Selain macet dan banjir, Jakarta kini juga didera krisis air bersih.
Pasca jebolnya tanggul Kalimalang, Jakarta Timur, beberapa daerah di
Jakarta masih kekurangan air bersih sampai kini. Dinilai tak becus,
Pemprov DKI didesak menghentikan kontrak dengan operator air bersih PT
Palyja dan PT Aetra.
Menanggapi krisis air, anggota DPRD DKI Jakarta, Hidayat Yasin menyatakan, warga Jakarta harus mendapatkan kompensasi. “Bebaskan biaya pembayaran tagihan air untuk tiga bulan ke depan, terhitung dari September 2011. Sebab, kelangkaan air bersih membuat 65 persen lebih warga ibukota menderita. Terlebih yang tinggal di kawasan padat penduduk,” ucapnya.
Hidayat menegaskan, operator air adalah pihak yang bertanggungjawab atas kelangkaan ini. Dia juga sepakat dengan pernyataan Wakil Gubernur DKI Prijanto akhir pekan lalu yang mengatakan, operator air di ibukota tak melakukan antisipasi yang baik. Sehingga saat ada kejadian mendadak seperti jebolnya tanggul dan Pintu Air, berakibat pada kelangkaan air.
“Kelangkaan air bersih sepenuhnya kesalahan operator. Sudah sepantasnya mereka memberi kompensasi kepada masyarakat selaku pihak yang dirugikan,” pinta Prijanto.
Lebih lanjut, Hidayat juga mengaku telah melakukan pembicaraan di tingkat komisi, untuk secepatnya memanggil operator air bersih yang ada. Tujuannya, menanyakan mengapa kelangkaan air bisa terjadi dan mengapa tidak ada antisipasi. “Kawan-kawan di komisi juga mendesak operator air di Ibukota dievaluasi,” terangnya.
Pengamat perkotaan dari Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu menyatakan, krisis air di Jakarta terjadi bukan hanya saat tanggul Kalimalang jebol. Beberapa waktu sebelumnya, warga Jakarta juga sering kekurangan air.
Menurut Tom, penyediaan air bersih dan air minum di Jakarta, kualitas dan kuantitasnya semakin menurun. Bahkan sering mati tanpa alasan yang jelas, hal ini merupakan kesalahan Pemrov DKI.
Sesuai data yang dimilikinya, pada November 2007 Air PAM mati selama lima hari berturut-turut. Pada 2008 Air PAM Keruh dan bau. Kemudian pada Agustus 2011, air PAM mati selama 10 jam, dan pada 1 September 2011 Air PAM mati dari jam 06.00 hingga jam 19.00 WIB.
Karena itu, dia meminta PAM Jaya agar memutus kerjasama dengan Palyja dan Aetra. Tom menilai, kinerja kedua perusahaan asing tersebut tidak berpengaruh positif bagi kebutuhan air bersih di Jakarta. “Justru malah merampok aset milik PAM,” cetusnya.
Masih dari data yang dimiliki KP3I, ungkap Tom, kedua perusahaan tersebut merampok aset milik PAM Jaya senilai Rp 1,7 triliun dan biaya depresiasi atas aset yang digunakan dibebankan kepada PAM Jaya sebesar Rp 960 miliar.
Sebelumnya, KP3I, masih menurut Tom, kemarin telah menyampaikan data soal Palyja dan Aetra ke Jampidsus Kejagung RI sebagai bukti awal. Kasus ini menurutnya juga telah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun sampai saat ini tidak ada upaya Jampidsus Kejagung dan KPK menuntaskan kasus tersebut.
“Akibatnya penderitaan masyarakat Jakarta semakin berkepanjangan, dikarenakan perampokan aset PAM Jaya dibebankan kepada rakyat Jakarta dengan cara kenaikan tarif,” tuturnya.
Jebolnya tanggul Kalimalang yang menyebabkan pasokan bahan baku ke Palyja dan Aetra terhambat. Lanjut Tom, membuktikan Palyja dan Aetra tak memiliki keahlian dan dana, serta sumber lainnya berkaitan rancangan dan konstruksi sesuai di <I>Memorandum of Understanding (MOU). Sebab Aetra dan Palyja membeli bahan baku dari Perum Jasa Tirta II. Jadi jebolnya tanggul Kalimalang dia nilai tak ada hubungannya dengan terhentinya distribusi air bersih. “Sebab masih banyak sumber air baku yang dapat dimanfaatkan pihak Aetra dan Palyja yang memiliki dana dan keahlian,” tegasnya.
Masyarakat, jelas Tom lagi, mesti tahu, jebolnya tanggul Kalimalang sepenuhnya tanggungjawab Perum Jasa Tirta II, di bawah Kementerian PU sebagai pengelola Kalimalang. Kemudian, Palyja dan Aetra hanya sebatas membeli bahan baku dari Perum Jasa Tirta II.
Untuk itu, Tom menghimbau, kalau perlu warga Jakarta tidak perlu membayar tagihan mulai bulan September 2011, sebelum Pemprov DKI Jakarta memutus hubungan kerjasama dengan Palyja dan Aetra. “Kita menghimbau agar pada 20 September, masyarakat Jakarta jangan membayar rekeningnya, sampai adanya pemutusan MOU dari dua perusahaan asing tersebut,” ucapnya.
Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Marlo Sitompul mengatakan, sampai detik ini di beberapa pemukiman padat penduduk di DKI Jakarta Tambora, Penjaringan, Kembangan dan beberapa di wilayah lainnya, air PAM masih belum mengalir.
“Harusnya Menteri PU dan Direksi Palyja minta maaf kepada warga DKI atau mundur. Karena gagal mengurus air bersih. Kalau membayar PAM tidak tepat waktu dicabut pipanya, ini tidak adil dong,” pungkasnya. (red)

Balikpapan, Kalimantan Timur. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyiapkan investasi...
Read more...Sebelumnya kapal yang diduga mengangkut sekitar 250 orang pencari suaka ini tengegelam akibat ...
Read more...Sebelumnya kapal yang diduga mengangkut sekitar 250 orang pencari suaka ini tengegelam akibat ...
Read more...BENGKULU. Para petani di Desa Srikoncoro Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu mulai...
Read more...TKI bernama Juju Juhana asal Desa Karangsembung, Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, meninggal...
Read more...Ditengah konflik antara umat muslim dan kristen di Indonesia, kabar mengejutkan datang dari...
Read more...Banyuwangi. Seringkali asset pemerintah dimanfatatkan oleh oknum PNS yang tidak bertanggung...
Read more...Selain macet dan banjir, Jakarta kini juga didera krisis air bersih. Pasca jebolnya tanggul...
Read more...Jakarta. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyampaikan enam rekomendasi terkait proyek...
Read more...Undang-undang mensyaratkan izin Jaksa Agung jika ingin memeriksa jaksa aktif. Tapi, Antasari...
Read more...