Kepribadian dan kemuliaan diri dapat terbangun dengan upaya dan kerja.
Siapa yang ingin menjadi orang yang berguna dan terhormat di tengah-tengah masyarakat, ia harus berusaha dan bekerja. Hanya dengan terlibat dalam kegiatan di masyarakat dan bekerja, kepribadian seseorang akan terbentuk dan semakin jelas.
Generasi muda hendaknya memahami bahwa senang menganggur dan malas merupakan pukulan terberat yang dapat menjatuhkan kepribadian dan harga diri masyarakat mereka. Sebaliknya bekerja dan berusaha memberikan kedudukan yang lebih baik dan kemuliaan kepada mereka. Mereka akan memperoleh kemerdekaan, sifat-sifat mulia, kemandirian, dan kemuliaan. Di samping menjelaskan bahwa bekerja itu merupakan keharusan atas orang yang hidup di dunia sebagai sebagai upaya memenuhi kebutuhannya, Islam juga memerhatikan pengaruhnya dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam diri setiap muslim.
Mua’lla bin Khunais mengisahkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as mendapati dirinya terlambat ke pasar, lalu berkata, “Hendaknya sejak pagi kamu berusaha memperoleh kemuliaanmu.”1
Seorang lelaki berkata kepada Imam Ja’far Shadiq as, “Aku tidak bisa melakukan pekerjaan dengan tanganku secara baik dan aku pun tidak mengerti bagaimana berdagang secara benar, lalu apa yang harus aku lakukan?”
Beliau berkata, “Bekerjalah, berpikirlah, dan dengan perantara ini buatlah dirimu menjadi tak bergantung kepada orang lain.”2
Jadi, Imam as ingin mengatakan, bekerjalah, berpikirlah untuknya, dan jangan kamu utarakan kebutuhanmu kepada orang lain. Karena, menganggur dan bergantung kepada orang lain akan dapat menjatuhkan harga diri. Ya, menganggur itu mewarisi kebergantungan dan mendorong seseorang untuk menginginkan harta orang lain yang secara pasti menyebabkannya terhina.
Imam Kazhim as berkata, “Putus asa dan tak mengharapkan apa yang ada pada genggaman orang lain membuat mukmin menjadi mulia, terhormat di dunia dan di mata orang lain, besar di hadapan orang-orang terdekat dan kebanggaan keluarga. Orang seperti ini adalah orang yang paling mandiri dan tak bergantung di mata dirinya sendiri dan orang lain.”3
Perlu kami ingatkan poin penting ini bahwa bekerja dengan semua nilai dan manfaatnya, bisa muncul dari pelbagai motivasi yang sebagian darinya tidak terpuji. Umumnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Tetapi, janganlah hal ini dijadikan satu-satunya dorongan bekerja. Hendaknya di samping bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadinya juga didasarkan pada keinginan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Khususnya, bila orang lain itu adalah famili, keluarga, dan tetangga, maka sesuai dengan kemampuan kita, tak seharusnya kita lupakan. Jika keinginan ini mendasari usaha kita dalam mencari rezaki, usaha dan bekerja kita menjadi kegiatan yang terpuji dan tidak menyebabkan kita menjadi penyembah dunia, bahkan sebenarnya juga upaya kita meraih kebahagiaan akhirat.
Seorang lelaki berkata kepada Imam Ja’far Shadiq as, “Demi Allah, aku adalah orang yang sangat keras dalam mencari dunia, karena aku ingin memiliki harta yang berlimpah. Bagaimana dengan keadaanku ini?”
Beliau berkata, “Apa yang kamu ingin lakukan dengan harta itu?”
Ia berkata, “Aku ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan diriku dan keluargaku, menolong familiku, membantu orang-orang miskin, dan melaksanakan ibadah umrah dan haji.”
Imam as berkata, “Apa yang kamu lakukan ini bukan mencari dunia melainkan upaya meraih kebahagiaan akhirat.”4
Tetapi, jika seseorang bekerja dan berusaha bukan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluargannya serta membantu orang lain, pekerjaannya itu tidaklah terpuji.
Usaha yang Halal dan Haram
Persoalan penting lainnya yang juga harus diperhatikan ialah bahwa bekerja mesti memberikan keuntungan, baik, dan bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat. Sedangkan, pekerjaan-pekerjaan yang merugikan diri sendiri dan masyarakat, membahayakan tubuh dan jiwa, atau dapat merusak akhlak dan moral masyarakat, dalam Islam tergolong hal-hal yang tak terpuji dan terlarang.
Setiap muslim bebas mencari harta, sejauh tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain. Berdasarkan hal ini, dalam Islam usaha dan bekerja terbagi kedalam dua kategori. Pertama, syar’i dan halal, seperti bertani, berternak, wiraswasta, berdagang dengan cara yang benar, mengajar dan mendidik, dan semua usaha yang menguntungkan dan tak merugikan orang lain. Kedua, tak syar’i dan haram, seperti menjual minuman keras, berjudi, menjual alat-alat berjudi dan musik, riba, dan usaha-usaha lainnya yang akan dibahas pada bagiannya.
Islam mengharuskan setiap muslim memahami jenis-jenis usaha yang halal dan haram dan mempelajari hukum yang terkait dengannya sebelum melakukannya, agar dikemudian hari tak melakukan pelanggaran dalam usaha.
Imam Ali as pernah menyampaikan ceramahnya, “Wahai para pedagang, pahami lebih dulu hukum setelah itu perdagangan, hukum setelah itu perdagangan, hukum setelah itu perdagangan… Demi Allah, pemakan riba dari umat ini jauh lebih tersembunyi dibandingkan dengan langkah-langkah semut yang sangat pelan di atas batu yang keras.”5
Selama seorang muslim belum memahami detail syarat-syarat berdagang dan belum mengerti dengan baik hukum muamalah, maka ia akan terjerumus kedalam riba.
Pengaruh Bekerja pada Moral
Mesti dipahami bahwa kegiatan dan kreativitas seseorang berpengaruh langsung terhadap moralnya. Maka itu, jika seseorang tidak teliti dalam memilih bidang usaha yang akan dijalaninya, maka bukan mustahil ia akan menjalani usaha-usaha yang haram demi memuaskan hawa nafsunya, sehingga ia lebih berbahaya bagi dirinya dibandingkan orang lain dan dapat menghancurkan kepribadiannya.
Pada dasarnya, pekerjaan yang haram tidak dapat menciptakan jiwa yang bersih dan menonjol. Lingkungan kerja seseorang pun berpengaruh kuat pada pembentukan karakter dirinya. Karena itu, orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan tidak dapat menjadi pribadi yang mulia dan terhormat. Jadi, dalam memilih jenis pekerjaan harus dengan penuh kesadaran. Karena, setiap jenis pekerjaan yang akan dijalani cepat atau lambat akan membentuk watak kepribadian seseorang.
Bahkan, tak hanya kita harus menjauhi semua bentuk usaha yang haram, kita pun harus memerhatikan dan teliti dalam memilih usaha-usaha yang halal, karena tujuan kita sebenarnya memilih pekerjaan yang lebih berkualitas dan dapat memberikan manfaat yang jauh lebih banyak. Imam Ja’far Shadiq as pernah bersabda, “Allah menyukai pekerjaan-pekerjaan mulia dan membenci yang rendah dan ringan darinya.”6
Tanggung Jawab Orang Tua pada Usaha Anak-anaknya
Penjelasan lainnya yang menguatkan nilai bekerja dalam Islam ialah masalah tanggung jawab orang tua pada usaha anak-anaknya. Dalam pandangan Islam, termasuk tanggung jawab orang tua ialah memerhatikan dan membantu memilihkan pekerjaan yang baik bagi anak-anaknya dengan cara yang bijaksana.
Rasulullah saw pernah menerangkan masalah hak anak atas orang tuanya kepada Imam Ali as. Di antaranya beliau bersabda, “Hak anak atas oang tuanya ialah mereka memberi nama yang baik kepadanya, mendidiknya dengan baik, dan mendorongnya untuk melakukan pekerjaan yang baik.”7
Pelajaran yang terkandung dalam riwayat di atas adalah masalah terpenting dalam dunia pendidikan yang tak boleh dilupakan oleh para orang tua.
Catatan Kaki
1. Wasail al-Syi’ah, jilid 12, hal.3
2. Al-Wafi, jilid 3, hal.8
3. Safinat al-Bihar, jilid 2, hal.327
4. Wasail al-Syi’ah, jilid 12, hal.19.
5. Ibid., hal.282.
6. Ibid., hal. 47.
7. Ibid., jilid 15, hal.123-124.
* Diterjemahkan dari Arzisye Kor wa Ihtirom be Korgar oleh Yusuf Anas..

Jakarta. Man jadda wajada alias siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,...
Read more...Produk unggulannya diberi nama Fin Komodo. "FIN itu singkatan dari Formula Indonesia. Nah...
Read more...CIANJUR. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyelenggarakan pernikahan putera keduanya...
Read more...CIPANAS. Lalu lintas kawasan Cipanas khususnya di sekitar Istana Cipanas sekitar pukul 08:00...
Read more...Pasangan calon pengantin KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GKR Bendara (Jeng Reni),...
Read more...Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus diperhatikan secara...
Read more...Kepribadian dan kemuliaan diri dapat terbangun dengan upaya dan kerja. Siapa yang ingin menjadi...
Read more...Seorang Guru Sufi sedang berkelana seorang diri melewati daerah pegunungan yang tandus, tiba-tiba...
Read more...Berbagai ragam kesenian berkembang di lingkungan keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat....
Read more...ALHAMDULILLAH, Idul Fitri telah berlalu. Dengan segala hiruk-pikuk “hisab“ dan “ru’yat”,...
Read more...