Produk unggulannya diberi nama Fin Komodo. "FIN itu singkatan
dari Formula Indonesia. Nah Komodonya itu juga diambil sebagai ciri khas
nama Indonesia," kata Ibnu.Jakarta. Mengapa para pembuat mobil nasional gemar menggunakan nama-nama hewan sebagai nama kendaraan mereka?
Hingga pertengahan 1990-an, cita-cita membangun industri mobil nasional masih menjadi salah satu program utama pemerintah.
Salah satu proyek rintisan yang dicanangkan pemerintah saat itu,
adalah merancang dan memproduksi mobil bernama Maleo (macrocephalon
maleo), yang diambil dari nama burung endemik di Sulawesi.
"Nama Maleo itu dipilih karena saat itu memang kita mencari jenis
hewan yang lincah, gesit, dan asli Indonesia," kata Ibnu Susilo, yang
saat Maleo dirancang pada 1996 menjabat sebagai kepala insinyur desain
mobil nasional.
Ibnu juga pernah bekerja sebagai Kepala Departemen Master Dimensi
Definisi dan bertanggung jawab untuk seluruh bentuk perancangan pesawat
terbang N-250 di PT Dirgantara Indonesia, sebelum kemudian banting setir
sebagai produsen kendaraan off road.
Produk unggulannya diberi nama Fin Komodo. "FIN itu singkatan dari
Formula Indonesia. Nah Komodonya itu juga diambil sebagai ciri khas nama
Indonesia," kata Ibnu.
Nama komodo (varanus komodoensis), menurut Ibnu, sangat khas sehingga tak perlu keliru menyebutnya dalam bahasa apapun di dunia.
"Bahasa Inggrisnya ya komodo, Arab ya komodo, Cina juga komodo," jelasnya sambil terkekeh.
Produk kendaraan yang umum dipakai di lapangan untuk area sulit di
perkebunan, pegunungan dan pertambangan ini sudah dijual sejak 2009 dan
menurut Ibnu kinerjanya 'lebih baik' ketimbang kendaraan sekelasnya
meskipun buatan asing.
"Kalau Anda coba naik, ketemu jalan tidak rata dan bergelombang, guncangannya nyaris tidak terasa, seperti naik sedan."
"Desainnya dibuat antiguling karena cengkeraman kaki-kakinya sangat
kuat, seperti badan dan kaki komodo," tambah Ibnu berpromosi.
'Tak Sesuai'
Sekitar 10 tahun setelah Maleo lahir, dan mati muda, lahir Marlip alias Marmut Listrik LIPI.
Kendaraan mini untuk dua sampai empat penumpang ini adalah produk
mobil listrik pertama di Indonesia, dilahirkan dari tangan para peneliti
di Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI.
"Idenya dulu adalah bahwa marmut ini binatang yang kecil tapi
lincah, gesit, dan cepat beranak-pinak," kata Maksun Syamsuddin, pemilik
PT Patra Teguh Abadi, yang kini menjadi pemasar komersial Marlip.
Apa daya, ternyata kemudian pertumbuhan si marmut (mures montii) ini
tidaklah secepat yang dicita-citakan. Dalam setahun terakhir ini,
menurut Maksun, hanya 20 unit yang dipasarkan.
"Tapi namanya tetap Marlip, nanti muda-mudahan masih terus berkembang-biak," katanya.
Setelah Marlip muncul pula Kancil, kendaraan kecil yang mudah
ditemui ditemui di beberapa titik sekitar pusat ibukota Jakarta dan
sempat diproyeksikan menggantikan keberadaan ribuan unit kendaraan
angkutan penumpang Bajaj yang dianggap tak manusiawi dan polutif.
Kancil yang merupakan akronim dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah
ini dibuat ramah lingkungan dnegan sistem hybrid; mampu beroperasi baik
dengan pasokan BBM maupun gas.
Nama Kancil (tragulus javanicus) juga mengingatkan orang pada
kejayaan Kijang (muntiacus muntjak) salah satu produk best seller di
Indonesia dari Toyota, pabrikan otomotif raksasa Jepang.
Nyatanya Kancil gagal mengekor kesuksesan Kijang dan sampai kini
belum mampu menggeser dominasi Bajaj dari jalan-jalan di ibukota.
'Nama mantap'
Kendaraan lain yang juga didesain sekelas dengan Bajaj dan Kancil,
adalah Tawon, besutan PT Super Gasindo Jaya, yang berlokasi di
Rangkasbitung, Banten.
Nama Tawon, menurut perancang dan pemilik Gasindo, Koentjoro Njoto, merupakan inspirasi dari hewan lebah madu (apex indica).
Alkisah pada tahun 2007 saat Tawon baru dirancang, Koentjoro mengaku
sedang mencari-cari nama yang dianggap cocok untuk produk kendaraan
idamannya.
"Maunya yang dimengerti oleh balita sampai manula, orang di mana saja,"kisah Koentjoro.
Dalam sebuah rapat yang berkaitan dengan produksi mobilnya, tiba-tiba muncul nama Tawon.
"Pulang dari meeting itu, kok ya mobil saya penuh dengan tawon," tambah Koentjoro.
Nama Tawon juga diyakininya membawa berkah karena hewan peghasil
madu ini dideskripsikan rajin bekerja, suka gotong-royong, produktif,
dan bahkan seperti disebut Koentjoro 'disebut sebagai mahluk istimewa
dalam kita suci al-Qur'an'.
"Pokoknya saya mantap pakai nama itu," tambahnya serius.
Mantap di sisi nama nampaknya belum memastikan kemulusan proyeksi
bisnis Tawon. Produk yang semula direncanakan dilepas ke pasar umum
tahun lalu, baru direncanakan akan dirilis pada khalayak awal tahun ini.
Meski demikian Koentjoro tetap meyakini kesaktian nama pilihannya.
Buktinya, sementara ini sudah ada pesanan 200 unit Tawon jenis
Metro, sebagai kendaraan angkutan perkotaan di Surabaya dan beberapa
lokasi lain.
Pria yang mengaku hanya butuh tiga bulan mendesain Tawon itu juga
yakin, berkah Tawon masih terus mengalir ditengah hebohnya isu mobil
nasional beberapa pekan terakhir.
"Kami siap buka pabrik baru yang bisa memproduksi maksimal 600 unit tawon per bulan." (am/aw/ads)
CIANJUR. Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono akan menyelenggarakan pernikahan putera keduanya Edhie
Baskoro Yudhoyono dengan puteri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta
Rajasa, Siti Rubi Aliya Rajasa, di Istana Cipanas, Kamis (24/11) pagi.
Akad nikah akan dilangsungkan pada pukul 10.00 WIB dan disaksikan sekitar 1.000 undangan.
Rencananya Wakil Presiden Boediono akan menjadi saksi pernikahan
untuk calon pengantin pria, sedangkan sesepuh Partai Amanat Nasional
Amien Rais akan menjadi saksi pernikahan untuk calon pengantin
perempuan.
Persiapan prosesi pernikahan di Istana Cipanas tersebut sudah
dilakukan sejak beberapa hari lalu, termasuk pemasangan tenda baik di
kompleks Istana Cipanas maupun lapangan depan Istana Cipanas. Panitia
pernikahan menempatkan media peliput acara tersebut di Media Centre di
depan Istana Cipanas.
Pada Rabu (23/11) malam, Presiden sempat melangsungkan rapat
terbatas di Istana Cipanas, membahas evaluasi penyelenggaraan SEA Games
di Jakarta dan Palembang serta penyelenggaraan KTT ASEAN di Bali.
Saat rapat tersebut hadir Wakil Presiden Boediono, para Menko,
Menpora, Menteri ESDM, Kapolri, Panglima TNI, Ketua KONI, Gubernur
Sumsel, Gubernur Bali dan Gubernur DKI Jakarta, serta sejumlah pejabat
lainnya. Rapat dilangsungkan mulai pukul 19:30 WIB.
Pantauan di kawasan Cipanas, hingga Kamis sekitar pukul 06.00
WIB, arus lalu lintas kendaraan dari dua arah masih lancar meski
kecepatan rata-rata 30 kilometer per jam.
Kendaraan para tamu undangan yang berangkat dari Jakarta akan
dipusatkan di tempat peristirahatan Kilometer 45 Gadog untuk kemudian
diatur menuju kawasan Cipanas sehingga tidak menimbulkan kemacetan dan
kerumitan lalu lintas.
Pada Rabu (23/11) juga dilakukan geladi bersih akad nikah yang diikuti oleh Ibas, panggilan akrab Edhie Baskoro. (Ant/aw/ads)
Pasangan calon pengantin KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GKR
Bendara (Jeng Reni), Jumat (7/10/2011) saat mengelilingi kompleks
Keraton Yogyakarta, tempat mereka nantinya merayakan sebagian prosesi
upacara pernikahan.
Jogjakarta. Putri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, dan pasangannya, Achmad Ubaidillah alias Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara, akan mengenakan perhiasan warisan Sultan Hamengku Buwono VII pada upacara adat panggih serta resepsi pernikahan, Selasa (18/10/2011).
Kedua mempelai juga akan memakai kain batik bermotif semen rojo yang merupakan warisan turun-temurun Keraton Yogyakarta. Seluruh ritual dalam pernikahan ini akan dijalankan sesuai pakem atau tata aturan warisan keraton.
Dua hari sebelum rangkaian ritual pernikahan dimulai, seluruh perhiasan dan busana pengantin telah siap. Bahkan, sebanyak 18 perias yang dipimpin perias pengantin tradisional kondang, Tienuk Riefki, telah hadir di Keraton Kilen, Yogyakarta.
"Kedua pengantin akan mengenakan perhiasan keraton yang menjadi warisan turun-temurun sejak zaman Sultan HB VII. Ini merupakan perhiasan keramat Keraton Yogyakarta. Pakaian keduanya dirancang persis dengan model pakaian pernikahan keraton di era Sultan HB VII," kata Tienuk, saat mempersiapkan perlengkapan baju dan rias pengantin, Kamis (13/10/2011) di Keraton Kilen, Yogyakarta.
Dalam upacara adat panggih, kirab, dan resepsi, pengantin putri akan mengenakan perhiasan keramat keraton yang dinamakan rojo keputren, mulai dari cundhuk menthul, pethat gunungan, penthung, subang royok, sangsangan sungsum, gelang kono, dan slepe. pengantin putra akan menggunakan sumping ron mangkoro, pethat menthul satu, dan karset.
"Sejak awal, GKR Bendara menginginkan upacara pernikahan dilakukan sesuai adat keraton yang dahulu dilakukan. Upacara yang dipilih akhirnya tata upacara adat keraton pada zaman Sultan HB VII karena dokumentasi ritual serta perlengkapan pernikahan pada periode ini masih ada," kata Tienuk.
Mulai 16 Oktober sampai 19 Oktober 2011, ritual pernikahan akan dimulai dengan upacara nyantri (16 Oktober), kemudian siraman (17 Oktober), lalu akad nikah, upacara panggih, kirab pengantin, dan resepsi (18 Oktober), kemudian terakhir upacara pamitan (19 Oktober).
Dari berbagai upacara itu, upacara yang dikhususkan bagi masyarakat umum Yogyakarta adalah kirab pengantin dari Keraton Yogyakarta menuju Kepatihan (Kantor Gubernur DIY).
Kirab pengantin yang awalnya direncanakan menggunakan Kyai Jatayu, akhirnya diganti menggunakan Kyai Jong Wiyat. Bentuk kereta Kyai Jong Wiyat yang lebih terbuka, memudahkan masyarakat umum untuk melihat langsung kedua pengantin dibandingkan dengan kereta Kyai Jatayu yang agak tertutup.
Selama ritual pernikahan, kedua mempelai akan dirias dengan berbagai macam model, antara lain tata rias pengantin Yogyakarta paes ageng (saat upacara panggih), tata rias paes ageng jangan menir dengan kebaya warna merah maron (saat kirab), dan tata rias pengantin Yogyakarta paes ageng jangan menir dengan kebaya warna hitam blenggen burdiran (saat resepsi). Pada saat resepsi, pengantin pria akan mengenakan busana sikepan burdiran warna hitam.
Pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudanegara melibatkan 18 perias, terdiri atas 14 perias putri dan 4 perias laki-laki. Para perias ini sudah siap di Keraton Yogyakarta sejak dua hari sebelum pernikahan.
Duplikat batik keraton
Khusus untuk penyediaan kain batik bagian luar atau dhodhotan untuk keperluan tata rias paes ageng, permaisuri GKR Hemas memesan batik tulis dari perancang busana sekaligus pembatik Afif Syakur. "Saya diminta GKR Hemas untuk membuat duplikat kain batik motif semen rojo, yang merupakan warisan Keraton Yogyakarta turun-temurun yang khusus digunakan untuk upacara pernikahan," kata Afif.
Pembuatan batik semen rojo membutuhkan waktu 9 bulan, dengan warna tunggal biru tua berhiaskan prada emas. Pembuatan kain batik ini relatif sulit karena bermotif rumit sekaligus berukuran lebar. Kain batik untuk pengantin putri berukuran 2 meter x 4,5 meter dan pengantin putra 2,5 meter x 4,5 meter.
"Sama seperti batik-batik keraton lainnya, motif batik ini berisikan doa-doa dan harapan-harapan. Kain batik semen rojo memiliki gambar yang berisi konsep tentang kehidupan manusia, seperti kelahiran, keharmonisan kehidupan manusia, hingga bagaimana menjadi pemimpin yang bijak," papar Tienuk.(Red.)
CIPANAS. Lalu lintas
kawasan Cipanas khususnya di sekitar Istana Cipanas sekitar pukul 08:00
WIB mulai mengalami kepadatan karena sejumlah tamu undangan telah
berdatangan.
Berdasarkan pantauan, Kamis (24/11) pagi di Istana Cipanas,
Cianjur, beberapa kendaraan tamu dapat memasuki kawasan Istana Cipanas,
sementara beberapa kendaraan tamu lainnya diarahkan ke lapangan depan
Istana Cipanas untuk memudahkan pengaturan arus lalu lintas.
Acara akad nikah Edhie Baskoro Yudhoyono dengan Siti Rubi Aliya
Rajasa akan berlangsung mulai pukul 10:00 WIB dipimpin penghulu yang
juga Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Cipanas Muhtar.
Pada Rabu (23/11) siang lalu, Ibas, demikian Edhi Baskoro akrab dipanggil menjalani gladibersih akad nikah.
Hingga pukul 08:30 WIB, meski tidak terjadi kemacetan, arus lalu
lintas di depan Istana Cipanas berjalan dengan lambat karena sesekali
ada rombongan tamu yang tiba di tempat acara pernikahan. Kepadatan lalu
lintas diperkirakan akan terus meningkat hingga menjelang acara akad
nikah berlangsung pada pukul 10:00 WIB.
Acara di Istana Cipanas direncanakan berlangsung hingga pukul
12:00 WIB. Selanjutnya pemangku hajat, Presiden Yudhoyono dan Hatta
Rajasa akan menggelar resepsi pernikahan di Jakarta Convention Centre
(JCC) pada Sabtu (26/11) pukul 19:00 WIB.
Sejumlah menteri dan pejabat serta mantan menteri serta duta
besar negara sahabat tampak mulai berdatangan. Antrean kendaraan dari
arah Jakarta sudah berhenti hingga pasar Cipanas. (Ant/am/aw)
Dalam
kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus
diperhatikan secara seksama oleh kedua orangtua adalah masalah
pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak-anak.
Ayah dan ibu harus membentuk kepribadian dan watak anak-anaknya yang baik dan soleh dan juga
menghormatinya. Salah satu bentuk bantuan yang bisa diberikan orangtua
untuk mendorong anak-anak mereka menjadi anak-anak yang baik adalah,
dengan mempersiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung, dimana
orangtua menyediakan lahan untuk anak-anak mereka sehingga bisa
berkembang mencapai kesempurnaannya.
Haruslah disadari bahwa setiap perilaku dan perkataan kedua orangtua, sekecil apapun itu dapat berpengaruh terhadap anak-anak, dan sekarang ini telah terbukti bahwa seluruh ucapan dan tindakan setiap manusia -kepada bayi sekalipun- dapat berpengaruh bahkan pada segala unsur fisik yang berkenaan dengannya.
Kedudukan anak
Rasulullah Saw dalam menjelaskan kedudukan anak-anak umatnya di dalam lubuk penciptaan bersabda: “Setiap cermin bayi umatku lebih aku cintai ketimbang apa yang dipancarkan matahari kepada mereka”.
Di dalam dari setiap manusia tersembunyi benih-benih kebahagiaan, yang jika dipupuk dan dipelihara dengan benar, masing-masing dari mereka akan menjadi pohon kebaikan yang nantinya akan memiliki gerak yang sesuai bagi kesempurnaan manusia. Salah satu dari benih-benih itu adalah memiliki anak yang saleh, Rasulullah Saw bersabda, “Salah satu kebahagiaan manusia adalah memiliki sahabat-sahabat yang saleh dan anak yang baik”.
Tidak sedikit hadis-hadis dan riwayat yang senada dengan ini, riwayat-riwayat yang memusatkan perhatiannya kepada lingkungan keluarga, yaitu lingkungan keluarga yang dipenuhi oleh nilai-nilai suci Ilahi dan maknawi. Surga ditumbuhi bunga-bunga yang semerbak harumnya, dan anak yang soleh adalah salah satu dari bunga-bunga itu, ia adalah bunga yang mekar di dalam lingkungan serupa surga yang diciptakan oleh ayah dan ibunya.
Anak -terlepas dari adat istiadat dan kebiasaan yang diserapnya dari masyarakat- adalah cerminan dari budaya, moral, keimanan dan nilai-nilai yang dianut dan terpatri di dalam wujud kedua orangtua dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan ayah dan ibu lah yang menumbuhkan benih-benih kesempurnaan wujudnya pada wujud anak-anak mereka. Anak-anak tidak akan tumbuh seperti yang kita inginkan, akan tetapi mereka tumbuh seperti adanya kita sekarang, sehubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt menganugerahkan anak kepada manusia dalam kondisi fitrah yang suci, jiwa yang sehat dan berbahagia, dan kedua orangtualah yang menjadikannya celaka dan tersesat layaknya diri mereka sendiri”.
Rasulullah Saw memerintahkan kedua orangtua untuk berusaha mendidik anak-anak mereka dan bersabda: “hormatilah anak-anak kalian dan hiasilah mereka dengan etika yang baik”.
Salah satu bentuk penting penghormatan kepada anak-anak dan pendidikan mereka adalah anjuran dan dorongan kepada mereka untuk melakukan shalat dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Bentuk yang lain dari etika penting dalam mendidik anak adalah memilih nama yang baik bagi mereka. Nama-nama yang dipakai oleh anggota-anggota keluarga menunjukkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut, bahkan kita dapat memahami semangat dan kecenderungan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa dari nama-nama yang mereka gunakan. Betapa banyak anak-anak yang dikarenakan kesalahan dari orangtua mereka dalam memilih nama dan pendidikan etika yang tidak benar mengalami krisis kepribadian di tengah masyarakat. Nama yang digunakan manusia memiliki peran yang menentukan dalam pendidikan dan garis hidupnya. Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib as bersabda, “Wahai Ali! Hak seorang ayah adalah memberikan nama yang baik kepada anaknya, mendidiknya dengan baik dan menempatkannya pada posisi yang layak di tengah masyarakat.”
Pendidikan sebelum pengajaran
Tujuan terpenting agama suci Islam adalah pendidikan dan perbaikan individu-individu masyarakat manusia sehingga masyarakat manusia menjadi bersih dari kotoran-kotoran dan pencemaran-pencemaran ruh dan jiwa. Jelas, bahwa tanpa pendidikan dan perbaikan, pengajaran ilmu pengetahuan dan hikmah kepada manusia bukan saja tidak akan menciptakan sebuah masyarakat ideal (madinah fadhilah), tetapi justru akan menjadi perusak masyarakat itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini Imam Khomeini berkata:
Yang menjadi ancaman bagi dunia bukanlah senjata-senjata, bayonet, roket-roket atau yang sejenisnya, apa yang sedang menjerumuskan planet ini ke jurang dekadensi adalah penyimpangan akhlak, jika tidak ada penyimpangan-penyimpangan akhlak, tidak ada satupun dari senjata-senjata ini yang membahayakan manusia. Apa yang sedang menarik manusia dan negara-negara ke jurang kehancuran dan dekadensi adalah kemerosotan-kemerosotan yang ada pada para pemimpin negara-negara yang sedang berkuasa atas pemerintahan-pemerintahan ini, mereka sedang menciptakan kemerosotan akhlak, mereka sedang menggiring seluruh umat manusia ke arah jurang kemerosotan dan dekadensi.
Rasulullah Saw dengan meletakkan program penyucian, perbaikan dan pendidikan manusia dalam agenda kerjanya, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tidak dimilikinya fasilitas-fasilitas pendidikan dan pengajaran seperti yang kita miliki di zaman ini, mampu menyumbangkan pribadi-pribadi teladan seperti Ali as dan Fathimah kepada masyarakat manusia, sehubungan dengan ini Ali as berkata:
Sesungguhnya kalian tahu kedudukan dan posisiku di sisi Rasulullah Saw, aku dibesarkan beliau di pangkuannya, dan meletakkan aku di dada mulianya sehingga tercium olehku bau harum tubuhnya, beliau menyuapi aku makanan dan beliau tidak pernah sekalipun mendapati aku berbohong dalam perkataan, dan salah dalam perbuatan.
Aku selalu bersama Rasulullah Saw layaknya anak di sisi ibunya, setiap hari beliau menancapkan panji-panji kemuliaan akhlak di dalam wujudku dan memerintahkan aku supaya mengikutinya.
Dengan menghabiskan anggaran yang luar biasa besar untuk sistem pendidikan, masyarakat manusia sampai saat ini masih belum mampu menyumbangkan kepada dunia, pribadi-pribadi seperti Imam Ali as dan para maksum (manusia suci) lain yang terdidik di sekolah Rasulullah Saw yang menjamin kesempurnaan jiwa manusia.
Akan tetapi jangan dibayangkan bahwa tercapainya kesempurnaan bagi selain manusia maksum adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena setiap manusia sesuai dengan kadar usaha dan kerja kerasnya dengan cara mengais sedikit demi sedikit ilmu dari sumber yang menjamin kesempurnaannya, dapat mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan diri dan usahanya secara baik. Tidak diragukan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang dididik di dalam keluarga-keluarga yang di sana tercium bau harum tarbiah Rasulullah Saw, tarbiah yang menjamin bagi tercapainya kesempurnaan manusia.
Kasih sayang kepada anak-anak
Selama masa hidupnya, anak-anak kita harus merasakan rasa kasih sayang semaksimal mungkin, karena Raulullah Saw dengan teladan dan tindakannya serta dengan petunjuk-petunjuknya yang terang memerintahkan umat beliau untuk melakukannya:
Rasulullah Saw di pagi hari mengelus kepala anak-anaknya dengan tangannya yang mulia. Dinukil dalam sebuah riwayat, “Suatu hari Rasulullah Saw dengan cepat menyelesaikan shalat jamaahnya dan orang-orang yang hadir pada waktu itu bertanya alasannya, beliau bersabda apakah kamu tidak mendengar suara tangis anak kecil.” Betapa Nabi Besar Islam dengan kedudukannya yang tinggi menghadapi setiap masalah dengan ketelitian.
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Allah Swt akan mencatat setiap ciuman ayah dan ibu terhadap anaknya sebagai kebaikan dan barangsiapa yang menggembirakan anaknya Allah Swt kelak di hari kiamat akan memakaikan untuknya baju yang karena cahaya baju itu, muka-muka penduduk surga akan bersinar.”
Di antara perkara penting yang patut diperhatikan dalam dalam menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak, ialah menepati janji yang diberikan oleh kedua orangtua kepada anak-anaknya. Rasulullah Saw berkenaan dengan hal ini bersabda, “Cintailah anak-anak, berkasih sayanglah dengan mereka dan setiap kali kalian berjanji kepada mereka, tepatilah janji kalian itu, karena anak-anak beranggapan bahwa mereka menerima rezeki dari tangan kalian”. Masalah lain yang menyulitkan bagi keluarga adalah tidak sejalannya orangtua dalam berprilaku terhadap anak-anak dan kurangnya perhatian kepada tuntutan seusia mereka, Rasulullah Saw bersabda: “barangsiapa yang memiliki anak, berperilakulah kepadanya layaknya seorang anak”.
Anak-anak yang bermasyarakat
Dalam agama Islam sebagai madrasah yang menjamin kesempurnaan manusia, cara hidup seperti biarawan (menyendiri) dan anti sosial dilarang untuk dilakukan. Rasulullah Saw bersabda, “Manusia adalah makhluk sosial dan agama suci Islam menekankan dan mendorong manusia untuk bermasyarakat.”
Salah satu tugas terpenting orangtua dan juga lembaga kebudayaan dan pendidikan adalah meletakkan pondasi akhlak dan pendidikan Islam terhadap masyarakat dalam berperilaku dengan sesama. Menurut Islam titik awal interaksi ini tidak lain adalah mengangkat dan menebar nilai-nilai perdamaian dan kerukunan, dan ini terlihat dari perilaku saling mengucapkan salam kepada sesama. Guna membangun pondasi nilai-nilai agung ini dalam tubuh masyarakat, Rasulullah Saw bersabda, “Selama aku masih hidup aku tidak akan meninggalkan untuk selalu memberikan salam kepada anak-anak sehingga itu menjadi karakter dalam masyarakat dalam bentuk sunah (tradisi)”.
Jika
kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain, kita akan saksikan
bahwa Rasulullah Saw dengan amal perbuatannya sedang mengajarkan kepada
umat manusia dan mengatakan kepada mereka, “Wahai sekalian manusia!
Wahai masyarakat manusia! Jika kalian ingin memiliki sebuah masyarakat
yang dipenuhi dengan kedamaian, keselamatan dan kerukunan, mulailah dari
diri kalian sendiri, hiasilah diri kalian dengan akhlak yang indah dan
amalkan semua perkataan kalian sehingga anak-anak kalian akan terdidik
dengan baik.” (Taqrib)
Disarikan dari buku Peyombar A’zam Syam e Jam e Afarinesh.
