seperti yang melancong ke
Bali atau Yogya,” imbuhnya.(J-1)WOW... keren. Keren
banget. Beberapa anggota rombongan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI)
Kota Bogor berujar spontan ketika menyaksikan hamparan hijau persawahan
dan panorama gunung.
Itulah Gunung Menir di bagian barat kawasan Taman Nasional Gunung
Halimun Salak (TNGHS). Tepatnya dekat Kampung Menir, Desa Ciasihan,
Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Gunung Menir serasa Kintamani,
Bali, yang terkenal dengan keeksotisan hamparan persawahannya.
Decak takjub kembali terucap saat rombongan masuk Kampung Kiara
Payung. Lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari lanskap Gunung Menir
yang menawan. Perkampungan masih asri. Tidak banyak rumah. Dominan
hamparan sawah dilindungi pohon-pohon besar hutan Gunung Salak yang
setiap saat diselimuti kabut.
Suasana kian romantis karena padi sudah menguning. Suara burung mencicit dan suara gogoprak (alat manual buatan petani) bertalu-talu mengusir burung. Gogoprak terbuat dari bambu mirip calung (alat seni Sunda). Tali panjang diikatkan pada satu tiang bambu.
Untuk mengusir burung, tali di bagian ujung tiang ditarik, keluarlah
suara goprak... goprak... goprak. Burung pun beterbangan menjauh dari
tanaman padi.
Satu jam terlalu singkat untuk menikmati suasana kawasan dengan
duduk di galangan sawah atau di bale-bale rumah bambu sederhana. Guyuran
hujan bahkan menjadi sensasi sendiri. Itulah keindahan.
Tidak ada yang bisa mengurangi artinya. Indah di pagi hari, sejuk di kala siang, dan romantis di sore hari. Bisa menyaksikan sunrise dan sunset.
Ketakjuban bertambah ketika tiba di penghujung Curug Ciparay. Dari
pemukiman warga ke Curug Ciparay berjarak sekitar 1 kilometer. Meski
harus berjalan kaki, kita tidak akan merasa capai karena udara sejuk dan
keindahan menghampar di sekeliling.
Kawasan Gunung Menir dan Kampung Kiara Payung dengan Curug
Ciparay-nya tergolong masuk daerah terpencil. Curug Ciparay memiliki
ketinggian sekitar 50 meter dan berada di atas Curug Seribu di kawasan
Gunung Salak Endah (GSE). Air Curug Ciparay yang jernih terus mengalir
sampai jauh.
Belum banyak orang tahu akan keberadaan Curug Ciparay dengan
pemandangan persawahan dan pegunungan eksotis. "Curug ini masih perawan,
jarang orang ke sini," tutur penduduk setempat.
Saat ini baru ada satu tempat penginapan di kawasan Curug Ciparay
dan Gunung Menir. Tempat itu diberi nama Bambu House. Ada 13 kamar
tersedia dengan tarif Rp75 ribu untuk dua orang dan Rp50 ribu untuk satu
orang per malam. Lokasi tempat penginapan berada di antara permukiman
warga yang masih sedikit.
Memancing
Untuk masuk area Curug Ciparay dipungut biaya Rp5.000 per orang oleh
pengurus RW. Uang yang terkumpul digunakan untuk memperbaiki
infrastruktur. Berpemandangan menarik. Bisa memancing. Setiap pengunjung
juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat dan ikut dalam
aktivitas keseharian.
Menurut Nursin, salah seorang sesepuh di Kampung Kiara Payung, area
Curug Ciparay dibuka pada 2005. ”Kami yang membuka area ini. Ini atas
saran dan dorongan dari beberapa orang pramuwisata HPI Kota Bogor. Saat
itu kami mengerahkan massa untuk membuka jalan,” terangnya.
Gunung Menir awalnya bernama Gunung Kelir. Namun karena warga
Belanda, Nyungcing, menguasai tempat itu, Gunung Kelir kemudian disebut
Gunung Menir.
Sule, 28, putra Nursin, punya cara untuk mengenalkan Curug Ciparay.
Dia bersama adiknya mengambil gambar/merekam proses pembukaan jalur ke
Curug Ciparay, keeksotisan Curug Ciparay, suasana Kampung Ciparay, dan
pemandangan lanskap Gunung Menir.
Gambar-gambar itu dijadikan CD dan dijual ke pengunjung di tempat
objek-objek wisata dan pasar. ”Kami jual Rp5.000 per CD. Saat itu lebih
dari 1.000 CD terjual. Mulailah ada yang datang, terutama pelajar,"
urainya.
Ketua HPI Kota Bogor Bagus Karyanegara menyebutkan banyak objek
wisata di Kota maupun Kabupaten Bogor belum tersentuh. "Karena itu kami
menyurvei di mana saja potensi-potensi tujuan utama wisata. Objek wisata
di kota maupun di kabupaten itu satu paket,” kata Bagus.
Resolusi yang digadang-gadang Bagus ialah menjadikan Bogor sebagai
tujuan utama wisatawan, bukan lagi tempat transit seperti selama ini.
Untuk mencapai target tersebut, banyak yang harus dibenahi bekerja sama
dengan dinas pariwisata dan budaya setempat.
Selama ini pengunjung domestik maupun mancanegara hanya bertahan
satu hari dan paling lama dua hari di Bogor. ”Setelah satu-dua hari,
mereka pergi ke Pangandaran, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, atau Sumatra.
Jadi pramuwisata di sini harus lintas sektoral. Kalau land di sini, mereka tidak perlu keluar kota lagi. Di Bogor saja sudah cukup.”
Hasil survei HPI akan dikemas di website. Selanjutnya mereka
mencetak banyak pamflet, brosur, peta, dan sebagian dititipkan di
bandara. Pihaknya akan mencetak sebanyak 1 juta pamflet dalam sebulan
agar tak putus-putus. "Tiga bulan ke depan akan dievaluasi. "Kami ingin
minimal wisatawan bertahan tiga hari di Bogor seperti yang melancong ke
Bali atau Yogya,” imbuhnya.(am/aw/ads)
Banyu
wangi. Telah
menjadi kebiasaan bahwa tiap-tiap pemimpin daerah dalam memajukan daerahnya
menerapkan berbagai macam program kegiatan, dengan menggunakan slogan
masing-masing, agar daerah tersebut dapat lebih maju dan dapat bersaing dengan
daerah lain. Dimunculkannya slogan tersebut, guna memberikan semangat, dorongan
dan spirit kepada masyarakat agar dapat melakukan gerakan pembangunan untuk
mencapai tujuan yang terkandung dalam visi missi pemerintah daerah.
Misalnya, ketika banyuwangi dipimpin oleh Bupati Purnomo Sidiq, menggunakan slogan Gema Wisata, Banyuwangi Beriman dan Berahmad. Bupati Samsul Hadi, menggunakan slogan Gema Wisata, Banyuwangi Jenggirat Tangi. Bupati Ratna Any Lestari, menggunakan slogan Banyuwangi Ijo Royo-Royo dan Bupati Abdullah Azwar Anas Greend and Clean ( hijau dan bersih).
Perlu diketahui bahwa, setiap slogan tersebut mengandung makna tersendiri sesuai dengan bidang pembangunan masing-masing, guna turut serta menggerakkan masyarakat untuk membangun wilayah desa dan tata kota kebersihan serta konservasi, sesuai dengan motto : Beriman dan berahmad.
Guna mencapai tujuan, perlu adanya peran serta masyarakat untuk melestarikan hasil dari pada kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat. Baik itu kebersihan, keindahan tata ruang kota maupun pembangunan-pembangunan yang berhubungan dengan pendidikan dan ekonomi.
Salah satu contoh dari pada slogan Greend and Clean yang dicanangkan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas adalah menanam se milliard pohon yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten serta penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH), agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Di
ruang kerjanya Arief Setyawan, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Banyuwangi menerangkan bahwa adanya Greend and Clean ini, Pemerintah Kabupaten
Banyuwangi melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan, melaksanakan salah satu
kegiatan penataan ruang terbuka hijau (RTH), utamanya di Taman Sritanjung,
Taman Makam Pahlawan dan Taman Blambangan, yang merupakan kegiatan terpadu agar
nantinya masyarakat dan elemen masyarakat yang lainnya, dapat memanfaatkan
untuk kebutuhan education dan social ekonomi.
Dirinya menambahkan bahwa dilaksanakannya kegiatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menjadi paru-paru kota dan econ kota, bertujuan agar masyarakat dapat merubah prilaku dan memiliki sciel serta kepedulian hidup RTH tersebut sekaligus turut serta melakukan pemanfaatan lahan untuk ditanami sesuai dengan kebutuhannya.(dod).
Dari hasil
penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang
terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida Giza, di MesirJakarta. STAF Khusus Presiden bidang
Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief mengatakan bahwa tim
katastropik purba yang melakukan penelitian intensif menemukan dugaan
adanya bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip dekat Wanaraja
Kabupaten Garut, Jawa Barat, menemukan fakta yang cukup mengagetkan.
"Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur
bangunan yang terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida
Giza, di Mesir," kata Andi dalam pesan singkatnya di Jakarta.
Andi menambahkan dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan
menyerupai piramida, setelah diteliti secara intensif dan uji "karbon
dating", dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza.
Sekadar catatan, lanjut Andi, Piramida Giza selama ini dikenal
sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di
Nekropolis Giza. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam
untuk firaun, dinasti keempat Mesir, Khufu dan dibangun selama lebih
dari 20 tahun yang diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560
sebelum Masehi.
Dalam beberapa waktu ke depan, Tim Katastropik Purba akan melakukan
paparan ke publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal
temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan
temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi
"menhir" di Sumatera dan lain-lain.
"Ada temuan mencengangkan tentang uji karbon dating pada 3 lapis
kebudayaan di kawasan Trowulan yang biasa disebut Majapahit pada zaman
sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri
Aceh dan sekitarnya," ungkapnya.
Terhadap temuan ini, sambung Andi, Tim Katastropik Purba juga akan
terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi,
pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. Disamping itu, juga akan terus
berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan
sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.
"Sekedar catatan, beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba
ini telah disampaikan kepada publik. Diantaranya, rekomendasi agar 3
gunung di Jawa Barat yakni Gunung Kaledong, Gunung Putri, dan Gunung
Haruman dijadikan sebagai cagar budaya," ungkapnya.
Rekomendasi itu atas dasar penelitian melalui metode ilmu kebumian,
meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu
yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.
Obyek penelitian lain yang berada pada jalur-jalur patahan gempa
bumi dan gunung api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur,
Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua, terus
dikaji secara ilmiah. "Hasil penelitian-penelitian lanjutan tentang ini
akan disampaikan ke publik," pungkasnya. (am/aw/ads)
Banyuwangi.
Dengan berbagai macam alasan, lama kelamaan semakin banyak warga yang kecewa dan menunda bahkan batal melakukan pengurusan sertifikat atas tanah dan bangunan yang dimiliki. Bahkan tidak sedikit pula warga yang mengeluhkan tentang adanya proses sertifikat waktunya terlalu lama.
Kekecewaan tersebut dipicu dengan adanya blangko Akta Jual Beli (AJB) yang disediakan oleh pemerintah selama berbulan-bulan kosong.” Bulan juni dan juli kemarin (2011), saya ke kelurahan berniat mengurus sertipikat tanah kapling, kata pegawai kelurahan blangkonya habis dan disuruh kembali minggu depan dan bulan depan. Karena blangko masih belum ada, saya disuruh ke kecamatan. Sampai di kecamatan tidak ada keterangan yang berarti dan disuruh kembali ke kelurahan. Sebenarnya itu gimana dan mana yang benar kok seperti di pingpong ? “. Kata beberapa warga.
Dirinya menambahkan “ Karena merasa di pingpong, maka kami dating ke salah satu notaries. Meskipun ada sedikit selisih biaya, tapi menurut informasi prosesnya lebih cepat. Akan tetapi, ketika di notaries ada keterangan yang memuaskan, meskipun blangko Akta Jual Beli (AJB) sama-sama habis “. Katanya.
Hasil dari pada investigasi ke beberapa Kepala Kelurahan dan Kepala Desa membenarkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, blangko Akta Jual Beli tidak ada. Sehingga banyak warganya yang menunda mengurus sertifikat tanahnya. “ Memang dalam tiap bulan ada satu atau dua warga yang mau ngurus sertipikat. Karena blangko habis, maka pengurusannya ditunda pada bulan selanjutnya “. Terangnya.
Sementara Eddy Suwignyo, Seketaris Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Banyuwangi, membenarkan terjadinya kekosongan blangko akta jual beli “ Memang dalam beberapa bulan terakhir ini blangko AJB habis dan baru bulan ini ( September 2011) kiriman dari pusat datang “ Kata orang nomer dua di Kantor BPN Banyuwangi.
Dirinya menambahkan, selain kiriman dari pusat terlambat, volume pemohon proses pembuatan sertipikat tanah meningkat tajam dan melebihi kuota. Sehingga terjadi kekurangan blangko dan itu terjadi tidak hanya di Banyuwangi. Akan tetapi se Jawa Timur bahkan se Indonesia. Karena proses lelangnya di sentralkan di pusat.
Terkait masalah perbedaan waktu menyangkut proses yang diajukan melalui Notaris dan Camat, Eddy S menegaskan “ Kami tidak membedakan proses yang diajukan melalui kecamatan maupun notaries. Semua kami perlakukan sama “. Tegasnya. (dod)
