Berbagai
ragam kesenian berkembang di lingkungan keraton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat. Para pujangga terlahir seiring dengan
kreativitas yang mendapat dukungan penuh dari Sultan sebagai raja. Bukan
itu saja dalam perkembangan selanjutnya seni merambah ke seluruh
penjuru negeri melintasi batas-batas tembok keraton
DI bidang seni sastra sebut misalnya Serat Ambiya, Serat Muhammad, Serat Tajus Salatin dan sederet naskah seni sastra yang mendasarkan kepada ajaran Islam. Meski sebatas di dalam perpustakaan keraton dan berserakan dalam bentuk manuskrip namun memberi khasanah naskah berciri khas Islam.
Sedangkan dalam bentuk seni suara berkembang misalnya seni Macapat, Langen Swara, Shalawatan. Ragam kesenian ini lebih populer di masyarakat selain berkembang di dalam tembok keraton. Seni suara member warna dalam kehidupan di masyarakat luas sehingga mudah dikenali dan ditemukan di berbagai kelompok masyarakat. Sebagaimana seni kaligrafi di bangunan masjid dan kraton.
Seni musik memiliki kharakteristik campuran, selain hidup di lingkungan kraton juga taersebar di masyarakat. Gamelan sekaten dan seni pedalangan serta tokoh punokawan dalam pewayangan. Semuanya mudah ditemukan di masyarakat meski bersumber dari dalam kraton sehingga menjadi kolaborasi yang baik dalam perkembannya di masa-masa selanjutnya.
Peradaban Islam bersumber dari ajaran dan teladan Nabi Muhammad SAW. Hikmah Kenabian mengajarkan, bahwa kekuasaan itu memang digilirkan antarbangsa Hanya dengan kepemimpinan yang berorientasi menjadi teladan dan melayani rakyatnya prinsip pamong, suatu Bangsa akan menjadi besar.
Pelajaran sejarah dari masa pembentukan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyatukan antara rakyat dan raja dan memiliki tradisi bersatu sejak zaman perjuangan Panembahan Senopati. Hal hal itu terjadi lagi khususnya di masa perjuangan merebut kemerdekaan, Sultan HB IX berjuang bersama rakyatnya.
Demikian juga, antara budaya dan agama Islam telah senafas, dengan penonjolan pada simbol budaya Jawa. Dalam budaya Yogyakarta, dapat di mulai dari mengerti kaedah kehidupan dasar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta Prinsip rukun, untuk mewujudkan dan mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis tenang, selaras, tentram, bersatu saling membantu.
Prinsip hormat memainkan peran yang besar dalam mengatur pola interaksi sosial masyarakat Jawa. Rasa saling menghormati ini memiliki peran yang besar dalam masyarakat Yogyakarta.
Selain dua kaedah dasar diatas, masyarakat Yogyakarta memiliki beberapa nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupannya. Nrimo, mensyukuri kepada apa yang telah diperoleh, dan jika terjadi sesuatu halangan setelah diusahakan, maka mereka nrimo atau pasrah kepada Allah, menyadari sudah menjadi kehendaknya (nrimo ing pandum). Menurut ajaran Islam, sikap mensyukuri karunia Allah SWT, merupakan kewajiban bagi seorang hamba, dan Allah SWT akan memberikan berkah karunia yang lebih banyak dimasa mendatang.
Sabar Sing Sabar Subur, artinya orang yang sabar itu akan mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan. Dalam menyelesaikan masalah tidak boleh gegabah, dalam mengusahakan sesuatu tidak nggege mangsa, menurut prosedur yang benar, dilakukan dengan penuh kesabaran.
Gotong royong, nilai kebersamaan yang saling peduli, saling membantu meringankan beban dalam kehidupan bermasyarakat. Ajaran gotong royong ini, dapat ditelusuri dari ajaran Islam, yang menganjurkan,”Bertolong-tolonglah kamu dalam perbuatan baik berdasarkan takwa”.
Takwa di masyarakat Jawa, takwa merupakan pakaian dalam kehidupan,
yaitu diajarkan dekat dengan Allah SWT. Dengan mentaati perintah dan
larangan-Nya. Takwa ini disimbolkan dengan baju takwo.
Rembug bareng, dalam memutuskan sesuatu yang mengandung harkat,
kepentingan orang banyak selalu diadakan rembug bareng, sering juga
disebut rembug deso. Hal ini sinonim dengan ajaran Islam, yang diadopsi
bangsa Indonesia, yakni musyawarah.
Teposeliro, memahami dan menghormati perasaan orang lain, dalam
rangka menjaga persaudaraan, dan menjauhkan dari segala macam konflik.
Tepa-slira dalam ajaran Islam, dikenal denga istilah tafahum saling
memahami dalam perbedaan atau dalam bahasa Indonesia disebut toleran.
Ojo dumeh. Dilarang berbuat kibir (takabur atau sombong), dan merendahkan orang lain. Dalam budaya politik, ada beberapa segi budaya politik Yogyakarta yang bisa dikembangkan sebagai khasanah budaya demokrasi Yogyakarta. Seperti : pejabat negara mendapatkan status sebagai Pamong sama dengan Pangon yang artinya penggembala. Makna yang terkandung di dalamnya ialah pejabat negara sebagai pelayan ummat, yang melindungi, mengusahakan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Zaman dulu tidak menggunakan kata pemerintah yang berkonotasi tukang perintah. Sesungguhnya istilah pamong lebih tepat untuk budaya Yogyakarta sinonim dengan kata ro’in yang berarti penggembala atau mengelola.
Sifat budaya masyarakat Yogyakarta, yang telah mengakar, dan senafas dengan ajaran Islam. Islam, sebagai dasar nilai budaya masyarakat Yogyakarta. Tentu saja diperlukan kajian lebih lanjut untuk merumuskan nilai dan budaya masyarakat Yogyakarta yang dinamis, secara komprehensif.
Pangeran Mangkubumi pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Putra Amangkurat IV seorang pejuang yang taat beragama., Shalat lima waktu tidak pernah ditinggalkan, gemar mengaji bahkan hafal sebagian ayat-ayat Al- Qur’an, dan melakukan puasa senin dan kamis, peduli pada fakir miskin, kaum yang lemah di pedesaan (Serat Cebolek).
Ketika Perang melawan Belanda, Pangeran Mangkubumi selalu membuat mushola, di pos-pos pasukannya di pedesaan. Mushola itu difungsikan untuk jama’ah shalat fardlu, juga untuk menshalatkan para syuhada yang gugur dalam perjuangan.
Setelah Perjanjian Giyanti, Panembahan Senopati, dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I, dengan gelar, Sri Sultan Hamengkubuwana Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ing Ngayogyakarta.
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak berdiri sebagai kerajaan Islam. Hal ini jelas tercantum dalam dari gelar yang disandang raja, juga dari simbol-simbol yang dicantumkan dalam bangunan fisik maupun karya sastranya, serta upacara-upacara budaya yang bernafaskan Islam.
Kraton menghidupkan tuntunan Islam (Syari’at), yaitu antara lain menjalankan hukum Islam dengan membuat Mahkamah Al Kaburoh di Serambi Masjid Gedhe Kauman, membuat Masjid Kerajaan (Masjid Gedhe), Juga membuat Masjid Pathok Negara (batas negara agung/IbuKota), dilengkapi tanah perdikan (mirip tanah wakaf) untuk pesantren.
Dibangun pula Masjid Panepen (untuk nenepi/i’tikaf) Sultan, letaknya
didalam Keraton. Masjid Suronoto untuk Sholat para abdi dalem letaknya
di Keben. Selain masjid, dalam struktur kraton juga terdapat pejabat
yang mengurusi perkembangan agama Islam, yang dikepalai penghulu
keraton, dibantu kaji selusinan, dan para ketib.
Keraton Yogya juga menghidupkan upacara-upacara budaya yang
bernafaskan Islam, yang dirintis sejak Zaman Kerajaan Demak dan Mataram
Islam. Seperti: Sekaten, Gerebeg Mulud (untuk memperingati Maulid Nabi
Muhamad SAW); Grebeg Syawal dan Silahturahmi Sultan dengan Rakyat (
Untuk menyambut Idul Fitri); Grebeg Besar (memperingati Hari Raya Idul
Adha); tidak lupa Sultan membagikan Zakat Fitrah dan Hewan Qurban.
Keturunan Sultan, Sentana Dalem bila akan menikah harus dengan sesama Muslim. Pernikahan dan pembagian waris di Kraton juga menggunakan hukum Islam. Di dalam lingkungan benteng Keraton (njeron benteng) tidak boleh ada warga asing China, dan tidak diperbolehkan berdiri tempat ibadah kecuali hanya masjid. Awalnya setiap Jum’at Kliwon, Sultan khutbah di Masjid Gedhe, dan juga tidak dilarang ibadah haji.
Penjajah Belanda mencurigai patriotik melawan Belanda terpengaruh
ibadah haji bagi. Sejak itu Sultan dilarang beribadah haji. Selain itu,
Sultan juga dibatasi untuk sholat di Masjid Gedhe, tidak boleh khutbah,
dalam rangka memisahkan silahturahmi dan kharisma dengan rakyatnya.
Terhadap karyatulis resmi kerajaan, mendapatkan sensor ketat, sehingga
mematikan kreativitas para pujangga keraton. (djo)

Jakarta. Man jadda wajada alias siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,...
Read more...Produk unggulannya diberi nama Fin Komodo. "FIN itu singkatan dari Formula Indonesia. Nah...
Read more...CIANJUR. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyelenggarakan pernikahan putera keduanya...
Read more...CIPANAS. Lalu lintas kawasan Cipanas khususnya di sekitar Istana Cipanas sekitar pukul 08:00...
Read more...Pasangan calon pengantin KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GKR Bendara (Jeng Reni),...
Read more...Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus diperhatikan secara...
Read more...Kepribadian dan kemuliaan diri dapat terbangun dengan upaya dan kerja. Siapa yang ingin menjadi...
Read more...Seorang Guru Sufi sedang berkelana seorang diri melewati daerah pegunungan yang tandus, tiba-tiba...
Read more...Berbagai ragam kesenian berkembang di lingkungan keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat....
Read more...ALHAMDULILLAH, Idul Fitri telah berlalu. Dengan segala hiruk-pikuk “hisab“ dan “ru’yat”,...
Read more...