Mataram. Christian George Emor menyabet salah satu dari dua
medali emas Indonesia pada Olimpiade Fisika Dunia atau World Physics Olympiad (WoPhO) di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Jakarta. Jumlah anak putus sekolah sekarang ini semakin
tinggi. Uang sekolah atau kuliah yang terus melonjak membuat masyarakat semakin
sulit menikmati bangku sekolah. Biaya pendidikan seharusnya bisa dikendalikan
oleh pemerintah.
Pengendalian biaya pendidikan bisa dilakukan lewat pemberian subsidi. Misalnya, penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan untuk menurunkan biaya pendidikan.
“Biaya dari pendidikan itu sendiri harus ada pengendalian. Jangan sampai melonjak terus,” kata Wapres Boediono dalam jumpa pers di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Jumat (18/11).
Pemerintah berencana memberikan beasiswa bagi siswa yang tergolong miskin. Menurut Wapres, pemerintah akan meningkatkan jumlah penerima beasiswa itu dari tahun ke tahun.
Dijelaskan, dengan biaya sekolah yang terkendali maka akan meningkatkan partisipasi sekolah. Lama rata- rata sekolah masyarakat Indonesia pun akan terkerek sendirinya. Angka rata-rata lama sekolah itu menjadi indikator bagi Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Berdasarkan pengukuran United Nations Development Programme (UNDP), angka rata-rata lama sekolah di Indonesia baru 5,8 tahun. Indonesia tertinggal dibanding negara lain, seperti Thailand (6,6 tahun), China (7,5 tahun), Filipina (8,9 tahun), dan Malaysia (9,5 tahun).
Dikatakan Boediono, apabila program pendidikan saat ini dilaksanakan baik, maka angka rata-rata lama sekolah di Indonesia akan meningkat.
UNDP memperkirakan, angka rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 13,2 persen. Prediksi itu lebih tinggi dibanding negara-negara lain.
Hal senada dikemukakan pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas. Ia menilai, mahalnya biaya pendidikan akibat liberalisasi di sektor ini. Biaya pendidikan diserahkan kepada pasar. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan berdampak pada masa depan anak bangsa dari kalangan tidak mampu.
“Sekarang banyak anak dari keluarga miskin yang sudah takut duluan saat mendengar bahwa belajar di perguruan tinggi negeri (PTN) itu butuh biaya hingga puluhan juta rupiah. Jangankan mendaftar, bermimpi untuk mendaftar ke PTN pun mereka tidak berani,” curhatnya kepada Rakyat Merdeka, Kemarin.
Disinggung soal program beasiswa yang disediakan pemerintah hingga 20 persen dari total siswa sekolah, Darmaningtyas mengatakan, hal tersebut tidak sama dengan konsep PTN yang berbiaya murah. Penerima beasiswa itu umumnya dilakukan lewat kriteria tertentu.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim berjanji terus berupaya menyelenggarakan biaya pendidikan murah. “Untuk orang miskin, terus kita bantu. Kita tetap sediakan 20.000 beasiswa tiap tahun,” ujarnya. (am/aw/ads)
Bali,
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Unesco David Atehoarena mengatakan, The Unesco Institute Statistic (UIS) memperkirakan di berbagai belahan dunia masih memerlukan 8,2 juta tenaga guru dari kurun waktu 2009 sampai 2015.
"Kekurangan guru sebanyak itu perlu dapat dipenuhi guna mencapai `universal primary education`, yakni kondisi seorang guru mengajar 40 orang siswa dalam satu kelas," katanya di sela-sela acara "Third Internasional Policy Dialogue Forum" di Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Dia mengatakan, saat ini angka rasio guru itu masih sangat jauh dari kenyataannya. Sebagai contoh, di wilayah sub-Sahara Afrika yang merupakan wilayah kesenjangan guru terbesar, rasionya masih jauh dari ideal.
David menjelaskan, di wilayah tersebut memerlukan tenaga pengajar sebanyak 1,2 juta. Selain memerlukan guru, di daerah tersebut masih harus mencari pengganti 933.000 guru yang ingin meninggalkan profesi mereka.
Sementara Ananto Kusuma Seta, Co-chairs of the International Task Force on Teachers for EFA mengatakan, kegiatan seperti ini pertama kali diadakan di Addis Ababa, Ethiopia pada Februari 2010 dengan memfokuskan pembahasan kualitas para guru.
"Sedangkan pada forum ketiga ini pembahasan difokuskan pada pembahasan isu-isu guru yang berkembang di wilayah Asia Fasifik," ujarnya.
Seta menjelaskan, pertemuan forum tingkat internasional itu dilaksanakan 13-14 September 2011, dengan tujuan mengumpulkan berbagai pemangku kebijakan untuk membahas tentang hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan pemerataan guru.
Selain itu, tambah dia, diharapkan pada forum ini dapat terjalin kerja sama antarpemangku kebijakan dengan para ahli untuk memperkuat advokasi serta mempromosikan pengembangan kebijakan pendidikan di masing-masing negara.
Dijelaskan, Task Force merupakan perhimpunan berbagai lembaga di tingkat global yang berfokus pada pendidikan untuk semua kalangan dalam rangka mengatasi kesenjangan jumlah guru.
"Task Force bukanlah lembaga donor atau penyedia bantuan teknis. Lembaga ini bertujuan menyembatani berbagai instansi lainnya dalam mengatasi masalah kesenjangan guru melalui kegiatan pertemuan tingkat tinggi bagi pembuat kebijakan," katanya.
Sumber : ANT
Bogor.
Kementerian Pendidikan menargetkan rehabilitasi sejumlah sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama yang rusak akan dilakukan dan diselesaikan pada 2013.
"Dengan bergulirnya program rehabilitasi sekolah ini, diharapkan pada 2013 yang akan datang tidak ada lagi sekolah yang tidak layak bagi anak-anak kita," kata Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, dalam acara peletakan batu pertama Gerakan Nasional Penuntasan Rehabilitasi Gedung Sekolah, di SDN 1 Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Senin.
Menteri mengatakan, Kementerian Pendidikan menggeberkan program Gerekan Nasional Penuntasan Rehabilitasi Gedung Sekolah guna menyelesaikan persoalan sekolah rusak yang banyak terjadi.
Kegiatan tersebut menyedot Dana Alokasi Khusus dan APBN sebesar 2,8 triliun. Dan jumlah sekolah yang akan direhabilitasi sebanyak 21.500 ruang kelas.
Jumlah tersebut masing-masing terbagi untuk jenjang SD sebanyak 18 ribu ruang kelas, dan SMP sebanyak 3.500 ruang kelas.
Serangkaian kegiatan untuk merealisasikan hal tersebut, saat ini Kemendiknas telah melakukan beberapa langkah strategis diantaranya menggandeng TNI, Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan, Perguruan Tinggi dan unsur Pemerintah Daerah.
Menurut Menteri, karakter anak didik sangat dipengaruhi oleh situasi ruang belajar, pendidik dan lingkungan sekolah.
"Untuk sekolah rusak tidak boleh terlalu didiamkan. Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mendiamkan kerusakan ruang kelas yang ada. Mari kita bahu membahu untuk menuntaskannya," kata Menteri.
Menteri mengatakan, tidak perlu menyalahkan siapapun dalam situasi saat ini, tapi bagaimana masyarakat dan pemerintah bahu membahu menyelesaikan persoalan sekolah rusak ini.
Mendiknas didaulat untuk meletakkan batu pertama yang menandai dimulainya program gerakan nasional penuntasan rehabilitasi gedung sekolah di SDN 1 Babakan Madang Kabupaten Bogor.(an).
ANT.
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Jakarta, Delapan siswa madrasah Islan Cendekia yang telah meraih medali pada olimpiade sains nasional 2001 Manado, Sulawesi Utara, diterima Menteri Agama Suryadharma Ali senin, 19/08/11.
"Delapan siswa madrasah ini meraih delapan medali, tiga emas dan lima perak," kata Menag didampingi Dirjen Pendidikan Islam Mohammad Ali dan Direktur Madrasah A. Saifuddin, di Jakarta, Senin.
Kehadiran para siswa ini didampingi Kepala Madrasah, Ahmad Hidayatullah. Hidayatullah mengatakan, madrasah yang berlokasi di Serpong, Banten ini, memiliki misi antara lain menjadikan MAN IC sebagai model dalam pengembangan pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi bagi lembaga pendidikan lainnya.
Ia juga menjelaskan, untuk bisa menjadi peserta didik di MAN IC calon harus mengikuti tes, karena yang mendaftar cukup banyak. Siswa diasramakan, semua biaya pendidikan gratis.
Ditambahkannya, saat ini sekitar 70 persen peserta didik di MAN IC termasuk anak dari keluarga golongan dhuafa, sementara cost pendidikan per peserta didik mencapai Rp 5,5 juta. Hidayatullah mengaku semuanya ditanggung negara.
Siswa MAN IC yang meraih emas yaitu Ahmad Faiz Ibadurrahman (Kimia), Gianluigi Grimaldi Maiyar (Astronomi) dan Muhammad Aji Muharram (Komputer).
Peraih medali perak; Parangeni Muhammad (Biologi), Pyan
Putro Surya (Ekonomi), M Aulia Rachman (Ekonomi, Saefudin Juhri (Kebumian) dan
M Nabil Satria Faradis (Astronomi). ANR.

Mataram. Christian George Emor menyabet salah satu dari dua medali emas Indonesia pada Olimpiade...
Read more...Jakarta. Jumlah anak putus sekolah sekarang ini semakin tinggi. Uang sekolah atau kuliah yang...
Read more...Bogor. Kementerian Pendidikan menargetkan rehabilitasi sejumlah sekolah dasar dan sekolah...
Read more...Bali, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Unesco David Atehoarena mengatakan,...
Read more...Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE ...
Read more...Jakarta. Kementerian Pendidikan Nasional menyebarkan angket ke daerah-daerah untuk menghimpun ...
Read more...Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta Sugeng Bayu Wahyono mengatakan, pendidikan...
Read more...Setiap manusia yang terlahir ke dunia merupakan anugrah dan setiap manusia menyandang potensinya...
Read more...Jakarta. Ketua Badan Anggaran DPR Melchias Markus Mekeng mengatakan, pemerintah dan DPR sepakat...
Read more...Semarang. KETUA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Alie, menilai penerapan otonomi daerah...
Read more...