TIMIKA. Warga muslim suku Fak-fak bersama dua agama nasrani, Katolik dan Protestan yang bermukim di Timika, Papua, bersatu untuk mendukung pembangunan gedung Gereja Katolik St Stefanus Sempan dengan memberikan sumbangan dana Rp20.705.000.
Sumbangan dana untuk pembangunan gedung gereja baru tersebut diserahkan saat perayaan misa inkulturasi budaya Fak-fak bertempat di Gereja Katolik St Stefanus Sempan Timika, Ahad (2/10).
Dalam perayaan misa yang dipimpin Pastor Willem Bungan OFM itu juga digelar tradisi 'tombormagi' atau pengumpulan dana untuk pembangunan gedung gereja baru. Dana yang terkumpul berjumlah Rp 11.448.000.
Tokoh masyarakat Fak-fak di Timika Sulaiman Patiran mengatakan, tradisi tombormagi biasanya digelar untuk mengumpulkan harta saat keluarga laki-laki hendak meminang seorang gadis.
Dalam perkembangan-Nya, katanya, tradisi itu juga biasa dilakukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan kerohanian, seperti pembangunan masjid, gereja dan lain-lain.
"Kami warga Suku Fak-fak hidup dalam semboyan 'Satu Tungku Tiga Batu' karena warga Fak-fak yang beragama Islam, Katolik dan Protestan berasal dari satu mata air atau leluhur yang sama," kata Sulaiman.
Tokoh masyarakat Fak-fak lainnya Abraham Komber dan Yosep Kramandondo menambahkan bahwa semboyan Satu Tungku Tiga Batu yang merupakan warisan dari leluhur terus dipertahankan oleh warga Fak-fak dimanapun mereka berdomisili.
Adapun sumbangan dana untuk pembangunan gedung Gereja Katolik St Stefanus Sempan Timika dikumpulkan dari warga Fak-fak di Timika yang berasal dari berbagai latar belakang agama, baik Islam, Katolik maupun Protestan.
"Dana yang terkumpul dari warga Fak-fak di Timika ini merupakan bentuk partisipasi kami dalam mendukung pembangunan gedung Gereja Katolik Sempan Timika.
Kegiatan seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan termasuk saat acara peresmian Gereja Katedral Timika tahun 2010," kata Ketua Kerukunan Masyarakat Fak-fak di Timika Ibrahim Iba.
Pastor Paroki St Stefanus Sempan Timika Willem Bungan OFM menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan partisipasi warga suku Fak-fak dalam membantu pembangunan gedung gereja baru.
Pastor Willem meminta warga Mimika dari berbagai latar belakang suku, agama dan etnis dapat mencontohi kehidupan warga suku Fak-fak yang rukun dan damai meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda.
"Hendaknya kita semua hidup saling menghargai, saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan menghormati perbedaan itu berarti mutu iman kita semakin baik. Orang yang bisa menghargai perbedaan suku, agama, maka Allah akan memberikan rahmat kasihnya. Rahmat Allah ditujukan bagi orang yang bertaqwa," pesan Pastor Willem.
Ia menambahkan, semua agama menyeruhkan agar umatnya harus hidup saling mengasihi dalam suasana hidup penuh persaudaraan sejati. "Kita semua adalah bersaudara karena kita satu keturunan yaitu anak-anak Abraham atau Ibrahim," ujarnya. (an).
ANT.

Pekan lalu, ulama karismatik, Kiai Haji Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Langitan,...
Read more...Jakarta. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Dr KH Said Aqil Siradj mengatakan negara-negara...
Read more...Malang. Sebanyak 9 menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu direncanakan mendampingi Presiden...
Read more...“Pekalongan, memang ada benih-benih itu (gerakan teroris) di beberapa tempat. Tapi tidak...
Read more...TIMIKA. Warga muslim suku Fak-fak bersama dua agama nasrani, Katolik dan Protestan yang...
Read more...Jakarta. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar acara Halal Bihalal di gedung Pengurus Pusat...
Read more...Palembang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) menolak salah satu restoran...
Read more...Panja mengakomodir adanya jaminan dan pelabelan halal demi keamanan pangan. Jakarta. Masalah...
Read more...Jakarta. Perbaikan di bidang akhlak dan moral harus mendahului upaya perbaikan sistem ekonomi...
Read more...Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa. Pada tanggal 17 Ramadlan, nabi Muhamad menerima...
Read more...