Seoul. Saking seriusnya curhat-curhatan, Presiden AS Barack Obama dan
Presiden Rusia Dmitry Medvedev tidak sadar mikrofon masih aktif. Alhasil
pembicaraan pribadi mereka terungkap ke publik.
Obama terdengar meyakinkan Medvedev bahwa dia memiliki fleksibilitas terkait sistem pertahanan rudal yang kontroversial hingga setelah pemilihan presiden pada November.
Perbicangan terjadi pada akhir pertemuan 90 menit antara Medvedev dan Obama di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Nuklir di Seoul, Korea Selatan, Senin (26/3). Obama meminta Presiden terpilih Rusia Vladimir Putin memberinya ruang untuk menyelesaikan isu tersebut.
Dengan nada berbisik Obama mengatakan kepada Medvedev, “Menyangkut semua isu kontroversial, terutama sistem perisai rudal, dapat diselesaikan. Tetapi penting baginya (Putin) untuk memberi saya ruang.”
Medvedev membalas,“Ya, saya mengerti. Saya mengerti pesan Anda tentang ruang. Ruang untuk Anda. Saya akan menginformasikan ke Putin.”
Dalam dialog selanjutnya suara Obama terdengar menekankan. “Ini adalah pemilihan terakhir saya. Setelah pemilu usai, saya akan lebih santai dan lebih fleksibel,” kata Presiden AS ke-44 itu.
Percakapan itu memicu peringatan di kalangan para pengecam Obama tentang komitmen jangka panjangnya terhadap sistem pertahanan rudal yang dipromosikan sebagai perisai untuk melindungi Eropa dari serangan rudal Iran. Nah, Rusia takut sistem itu ditujukan untuk mereka dan penentangan terhadap perisai rudal itu merupakan tema utama kampanye Putin yang sukses terpilih kembali menjadi presiden.
Kesalahan tanpa sengaja itu dengan segera dimanfaatkan para lawan Obama dari bakal calon (balon) presiden Partai Republik. Obama dituding tengah menyembunyikan sesuatu. Namun, Obama telah menepis semua spekulasi yang berkembang terkait percakapan mereka yang sebenarnya bukan konsumsi publik.
Balon Republik Newt Gingrich mengatakan, Obama sedang “mengejek” dan merencanakan untuk “menjual” program pertahanan rudal AS. Partai Republik mengatakan, pernyataan Obama bahwa dia lebih punya keleluasaan untuk menghadapi rakyat AS setelah pemilihan presiden seolah bahwa ia punya sejumlah rencana bermasalah yang dia rahasiakan dari rakyat AS.
“Rusia bukan karakter ramah di panggung dunia. Untuk ini presiden mencari fleksibilitas yang lebih besar, di mana dia tidak harus menjawab rakyat Amerika dalam hubungannya dengan Rusia. Ini sangat, sangat mengganggu. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata penantang terkuat balon Partai Republik, Mitt Romney.
Ketua Kongres AS John Boehner menimpali,“Kami berharap untuk mendengar apa yang Obama maksud dengan ‘keleluasaan yang lebih’ ketika ia kembali dari Korea Selatan.”
Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS, Ben Rhodes, mengatakan, kedua pemimpin itu sedang berbicara tentang keberatan Rusia terhadap sistem pertahanan rudal dan sepakat untuk bicara lagi nanti karena masalah politik di kedua belah pihak.
Sejumlah analis berspekulasi bahwa AS mungkin sedang mencoba untuk
bisa menenangkan Rusia dengan menunjukkan kepada mereka data rahasia
guna membuktikan bahwa sistem itu dapat menghentikan peluncuran rudal
Iran, tetapi tidak dengan peluncuran rudal balistik antarbenua Rusia.
Beberapa ahli berpikir bahwa hal itu untuk membujuk Rusia. (am/aw/ads)
WASHINGTON. Presiden AS Barack Obama,
Selasa (6/3/2012), membantah pendapat bahwa Washington harus memutuskan
dalam waktu dua bulan ke depan apakah akan melancarkan serangan terhadap
instalasi nuklir Iran. Obama mengatakan, perang "bukan sebuah
permainan".
Dalam jumpa pers di Gedung Putih, Obama kembali
menyatakan, ia yakin "jendela kesempatan" tetap ada pada tahap ini bagi
penyelesaian secara diplomatik sengketa mengenai program nuklir Iran
yang kontroversial. "Bukan itu pandangan saya. Itu (perang segara)
pandangan para pejabat senior intelijen kami. Itu pandangan para pejabat
senior intelijen Israel," katanya.
Ia menyatakan, Iran
"merasakan gigitan" dari sanksi yang melumpuhkan yang diberlakukan
terhadap negara Persia tersebut dan secara politik terkucil. "Pendapat
itu bahwa bagaimanapun ada pilihan yang harus kami ambil dalam satu atau
dua pekan ke depan atau satu-dua bulan, tak didukung fakta," kata
Obama.
Ia mengecam para lawan politiknya karena "sikap
serampangan" mereka dalam membicarakan perang dengan Iran. Ia
mengatakan, perang punya dampak bagi kehidupan rakyat, keamanan
nasional, dan ekonomi Amerika. "Orang-orang itu tak memiliki banyak
tanggung jawab. Mereka bukan panglima tertinggi," tegas Obama. "Ini
bukan sebuah permainan, dan tak ada yang asal-asalan mengenai hal itu."
Namun,
Obama gagal membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam
pertemuan mereka di Gedung Putih, Senin lalu, untuk menahan aksi militer
sepihak terhadap instalasi nuklir Iran dalam beberapa bulan mendatang.
Presiden AS itu telah mendesak Netanyahu untuk memberi lebih banyak
waktu agar diplomasi dan sanksi berhasil.
"Tak seorang pun dari
kita bisa menunggu lebih lama lagi," kata Netanyahu kepada American
Israel Public Affairs Committee (AIPAC), kelompok lobi pro-Israel yang
sangat berpengaruh di Washington, pada Senin malam. "Sebagai Perdana
Menteri Israel, saya takkan pernah membiarkan rakyat saya hidup di bawah
bayang-bayang pemusnahan," kata Netanyahu.
Dalam keterangan pers
di Gedung Putih itu, Obama kembali mengatakan, Israel adalah negara
berdaulat yang harus mengambil keputusan sendiri mengenai cara terbaik
untuk memelihara keamanannya. "Seperti yang saya telah katakan dalam
beberapa hari terakhir, saya sangat sadar preseden sejarah yang
membebani setiap Perdana Menteri Israel, ketika mereka berpikir tentang
potensi ancaman terhadap Israel dan tanah air Yahudi," katanya.
Namun,
ia mengingatkan tentang aksi militer yang terlalu dini dan mengatakan,
itu bukan hanya masalah konsekuensi bagi Israel, tapi juga buat Amerika
Serikat. "Saya pikir ini sangat penting bagi kita untuk berhati-hati,
bijaksana, melakukan pendekatan secara sadar dengan apa yang merupakan
masalah nyata," katanya.
Ia kembali mengatakan, dirinya tidak
sedang mengupayakan kebijakan penahanan diri, tapi kebijakan untuk
mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga mendesak Iran agar datang
ke meja dan berunding dengan cara "yang jelas dan terang-terangan" demi
membuktikan kepada masyarakat internasional tentang keinginan damai
dari program nuklirnya. "Karena jika mereka meraih senjata nuklir yang
dapat memicu perlombaan senjata di kawasan, itu akan merusak tujuan
nonproliferasi kita, itu bisa berpotensi jatuh ke tangan teroris,"
jelasnya. "Mereka tahu bagaimana melakukan itu (berunding)," lanjut
Obama.(am/aw/ads)
Moskow.
Pemerintah Rusia terus mengingatkan pemerintah Israel
untuk tidak melancarkan serangan ke Iran. Diingatkan bahwa serangan
militer tersebut akan mendatangkan bencana bagi wilayah Timur Tengah dan
kemungkinan seluruh sistem hubungan internasional.
"Skenario
aksi militer terhadap Iran akan menjadi bencana bagi wilayah dan
kemungkinan seluruh sistem hubungan internasional," kata Wakil Menteri
Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov seperti diberitakan Press TV, Kamis (23/2/2012.
"Karena
itu saya harap Israel memahami semua konsekuensi ini... dan mereka juga
harus mempertimbangkan konsekuensi tindakan tersebut bagi mereka
sendiri," imbuh pejabat tinggi Rusia itu.
Sebelumnya, pimpinan
Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey juga mengatakan bahwa
menyerang Iran "tidaklah bijaksana saat ini karena itu akan menyebabkan
ketidakstabilan."
"Saya yakin bahwa mereka (Israel) memahami
kekhawatiran kami bahwa serangan di saat ini akan menimbulkan
ketidakstabilan dan tak akan mencapai tujuan jangka panjang mereka,"
tandas Dempsey.
Selama ini negara-negara Barat terus mencurigai
Iran diam-diam berupaya mengembangkan senjata nuklir lewat program
nuklir yang dijalankannya. Namun pemerintah Iran membantahnya.
Ditegaskan Iran bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai, yakni
sebagai pembangkit energi bagi kepentingan sipil.(am/aw/ads)
Tel Aviv.
Pejabat-pejabat pemerintah Amerika Serikat dan Rusia
telah mengingatkan Israel untuk tidak melancarkan serangan atas
fasilitas nuklir Iran. Namun pemerintah Israel tak menghiraukan
peringatan tersebut. Ditegaskan bahwa keputusan soal itu bukan urusan
negara-negara lain.
Penegasan itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel Avigdor Lieberman seperti dilansir media Press TV, Kamis (1/3/2012).
Sejumlah
pejabat AS dan Rusia telah mengingatkan soal konsekuensi besar yang
akan terjadi jika Israel menyerang Iran terkait program nuklirnya.
"Keamanan
warga negara Israel, masa depan Israel adalah tanggung jawab pemerintah
Israel," cetus Lieberman dalam wawancara dengan stasiun televisi
Israel, Channel 2.
Pejabat-pejabat Israel belakangan ini
kian gencar dengan retorika perang mereka. Negara Yahudi itu mengancam
akan melancarkan serangan terhadap Iran jika sanksi-sanksi yang
dijatuhkan terhadap negara republik Islam itu gagal membuatnya
menghentikan program nuklirnya.
Selain AS dan Rusia, China juga
telah mengingatkan Israel untuk tidak menyerang Iran. Sebabnya, langkah
tersebut akan menimbulkan konsekuensi parah bukan cuma untuk Timur
Tengah namun juga bagi seluruh dunia.
Pada 27 Februari lalu,
Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mencetuskan, jika Israel menyerang
Iran maka "konsekuensinya akan benar-benar parah, dengan jangkauan yang
sulit dibayangkan."(am/aw/ads)
KAIRO. edikitnya 400 orang terluka akibat bentrokan di
Kairo antara polisi dan massa yang marah menyusul rusuh sepak bola yang
menewaskan 74 di kota Port Said.
Ribuan orang berpawai menuju kantor kementerian dalam negeri, ketika
kemudian aparat polisi mencegatnya dan menembakkan gas air mata.
Sebelumnya, Perdana Menteri Mesir mengumumkan pemecatan terhadap
sejumlah pejabat senior -- yang dianggap bertanggungjawab dalam
penanganan kerusuhan sepak bola.
Sementara itu pemakaman terhadap sebagian korban tewas kerusuhan sepak bola telah berlangsung di Port Said.
Kerusuhan yang menewaskan 74 orang itu bermula ketika suporter
fanatik klub Al-Ahly menyerbu lapangan di stadion Port Said, Rabu (1/2)
malam waktu setempat. Bentrokan berdarah ini pecah setelah klub asal
Kairo itu kalah telak 1-3 dari klub tuan rumah, Al-Masry.
Sejumlah saksi mata mengatakan, suasana sepanjang pertandingan
tegang semenjak pendukung Al-Ahly mengangkat spanduk berisi penghinaan
terhadap tim tuan rumah.
Begitu pertandingan berakhir, massa masuk ke lapangan dan menyerang para pemain dan pendukung Al-Ahly.
Sepanjang Kamis, suporter fanatik Al-Ahly berkumpul di luar stadion
klub tersebut di Kairo. Di antara mereka meneriakkan slogan menentang
penguasa militer Mesir, lainnya melempar batu. "Tentara Mesir harus
memilih antara dewan militer atau kaum revolusioner," teriak mereka.
Polisi menembakkan gas air mata untuk menghadang para pendemo.
Di tengah suasana seperti itu, orang-orang yang terluka dilarikan
dengan sepeda motor, karena mobil ambulan tidak dapat masuk ke lokasi
bentrokan.
Kantor berita Mesir Mena mengutip seorang pejabat Kementerian
Kesehatan mengatakan, sedikitnya 388 pengunjuk rasa terluka. Kebanyakan
dari mereka terkena gas air mata, memar dan patah tulang.
Pendukung klub Al-Ahly, yang dikenal dengan sebutan Ultras,
memainkan peran penting dalam unjuk rasa penggulingan Presiden Hosni
Mubarak, tahun lalu.
Pendukung fanatki klub Al-Ahly yakin mereka menjadi target kerusuhan
di Port Said, karena terlibat revolusi penggulingan Presiden Hosni
Mubarak tersebut.
Mereka menuduh polisi sengaja membiarkan pendukung Al-Masry menyerang mereka.
"Ini layaknya perang! Anda mungkin tidak percaya apa yang terjadi
kemarin adalah perang... Itu bukan sepak bola .. Mereka membunuh tanpa
perasaan... Sungguh tidak normal!" Kata mantan pemain Al-Ahly, Hani
Seddik.
Sebelumnya pada Kamis (02/01), parlemen menggelar sidang darurat, yang dimulai dengan mengheningkan cipta selama satu menit.
Perdana Menteri Mesir Kamal al-Ganzouri mengatakan kepada parlemen
bahwa dia telah memecat Kepala Asosiasi Sepak Bola Mesir. Sejumlah
pimpinan asosiasi itu juga telah diperiksa oleh tim penyidik kejaksaan.
"Kepala keamanan Kota Port Said juga dipecat dan ditahan," kata Ganzouri.
Presiden klub al-Ahly, Hamid Hamdy, mengatakan klubnya tidak akan
mengikuti lanjutan liga sepak bola Mesir, sebagai bentuk protes terhadap
kerusuhan berdarah tersebut.
"Saya berharap dunia memahami posisi kami, atas apa yang terjadi
pada pendukung kami yang telah menjadi martir," katanya dalam konferensi
pers.
"Semua orang merasa itu adalah tragedi dan bencana bagi olahraga
Mesir, serta tentu saja buat klub kami, al-Ahly." (BBC/am/aw/ads)

Seoul. Saking seriusnya curhat-curhatan, Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry...
Read more...WASHINGTON. Presiden AS Barack Obama, Selasa (6/3/2012), membantah pendapat bahwa Washington...
Read more...Tel Aviv. Pejabat-pejabat pemerintah Amerika Serikat dan Rusia telah mengingatkan...
Read more...Moskow. Pemerintah Rusia terus mengingatkan pemerintah Israel untuk tidak...
Read more...KAIRO. edikitnya 400 orang terluka akibat bentrokan di Kairo antara polisi dan massa yang...
Read more...Caracas. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah meluncurkan lawatan ke empat-negara dengan...
Read more...Sanaa. Kantor Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh meminta kedutaan besar Amerika Serikat di...
Read more...Washington. Mantan wakil presiden Amerika Serikat Dick Cheney mengkritik...
Read more...Suriah semakin merasakan tekanan diplomatik dari negara-negara Barat dan sejumlah negara-negara...
Read more...Pada bulan Oktober lalu, sudah 14 orang warga termasuk 11 polisi yang terluka selama terjadi...
Read more...