Rencana pemerintah membentuk BUMN Pangan, salah satunya BUMN sektor produksi, dinilai sudah tepat oleh pakar pertanian dari Universitas Brawijaya, Sudiarso. Namun, menurut Sudiarso, rencana itu belum cukup untuk menciptakan ketahanan pangan.
Ia menilai, masih diperlukan penguatan di sektor lain, seperti sektor proses dan distribusi pangan. Karena itu, Sudiarso tidak sependapat jika tiga sektor, yaitu produksi, pasca produksi dan distribusi, digabungkan menjadi satu BUMN.
“Karena justru bisa mengganggu fungsi BUMN tersebut ketika terjadi masalah pada salah satu sektor,” ujar Sudiardo kepada wartawan, di Jakarta, kemarin.
Karena itu, katanya, peran Badan Urusal Logistik (Bulog) sebagai distributor sekaligus stabilisasi harga sangat penting, terutama di zaman liberalisasi sekarang ini.
Sudiarso lalu merujuk pada salah satu isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pangan yang kini sedang digodok pemerintah dan DPR. Di situ ditegaskan, kelembagaan pangan bakal direvisi dengan dibentuknya Badan Otoritas Pangan (BOP).
Dalam pembahasan regulasi pangan itu, BOP diposisikan sebagai regulator, sedangkan fungsi operator masih terus dicari formulanya.
Pakar pertanian Universitas Hasanudin Saleh Ali juga menyatakan kurang setuju wacana penggabungan sektor produksi, proses pasca produksi dan distribusi menjadi satu BUMN.
Menurutnya, masing-masing sektor memiliki risiko berbeda. Jika ketiga sektor itu digabungkan, ketika terjadi masalah pada sektor produksi yang mengakibatkan gagal panen, maka akan mengganggu keseluruhan kegiatan yang ada, baik sektor proses maupun distribusi. Berbeda halnya jika ketiga sektor itu dipisah.
“Misalnya, ketika sektor proses produksi terganggu yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan pangan, maka sektor distribusi bisa menggantikannya dengan melakukan pengadaan pangan. Salah satunya dengan impor,” terang Saleh.
Tentang peran distribusi pangan selama ini, menurut Saleh, peran Bulog tidak bisa dinafikkan. Sebab, Bulog juga berperan sebagai stabilisasi harga dan mengelola stok dan cadangan.
“Dengan fasilitas yang lengkap dan jaringan kuat di seluruh wilayah Nusantara, peran Bulog perlu diperkuat, bukan malah dipreteli,” belanya.
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berniat membentuk BUMN Pangan yang besarnya 10 kali dari Bulog. BUMN Pangan ini terdiri dari PT Pusri, PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani.
Menurut Dahlan, BUMN Pangan itu penting mengingat sejak zaman otonomi, pemerintah pusat tak lagi memiliki ‘tangan untuk ke sawah’. Sejak otonomi daerah, yang mengontrol produksi beras adalah bupati.
“Tapi apa bupati punya passion untuk terjun ke sawah?” tanya Dahlan kala itu.(hrm)

Jakarta. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, pembayaran penambahan konsumsi bahan...
Read more...Jakarta. Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) benar-benar semakin memiskinkan...
Read more...Rencana pemerintah membentuk BUMN Pangan, salah satunya BUMN sektor produksi, dinilai...
Read more...Rencana pemerintah membentuk BUMN Pangan, salah satunya BUMN sektor produksi, dinilai...
Read more...Jakarta. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan Sisa Anggaran Lebih (SAL) dari Anggaran...
Read more...Depok.Indonesia dinilai semakin baik dalam membenahi perekonomiannya. Sebagai salah satu...
Read more...Perekonomian Indonesia yang domestic-driven, selain konsumsi domestik yang berkontribusi...
Read more...JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam memperkirakan kerugian akibat aksi...
Read more...Jakarta. PT Freeport Indonesia (PTFI) ngotot membayar gaji pegawainya sebesar 2 dolar AS atau...
Read more...Diperkirakan sebanyak 80 persen areal penanaman Kedelai akan dipanen sehingga pasar berekspetasi...
Read more...