Jakarta. Jumlah anak putus sekolah sekarang ini semakin
tinggi. Uang sekolah atau kuliah yang terus melonjak membuat masyarakat semakin
sulit menikmati bangku sekolah. Biaya pendidikan seharusnya bisa dikendalikan
oleh pemerintah.
Pengendalian biaya pendidikan bisa dilakukan lewat pemberian subsidi. Misalnya, penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan untuk menurunkan biaya pendidikan.
“Biaya dari pendidikan itu sendiri harus ada pengendalian. Jangan sampai melonjak terus,” kata Wapres Boediono dalam jumpa pers di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Jumat (18/11).
Pemerintah berencana memberikan beasiswa bagi siswa yang tergolong miskin. Menurut Wapres, pemerintah akan meningkatkan jumlah penerima beasiswa itu dari tahun ke tahun.
Dijelaskan, dengan biaya sekolah yang terkendali maka akan meningkatkan partisipasi sekolah. Lama rata- rata sekolah masyarakat Indonesia pun akan terkerek sendirinya. Angka rata-rata lama sekolah itu menjadi indikator bagi Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Berdasarkan pengukuran United Nations Development Programme (UNDP), angka rata-rata lama sekolah di Indonesia baru 5,8 tahun. Indonesia tertinggal dibanding negara lain, seperti Thailand (6,6 tahun), China (7,5 tahun), Filipina (8,9 tahun), dan Malaysia (9,5 tahun).
Dikatakan Boediono, apabila program pendidikan saat ini dilaksanakan baik, maka angka rata-rata lama sekolah di Indonesia akan meningkat.
UNDP memperkirakan, angka rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 13,2 persen. Prediksi itu lebih tinggi dibanding negara-negara lain.
Hal senada dikemukakan pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas. Ia menilai, mahalnya biaya pendidikan akibat liberalisasi di sektor ini. Biaya pendidikan diserahkan kepada pasar. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan berdampak pada masa depan anak bangsa dari kalangan tidak mampu.
“Sekarang banyak anak dari keluarga miskin yang sudah takut duluan saat mendengar bahwa belajar di perguruan tinggi negeri (PTN) itu butuh biaya hingga puluhan juta rupiah. Jangankan mendaftar, bermimpi untuk mendaftar ke PTN pun mereka tidak berani,” curhatnya kepada Rakyat Merdeka, Kemarin.
Disinggung soal program beasiswa yang disediakan pemerintah hingga 20 persen dari total siswa sekolah, Darmaningtyas mengatakan, hal tersebut tidak sama dengan konsep PTN yang berbiaya murah. Penerima beasiswa itu umumnya dilakukan lewat kriteria tertentu.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim berjanji terus berupaya menyelenggarakan biaya pendidikan murah. “Untuk orang miskin, terus kita bantu. Kita tetap sediakan 20.000 beasiswa tiap tahun,” ujarnya. (am/aw/ads)

Mataram. Christian George Emor menyabet salah satu dari dua medali emas Indonesia pada Olimpiade...
Read more...Jakarta. Jumlah anak putus sekolah sekarang ini semakin tinggi. Uang sekolah atau kuliah yang...
Read more...Bogor. Kementerian Pendidikan menargetkan rehabilitasi sejumlah sekolah dasar dan sekolah...
Read more...Bali, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Unesco David Atehoarena mengatakan,...
Read more...Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE ...
Read more...Jakarta. Kementerian Pendidikan Nasional menyebarkan angket ke daerah-daerah untuk menghimpun ...
Read more...Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta Sugeng Bayu Wahyono mengatakan, pendidikan...
Read more...Setiap manusia yang terlahir ke dunia merupakan anugrah dan setiap manusia menyandang potensinya...
Read more...Jakarta. Ketua Badan Anggaran DPR Melchias Markus Mekeng mengatakan, pemerintah dan DPR sepakat...
Read more...Semarang. KETUA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Alie, menilai penerapan otonomi daerah...
Read more...