Pekan lalu, ulama karismatik, Kiai Haji Abdullah Faqih, pengasuh
Pondok Pesantren Langitan, Tuban, berpulang. Kiai khos (utama) di
kalangan nahdliyin (Nahdlatul Ulama) ini meninggalkan warisan berupa
pondok pesantren, tempat mendidik dan menggembleng manusia-manusia
Indonesia.
Bukan hanya itu, Kiai Faqih juga meninggalkan jejak di panggung politik, yaitu tempat rujukan para politikus. Nama Langitan menjadi nama yang cukup sakral di pentas politik pada akhir dekade 1990-an, yang kemudian dikenal sebagai Poros Langitan.
KH Faqih dikenal luas saat Pemilihan Presiden 1999. Saat itu, ada perbedaan pendapat terkait pencalonan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden yang dipelopori Poros Tengah. Sejumlah kiai sepuh NU mengadakan pertemuan di Langitan, yang inilah muasal munculnya Poros Langitan.
Dua hari menjelang Pilpres 1999, KH Hasyim Muzadi menemui Gus Dur untuk menyampaikan pesan Kiai Faqih. Isinya, jika Gus Dur maju dalam pilpres, ulama akan mendoakan. Tetapi, Gus Dur harus menjaga keutuhan di Partai Kebangkitan Bangsa yang mulai retak serta menjaga hubungan baik nahdliyin dan pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Menurut Gus Dur, Kiai Faqih termasuk seorang wali. Kewaliannya bukan lewat tarekat atau tasawuf, melainkan karena kedalaman ilmu fikihnya. Gus Dur sangat hormat dan patuh kepada Kiai Faqih.
Pada 31 Maret 2007, di Pondok Pesantren Langitan digelar deklarasi Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Ada 17 kiai yang merumuskan berdirinya PKNU, termasuk Kiai Faqih.
Kiai Faqih dikenal memiliki wawasan ilmu agama yang begitu luas, memiliki laku atau daya spiritual tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan duniawi. Ia tokoh sederhana, istiqomah, dan alim yang bukan sekadar pandai mengajar melainkan menjadi teladan.
Dengan pandangan dan sikap demikian, Kiai Faqih dan Pesantren Langitan makin berkibar. Kiprah Kiai Faqih turut mewarnai dinamika politik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Banyak calon kepala daerah meminta restu sang kiai. Banyak pejabat politik atau politikus yang selalu meminta dukungan, baik terkait partai politik maupun pemilihan kepala daerah. Ibaratnya, Langitan menjadi rujukan di panggung politik.
Hingga saat ini, lebih dari satu abad Pesantren Langitan, Tuban, turut berkiprah memberdayakan sumber daya manusia. Pondok pesantren yang terletak di Widang, Tuban, Jawa Timur, ini berdiri sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1852.
Pesantren berada di pinggir Bengawan Solo, di areal tanah seluas 7 hektar. Lokasi awal telah menjadi aliran Bengawan Solo. Tahun 1904, saat diasuh KH Muhammad Khozin, pesantren dipindahkan ke sebelah utara, setelah diterjang banjir. Saat banjir pada Desember 2007 hingga Januari 2008, aktivitas pesantren terhenti. Untuk mengantisipasi banjir, dibuatlah tanggul darurat mengelilingi pondok pesantren.
Papan nama
Nama Langitan merupakan perubahan dari kata plangitan, kombinasi kata plang dalam bahasa Jawa yang berarti ’papan nama’ dan wetan yang berarti ’timur’. Pada awal berdirinya, di Widang saat itu ada dua papan nama, satu di timur dan satu di barat. Di sebelah plang wetan didirikan lembaga pendidikan Pesantren Langitan tahun 1852 oleh KH Muhammad Nur. Plang wetan dijadikan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pesantren. Akhirnya pesantren diberi nama Plangitan yang akhirnya menjadi Langitan.
Dengan jumlah santri 3.000 orang, pesantren berawal hanya surau kecil tempat KH Muhammad Nur mengajarkan ilmu agama serta menggembleng keluarga dan tetangga untuk meneruskan perjuangan mengusir penjajah Belanda.
Namun, sejumlah ulama besar juga pernah menimba ilmu di Langitan, seperti KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), dan KH Syamsul Arifin. Pesantren ini berpegang ”memelihara budaya klasik yang baik dan mengambil budaya baru yang konstruktif”.
Upaya perbaikan dengan merekonstruksi bangunan sosiokultural terutama dalam pendidikan. Dalam pembaruan dan modernisasi, Langitan menegaskan bahwa pembaruan dan modernisasi tidak boleh mengubah dan mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.
Pada masa pengasuhan KH Abdul Hadi Zahid, sekitar tahun 1949, mulai dikembangkan sistem pengajaran klasikal dengan cara mendirikan madrasah ibtidaiyah dan madrasah mualimin. Di samping itu, masih ada rutinitas pengajian kitab klasik sistem sorogan atau weton yang terus dilestarikan. Santri diharuskan shalat lima waktu berjamaah sebagai cermin disiplin waktu.
Kiai Faqih memimpin Pondok Pesantren Langitan sejak tahun 1971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid. Kiai Faqih didampingi pamannya, KH Ahmad Marzuki Zahid.
Pada saat dipimpin Kiai Faqih, Pesantren Langitan makin lebih terbuka, termasuk mengembangkan ilmu komputer, tetapi tetap mempertahankan pengajaran salafiyah.
Kiai Faqih pernah berguru kepada Mbah Abdur Rochim, di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al Maliki. Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki, anak Sayid Alwi, lima kali berkunjung ke Langitan.
KH Faqih menikah dengan Hj Hunainah dan dikaruniai 10 anak, yakni Ubaidillah Faqih, M Abdur Rohman Faqih, Mujib Faqih, Mujab Faqih, Abdullah Habib Faqih, Abdillah Faqih, Agus Maksum Faqih, Hanifah, Salamah, dan Amira.
(ADI SUCIPTO KISSWARA)
Jakarta. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Dr KH Said Aqil Siradj mengatakan negara-negara di Arab tidak mungkin bisa bersatu.
"Mempersatukan orang Arab itu seperti membalikkan matahari di malam
hari dan bulan di siang hari," kata Said Aqil Siradj dalam diskusi
Indonesia-Uni Eropa tentang Timur Tengah di Jakarta.
Dia
mengatakan kata Arab berasal dari kata kerja yang artinya menggelinding
dan tidak bisa diam apalagi terdiri dari ratusan suku. Satu-satunya
masa dimana orang Arab bersatu adalah pada zaman Nabi Muhammad.
Oleh karena itu,lanjut dia, perubahan yang saat ini terjadi di Arab adalah sesuatu yang wajar namun pahit.
"Perubahan yang terjadi itu mengerikan, namun ada pelajaran yang bisa diambil tanpa melupakan akar budaya," tambah dia.
Dia juga mengatakan demokrasi yang digaungkan oleh dunia Barat belum
tentu cocok diterapkan di Timur Tengah. Penerapannya juga dilakukan
tanpa melupakan jati diri.
"Sebenarnya Islam bisa dijadikan
solusi, jika diterapkan dengan benar dan sesuai. Jadi Islam bukan hanya
akidah saja," kata dia lagi.
Diskusi panel antara Uni Eropa dan
Indonesia itu dihadiri sejumlah tokoh dan membahas dampak dari
perubahan yang terjadi di beberapa negara Arab dan kontribusi yang
diberikan Indonesia dan Uni Eropa untu menuju demokrasi di kawasan itu.(am/aw/ads)
“Pekalongan, memang
ada benih-benih itu (gerakan teroris) di beberapa tempat. Tapi tidak
semua di Jawa Tengah, hanya di beberapa daerah tertentu saja," ujar
Sekretaris Jenderal MUI Ichwan Sam.Jakarta. MAJELIS Ulama Indonesia (MUI)
membantah, jika wilayah Jawa Tengah menjadi ladang empuk munculnya
gerakan radikalisasi agama (Islam). Gerakan radikalisasi yang muncul di
Jawa itu tak bisa digenalisir secara keseluruhan.
"Saya belum bisa memberikan ilustrasi yang banyak atau tidak. Akan
tetapi, sebagai orang Jawa Tengah, Pekalongan, memang ada benih-benih
itu (gerakan teroris) di beberapa tempat. Tapi tidak semua di Jawa
Tengah, hanya di beberapa daerah tertentu saja," ujar Sekretaris
Jenderal MUI Ichwan Sam kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Selasa
(22/11).
Namun demikian, MUI sudah memberikan penyadaran kepada masyarakat
melalui sosialisasi bahasa, dan juga sudah membentuk tim penanggulangan
terorisme. Sosialiasi dan pembentukan tim penanggulangan terorisme itu,
sebagai upaya MUI untuk memberikan warning kepada masyarakat sehingga
hal-hal yang menimbulkan kegaduhan dapat diantisipasi.
"MUI punya buku yang telah disosialisasikan ke sejumlah daerah, terutama lembaga-lembaga pendidikan agama (pesantren).”
Lebih lajut, Ichwan Sam juga memaparkan bahwa pihaknya sudah
melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama di beberapa daerah Jawa
Tengah, seperti di Solo beberapa waktu lalu.
"Ini artinya bahwa MUI sejak lama mencemaskan (munculnya benih-benih
gerakan radikal) itu. Tapi sekali lagi, kalau dianggap banyak sekali,
ya mungkin tidak," tutupnya.(am/aw/ads)
Malang. Sebanyak
9 menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu direncanakan mendampingi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kabupaten Malang, Jatim, untuk
membuka Muktamar ke 11 Jamiyah Ahli Toriqot Al Muthabaroh Anadiyah, di
Pondok Pesantren Al Munawariyah, 11 Januari 2012.
Sekretaris
Daerah Kabupaten Malang, Abdul Malik, Selasa mengatakan, 9 menteri itu
di antaranya Menteri Agama, Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Muhammad Nuh serta Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi.
Malik
menjelaskan, rencananya pesiden berserta rombongan akan mendarat di
Lapangan Udara Abd Saleh, Pakis, sekitar pukul 11.00 WIB dengan
menggunakan pesawat kepresidenan.
Kemudian, dilanjutkan dengan
peninjauan fasilitas Bandara Abd Saleh yang baru, dan pukul 13.00 WIB
rombongan melanjutkan perjalanan ke Lanal Malang dengan menggunakan
jalan darat.
"Selama perjalanan, Pak SBY minta kepada aparat
keamanan di Malang tidak dilakukan penutupan jalan sepanjang Raya
Singosari hingga Jalan Kalimantan Malang, sebab beliau tidak ingin
kedatangannya menganggu aktivitas lalu lintas di Malang," katanya.
Setelah
itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Al
Munawaroh di wilayah Kecamatan Bululawang untuk membuka Muktamar ke 11
Jamiyah Ahli Toriqot Al Muthabaroh Anadiyah.
"Agenda utama Pak
SBY ke Malang adalah membuka Muktamar Toriqoh, yang rencananya dihadiri
10 ribu peserta se Indonesia," ujarnya.
Malik mengatakan, alasan
SBY hadir dalam kegiatan yang dilakukan empat tahun sekali itu karena
beliau selalu aktif mengikuti kegiatan tersebut.
"Tidak ada
agenda khusus yang berbau politis, sebab kegiatan muktamar ini hanya
bertujuan untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan NKRI, dan membuat
program kerja lima tahun mendatang yang ditandai dengan pemilihan ketua
baru," tuturnya.
Sementara itu, setelah membuka muktamar,
rombongan direncanakan menginap semalam di Malang kemudian berangkat ke
Madiun dengan menggunakan pesawat kepresidenan dari Lanud Abdurrahman
Saleh.(am/aw/ads)
TIMIKA. Warga muslim suku Fak-fak bersama dua agama nasrani, Katolik dan Protestan yang bermukim di Timika, Papua, bersatu untuk mendukung pembangunan gedung Gereja Katolik St Stefanus Sempan dengan memberikan sumbangan dana Rp20.705.000.
Sumbangan dana untuk pembangunan gedung gereja baru tersebut diserahkan saat perayaan misa inkulturasi budaya Fak-fak bertempat di Gereja Katolik St Stefanus Sempan Timika, Ahad (2/10).
Dalam perayaan misa yang dipimpin Pastor Willem Bungan OFM itu juga digelar tradisi 'tombormagi' atau pengumpulan dana untuk pembangunan gedung gereja baru. Dana yang terkumpul berjumlah Rp 11.448.000.
Tokoh masyarakat Fak-fak di Timika Sulaiman Patiran mengatakan, tradisi tombormagi biasanya digelar untuk mengumpulkan harta saat keluarga laki-laki hendak meminang seorang gadis.
Dalam perkembangan-Nya, katanya, tradisi itu juga biasa dilakukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan kerohanian, seperti pembangunan masjid, gereja dan lain-lain.
"Kami warga Suku Fak-fak hidup dalam semboyan 'Satu Tungku Tiga Batu' karena warga Fak-fak yang beragama Islam, Katolik dan Protestan berasal dari satu mata air atau leluhur yang sama," kata Sulaiman.
Tokoh masyarakat Fak-fak lainnya Abraham Komber dan Yosep Kramandondo menambahkan bahwa semboyan Satu Tungku Tiga Batu yang merupakan warisan dari leluhur terus dipertahankan oleh warga Fak-fak dimanapun mereka berdomisili.
Adapun sumbangan dana untuk pembangunan gedung Gereja Katolik St Stefanus Sempan Timika dikumpulkan dari warga Fak-fak di Timika yang berasal dari berbagai latar belakang agama, baik Islam, Katolik maupun Protestan.
"Dana yang terkumpul dari warga Fak-fak di Timika ini merupakan bentuk partisipasi kami dalam mendukung pembangunan gedung Gereja Katolik Sempan Timika.
Kegiatan seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan termasuk saat acara peresmian Gereja Katedral Timika tahun 2010," kata Ketua Kerukunan Masyarakat Fak-fak di Timika Ibrahim Iba.
Pastor Paroki St Stefanus Sempan Timika Willem Bungan OFM menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan partisipasi warga suku Fak-fak dalam membantu pembangunan gedung gereja baru.
Pastor Willem meminta warga Mimika dari berbagai latar belakang suku, agama dan etnis dapat mencontohi kehidupan warga suku Fak-fak yang rukun dan damai meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda.
"Hendaknya kita semua hidup saling menghargai, saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan menghormati perbedaan itu berarti mutu iman kita semakin baik. Orang yang bisa menghargai perbedaan suku, agama, maka Allah akan memberikan rahmat kasihnya. Rahmat Allah ditujukan bagi orang yang bertaqwa," pesan Pastor Willem.
Ia menambahkan, semua agama menyeruhkan agar umatnya harus hidup saling mengasihi dalam suasana hidup penuh persaudaraan sejati. "Kita semua adalah bersaudara karena kita satu keturunan yaitu anak-anak Abraham atau Ibrahim," ujarnya. (an).
ANT.

Pekan lalu, ulama karismatik, Kiai Haji Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Langitan,...
Read more...Jakarta. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Dr KH Said Aqil Siradj mengatakan negara-negara...
Read more...Malang. Sebanyak 9 menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu direncanakan mendampingi Presiden...
Read more...“Pekalongan, memang ada benih-benih itu (gerakan teroris) di beberapa tempat. Tapi tidak...
Read more...TIMIKA. Warga muslim suku Fak-fak bersama dua agama nasrani, Katolik dan Protestan yang...
Read more...Jakarta. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar acara Halal Bihalal di gedung Pengurus Pusat...
Read more...Palembang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) menolak salah satu restoran...
Read more...Panja mengakomodir adanya jaminan dan pelabelan halal demi keamanan pangan. Jakarta. Masalah...
Read more...Jakarta. Perbaikan di bidang akhlak dan moral harus mendahului upaya perbaikan sistem ekonomi...
Read more...Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa. Pada tanggal 17 Ramadlan, nabi Muhamad menerima...
Read more...