Jakarta. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengaku tidak tahu menahu soal pemberian commitment fee terkait program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi.
Muhaimin juga mengaku tidak tahu rencana pemberian uang Rp 1,5 miliar dari pengusaha Dharnawati ke dua pejabat Kemennakertrans, I Nyoman Suisnaya dan Dadong Irbarelawan.
Hal itu diungkapkan Muhaimin saat bersaksi untuk Dadong Irbarelawan, terdakwa kasus dugaan suap PPID Transmigrasi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (20/2/2012). "Sama sekali tidak pernah, DPPID pun kita tidak tahu, apalagi fee," kata Muhaimin saat ditanya hakim Sudjatmiko apakah pernah menyinggung soal commitment fee dengan Fauzi (mantan tim asistensi Menakertrans).
Hakim mempertanyakan hal tersebut kepada Muhaimin dengan mengacu transkrip rekaman pembicaraan Fauzi yang banyak menyebut nama Muhaimin. Sudjatmiko lantas membacakan petikan rekaman percakapan Fauzi tersebut.
"Pernah disinggung dilapori Fauzi soal fee? Fauzi berkata begini, 'Pak, ini saya dilapori pihak Nyoman dan Dadong, saya diminta terima uang'. Pernah disinggung itu?" tanya Sudjatmiko.
"Tidak pernah," jawab Muhaimin.
Ia mengaku tidak pernah dilapori oleh Fauzi soal fee. Dia juga mengaku tidak pernah memerintahkan Fauzi untuk mengambil uang Rp 1,5 miliar dari pengusaha Dharnawati.
Menurut Muhaimin, selain pernah menjadi tim asistensi menteri, Fauzi hanyalah staf umum di DPP Partai Kebangkitan Bangsa yang tidak pernah berurusan dengan penganggaran, apalagi anggaran Kementerian.
"Staf umum DPP PKB dan memang jauh dengan urusan penganggaran dan kementerian," katanya.
Nama Muhaimin kerap disebut dalam persidangan Nyoman dan Dadong. Muhaimin disebut dalam sejumlah rekaman pembicaraan yang diputar dalam persidangan. Dalam rekaman pembicaraan antara Sindu Malik dan Dhani Nawawi, misalnya, terungkap kalau Dhani mengaku telah melaporkan kepada Muhaimin soal pembagian commitment fee dari Dharnawati.
Sindu adalah mantan pegawai Kementerian Keuangan yang mengaku menjadi konsultan anggaran di Kemenakertrans, sedangkan Dhani mengaku sebagai staf khusus mantan presiden Abdurrahman Wahid.
Dana PPID
Selanjutnya, Muhaimin juga mengaku tidak tahu soal dana PPID Transmigrasi. Ia menyatakan tidak pernah mengajukan anggaran itu. Sepanjang 2011, dia hanya pernah mengajukan dana tambahan melalui APBN-Perubahan.
"Saya baru tahu DPPID sejak peristiwa ini, akhir Agustus, yang sebetulnya, sebelumnya saya tidak mengetahui apa yang disebut DPPID. Anggaran dan kewenangan tempat penganggarannya, DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Kementerian Keuangan," papar Muhaimin.
Kasus dugaan suap PPID Transmigrasi ini melibatkan Dadong, Nyoman, dan pengusaha Dharnawati. Dadong dan Nyoman didakwa bersama-sama Muhaimin, Jamaluddin Malik (Direktur Jenderal Pengembangan Pembangunan Kawasan Transmigrasi Kemennakertrans) menerima suap Rp 2 miliar dari Dharnawati.
Uang itu terkait penetapan empat kabupaten di Papua sebagai daerah penerima PPID. Kasus ini juga diduga melibatkan empat orang eksternal Kemennakertrans yaitu Ali Mudhori (mantan anggota DPR Fraksi PKB), Fauzi, Sindu Malik (mantan pegawai Kementerian Keuangan), dan pengusaha Iskandar Pasojo.
Dalam persidangan sebelumnya, Fauzi mengaku hanya mencatut nama Muhaimin. Fauzi disebut sebagai orang yang akan mengambil uang Rp 1,5 miliar dari Dharnawati untuk diserahkan kepada menteri sebagai pinjaman tunjangan hari raya.(am/aw/ads)
Aburizal Bakrie melalui pengacaranya mengadukan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, ke Mabes Polri, Selasa (31/1), atas tuduhan pencemaran nama baik. Namun dikabarkan, gugatan itu tiba-tiba dicabut, Kamis (2/2).
Menanggapi hal itu, Ramadhan Pohan tidak ambil pusing. Dia bersama pengacaranya tetap mendesak kepolisian menyelidiki secara tuntas indikasi konspirasi yang terjadi di Bima.
“Besok (hari ini), pengacara saya yang berjumlah enam orang akan mengecek apakah gugatan itu dicabut atau tidak. Saya tidak bisa hanya mendengar dari kabar orang,” ujar Ramadhan Pohan, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Seperti diberitakan, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie tidak terima dengan pernyataan Ramadhan Pohan yang menuduhnya memiliki saham di PT Sumber Mineral Nusantara (SMN), sebuah perusahaan tambang pemicu konflik di Bima.
Dalam laporan kuasa hukum Ical itu, Ramadhan telah menuduh PT SMN sebagai mesin ATM Ical dan kelompoknya.
Ramadhan Pohan selanjutnya mengatakan, pernyataannya di salah satu media itu masih sebatas dugaan, bukan tuduhan terhadap Ical.
“Pak Ical terlalu besar buat saya. Kemudian beliau menghadapi saya dengan 13 pengacara, berarti sesuatu banget. Tapi saya siap hadapi gugatan tersebut,” papar anggota Komisi II DPR itu.
Berikut kutipan selengkapnya:
Anda yakin ini bukan pencemaran nama baik?
Ini momen emas bagi bang Ical dan Partai Golkar untuk menjernihkan diri bahwa mereka tidak bersalah. Sebab, bukan rahasia lagi, rumor yang beredar di sana. Itu bukan pencemaran nama baik. Ini berada di ruang politik. Kasus ini sebenarnya sederhana. Tidak perlu dibesar-besarkan. Sepertinya kasus ini dialihkan ke politik. Ini terlalu jauh. Dan saya siap menghadapi pengaduan itu dengan segala konsekuensinya.
Bagaimana cerita sebenarnya?
Saya diwawancara wartawan Jurnas, saya menyampaikan indikasi keterkaitan Pak Ical dengan PT SMN. Indikasi itu berdasarkan laporan yang diberikan masyarakat, baik dalam bentuk lisan, SMS, dan BBM. Itu baru indikasi.
Indikasi yang saya sampaikan itu dimuat di media massa, seharusnya ditanggapi di media saja. Mungkin konteksnya hak jawab, klarifikasi, dan lain-lain.
Anda punya bukti?
Apakah salah, anggota DPR mengangkat info yang disampaikan masyarakat. Saya menyebutkan indikasi, kan artinya ada dugaan. Nah silakan dibuktikan. Malah di twitter saya, infonya lebih banyak dan vulgar, bisa dibaca siapapun.
Kenapa tidak disampaikan info yang banyak itu ke publik?
Kalau seperti itu, saya niat banget dong. Ini kan tidak. Sebenarnya ada langkah-langkah lanjutan yang akan saya lakukan. Tapi kalau sudah seperti ini, sudah bias.
Saya sudah menyusun upaya investigasi yang akan melahirkan laporan lebih komprehensif, dan saya mengunjungi Kabupaten Bima. Tapi kalau sudah meledak dari dua minggu lalu oleh Lalu Mara (Wakil Sekjen Partai Golkar), dan merembetnya ke mana-mana, sehingga tidak seru lagi.
Anda menyesalkan kasus ini berlanjut ke kepolisian?
Ya. Banyak hal bernilai dan berharga yang sedang saya kerjakan. Kalau indikasi saya itu mentah dan tidak kredibel, ya katakan tidak kredibel. Seharusnya kami beradu di tataran yang sama. Saya kan punya informan di sana (Bima) yang melaporkan dugaan itu. Saya secara pribadi tidak mungkin bermusuhan dengan orang sekaliber Bang Ical.
Anda menilai masalah ini dibesar-besarkan, apa di balik itu?
Saya menduga, ada di lingkaran bang Ical yang mengompori beliau. Mereka mengira pernyataan saya mengganggu popularitas beliau sebagai capres dan Ketua Umum Partai Golkar. Saya kira terlalu jauh melihat hal seperti itu.
Apa Anda memiliki kepentingan politik di balik pernyataan itu?
Persoalan di Bima adalah persoalan bangsa dan rakyat. Saya menginginkan masalah ini diusut tuntas siapun yang terlibat. Makanya, saya mengindikasikan ada keterkaitan antara Bang Ical dengan PT SMN, dan Bupati di sana. Apakah saya salah mengangkat adanya indikasi yang berkembang di masyarakat.
Sesama parpol pendukung pemerintah, kenapa tidak dikomunikasikan saja?
Saya tidak tahu. Lalu Mara bilang ada upaya membicarakan di Setgab.(hrm)
Akhir-akhir ini, gerakan kaum muda perlahan mulai menggeliat kembali
seiring dengan meluasnya kekecewaan masyarakat pada rezim Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY). Meski sifatnya masih sporadis dan mengusung tema yang
berbeda-beda, alurnya mulai jelas: kaum muda skeptis bahkan pesimis pada
pemerintahan SBY yang sudah berjalan 7 tahun.
Bandul kekuasaan SBY lebih mengarah pada politik kaum elit dan
menempatkan rakyat pemilik mandat di wilayah pinggiran. Salah satu
contoh politik kaum elit yang dijunjung SBY adalah reshuffle yang
baru saja dilakukan. Perombakan kian meneguhkan dominasi elit parpol
dalam kabinet sehingga wajar jika postur birokrasi-oligarkis berporos
pada politik representasi. Dalam konteks situasi politik yang sedang
mengalami sumbatan seperti sekarang, kaum muda seyogyanya meneguhkan
kembali arah politiknya agar tetap memberi kontribusi pada bangsa dan
negara.
Spirit Sumpah Pemuda
Pada momentum Hari Sumpah Pemuda kali ini, ada baiknya kita
melakukan refleksi kembali munculnya spirit dan kekuatan politik pemuda
yang telah menghantarkan NKRI sperti sekarang. Sedikit flashback
sejarah nasional kita, artikulasi semangat pemuda Indonesia tak hanya
dengan mengangkat senjata tapi dengan pemikiran dan pencerahan. Caranya,
tentu saja melalui konsolidasi kekuatan personal dan organisasional
yang memiliki spirit perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat
bangsa ini tanpa pamrih berlebih.
Pada tahun 1925 para pemuda yang terhimpun dalam Perhimpunan
Indonesia di negeri Belanda, telah melahirkan Manifesto Politik yang
intinya menegaskan prinsip perjuangan yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty
(kemerdekaan). Konggres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 menjadi momentum
lanjutan dari artikulasi politik kaum muda yang luar biasa. Sebuah
manifesto dari para pemuda menjadi pintu menentukan bagi proses ikrar
bersama sebuah masyarakat negara-bangsa (nation-state) yang berslogan
“satu nusa, satu bangsa, satu bahasa" yakni Indonesia. Momentum ini
melahirkan konsolidasi kekuatan politik pemuda untuk sama-sama
memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara yang dicita-citakan.
Kohesivitas kebangsaan dalam bingkai kepemudaan saat itu, mampu
melintasi fragmentasi kepentingan primordial, etnis, dan ideologi.
Singkatnya, para pemuda bisa menyatu dalam keberbedaan.
Proses berdemokrasi yang dinamis di setiap era yang bangsa Indonesia
lalui, kerapkali melahirkan situasi krisis. Sejarah pun mencatat,
setiap krisis muncul dan setiap perubahan era politik di negeri ini,
senantiasa membutuhkan kontribusi politik kaum muda.
Presiden Soekarno sempat berujar “Berikan kepadaku 10 pemuda, maka
akan ku ubah dunia”. Sebuah pernyataan retoris yang menekankan
optimisme, jika kaum muda mau dan mampu membangun kapasitas individual
mereka, tentu para pemuda ini akan menjadi sebuah harapan bagi berbagai
perbaikan bangsa dan negara ini.
Politik para pemuda kerapkali mengalami dilema antara perjuangan
idealisme dengan fakta politik yang berkembang. Biasanya ada 3 faktor
yang kerap mereduksi idealisme para pemuda. Pertama, menguatnya kembali referent power
yakni banyaknya politisi muda di partai politik, DPR maupun di
birokrasi yang muncul ke permukaan karena menyandarkan dirinya ke
kekuataan politik kerabat, patron politik dan nepotisme. Menguatnya
kembali fenomena ini bisa kita amati di Pemilukada, Pemilu legislatif
2009, hingga proses regenerasi di tubuh parpol. Kekuataan “garansi”
berbasis geneologi politik seolah mengingatkan kita pada saat Orde Baru
sedang berjaya.
Kedua, dorongan rasionalitas instrumental yang kian mengental. Hal
ini dipicu oleh banyaknya para petualang politik yang sudah kadung
dilabeli “aktivis” atau “mantan aktivis” yang justru meruntuhkan citra
politik pemuda yang idealis menjadi machieavellist. Migrasi vertikal
mantan aktivis masuk ke DPR maupun ke birokrasi ternyata bukannya
mengubah kondisi menjadi lebih baik, melainkan kian meneguhkan wajah
buram politik di level suprastruktur. Bahkan ada kecenderungan politisi
muda di DPR maupun di birokrasi, tak berbeda dengan politisi tua-kawakan
yang juga menyandarkan kiprah politiknya pada persekongkolan jahat
dengan cara ‘bancakan’ uang rakyat. Kasus Nazaruddin menjadi potret
buram kiprah politisi muda.
Ketiga, kian marginalnya politik kerja dilakukan oleh para politisi
muda dan banyak beralih ke politik citra yang kerap melahirkan disonansi
kognitif di masyarakat. Tak dinafikan, di era industri media yang gegap
gempita sosok politisi muda menjadi icon yang layak dijual. Kita bisa
melihat, hampir setiap hari politisi muda kita live talkshow di
televisi, radio, berkomentar di koran dan internet. Tetapi berapa
banyak politisi muda yang memilih jalan hening bekerja untuk rakyat
pedalaman, mengagregasi kepentingan politik di basis konstituennya?
Revitalisasi Politik
Kiprah politik kaum muda tak hanya diukur dari kuantitas melainkan
kualitas kerjanya. Saat ini, kita butuh revitalisasi gerakan politik
kaum muda untuk menghidupkan kembali semangat pencerahan yang belakangan
tertutupi pekatnya politik transaksional.
Pertama, kita harus merevitalisasi kembali asketisme politik yang
saat ini sudah dianggap utopia oleh banyak pihak. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, asketisme diberi arti 'paham yang mempraktikkan
kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban'. Sementara dalam Encyclopedia of the Middle Ages, Volume 2 (2000: 118)
asketis merupakan sejumlah latihan penyesalan diri, hidup kekurangan,
menahan malu atau aib, serta kontemplasi untuk menuju jiwa yang
sempurna. Dengan demikian, asketisme politik secara umum bisa kita
pahami sebagai upaya menjalankan aktivitas berpolitik berdasarkan pada
prinsip kesederhanaan dan etika serta memproyeksikan tindakannya demi
kemaslahatan rakyat banyak. Basis rasionalitasnya jika meminjam kategori
dari Weber adalah wertrationalitat atau rasionalitas-bernilai.
Prilaku politik mengacu pada komitmen rasional akan nilai yang
dihayatinya secara pribadi baik nilai etis, estetis maupun religius.
Kedua, arah politik kaum muda harus selaras dengan denyut kebutuhan
dan aspirasi masyarakat. Artinya, kaum muda harus menjadi katalisator
perubahan yang pro rakyat, meski pun harus berhadap-hadapan dengan rezim
berkuasa. ***
Basrief mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan jaksa yang masih nekat terima suap.
Jakarta. JAKSA Agung Basrief Arief
menegaskan siap bertindak tega pada bawahannya yakni Kasubag BIN
Kejaksaan Negeri Cibinong, Sistoyo oleh KPK saat menerima suap Rp 100
juta.
"Saya akan menjadi raja tega bila jaksa tersebut terbukti bersalah.
Karena tidak ada jalan lain, demi menjaga kepercayaan publik terhadap
kejaksaan. Kita harus lakukan itu," ucapnya dalam seminar Komisi
Kejaksaan di Jakarta, Rabu (23/11).
Basrief mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan jaksa yang masih
nekat terima suap. "Kita sudah lakukan remunerasi, tapi masih ada oknum
jaksa yang nakal. Saya kecewa berat."
Sebagai informasi, kejaksaan termasuk lembaga yang mendapatkan
remunerasi (tunjangan kinerja), dari pemerintah Rp 609,5 miliar. Namun,
hal tersebut tidak membuat para jaksa bersikap profesional.
Wakil Jaksa Agung Darmono mengatakan, tunjangan tersebut besar
artinya bagi Korps Adhiyaksa ini, khususnya guna memperbaiki kinerja.
Diketahui, KPK menangkap Jaksa Sistoyo pada Senin (21/11) sore. Ia
ditangkap, saat diduga akan menerima suap terkait tuntutan hukum suatu
perkara pidana. Saat penangkapan, KPK berhasil menyita bukti berupa uang
Rp 99,9 juta.(am/aw/ads)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar serta
Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng masih menjadi incaran
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap di masing-masing
kementerian. KPK menilai, kasus suap yang melibatkan pejabat kementerian
terkait proyek, kemungkinan melibatkan pucuk pimpinan kementerian itu.
"Kemungkinan
sampai ke atas, karena manajemennya pasti sampai ke atas," kata Ketua
KPK Busyro Muqoddas saat ditanya wartawan apakah pola korupsi di
kementerian bisa melibatkan menterinya, di Jakarta, Rabu (14/9).
Sejauh
ini KPK memang hanya menangani pejabat di tingkat bawah karena mereka
memang tertangkap tangan dan terendus melakukan suap dan korupsi. Meski
begitu, Busyro menjamin kalau para bawahan itu menyebutkan keterlibatan
atasannya, KPK tidak akan ragu memprosesnya secara hukum. "Apalagi kalau
didukung dengan alat bukti yang kuat," kata Busyro.
KPK saat ini
sedang melakukan penyidikan kasus suap Rp 1,5 miliar di Kementerian
Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kasus
suap Rp 3,2 miliar di Kemenpora terkait proyek pembangunan Wisma Atlet
SEA Games XXVI Palembang yang melibatkan sekretaris Menpora Wafid
Muharam. Sedangkan di Kemenakertrans, KPK menangkap dua pejabat Ditjen
P2KT karena suap dalam program Percepatan dan Pembangunan Infrastruktur
Daerah Tertinggal (PPIDT).
Bersama para pejabat itu, ikut
ditangkap pula pimpinan perusahaan swasta yang menjadi kontraktor
proyek. Dalam kedua kasus itu pula nama kedua menteri itu disebut-sebut
oleh para tersangka ikut terlibat dalam menerima suap atau setidaknya
mengatur proyek.
Andi Mallarangeng pernah diperiksa KPK sebagai
saksi dalam kasus suap Wisma Atlet pada 31 Mei lalu. Sedangkan, Muhaimin
belum diperiksa KPK meskipun sudah masuk daftar terperiksa dalam kasus
suap proyek transmigrasi di Papua itu.
Muhaimin lebih memilih
irit bicara ketika ditanyai soal rencana pemeriksaan dirinya. "Silakan
proses hukum berjalan, kita menunggu dan menghargai proses hukum hingga
tuntas," kata Ketua Umum PKB itu di DPR.
Dugaan keterlibatan Muhaimin juga disuarakan politikus senior PKB Lily Wahid. "Saya cuma berpikir, nggak mungkin atasan yang paling atas nggak ngerti. Masalah tersangkut langsung atau tidak, nggak mungkin dia tidak tahu. Formal ataupun tidak formal pasti tahu," kata Lily.
KPK
memang belum menemukan bukti bahwa Muhaimin menerima aliran dana suap
proyek PPIDT. Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, dugaan aliran dana
ke Muhaimin masih sebatas pengakuan beberapa tersangka ke media,
meskipun KPK juga sudah menerima informasi itu dari tersangka. "Belum
ada bukti," kata Johan.
Hari ini (15/9) KPK akan memeriksa Ali
Mudhori, orang dekat Muhaimin. Kemarin, mantan staf khusus tim asistensi
Muhaimin di Kemenakertrans itu datang ke KPK untuk mengonfirmasi
ketidakhadirannya dalam dua pemanggilan sebelumnya karena sakit.
Mengenai tudingan bahwa ia meminta uang suap PPDIT itu untuk Muhaimin,
Ali tak menjawab. "Besok saya diperiksa KPK. Usai pemeriksaan saya akan
gelar konferensi pers."
KPK juga belum berencana memanggil
kembali Andi Malarangeng. Namun, Johan menjelaskan, tak menutup
kemungkinan Andi akan kembali dipanggil jika penyidik membutuhkan
keterangannya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Sudi
Silalahi mengatakan, setiap ka sus yang melibatkan para menteri dari
masalah pri badi, apa lagi kasus hukum, selalu mendapat perhatian
Presiden Susilo Bambang Yudho yono dan menjadi bahan evaluasi. Namun,
presiden tak akan mengintervensi proses hukumnya.
Kalau ada pelanggaran hukum, tentu konsekuensinya yang bersangkutan, kata Sudi. c19/teguh firmansyah ed: rahmad budi harto
Andi Mallarangeng
Mantan
bendahara umum Partai Demokrat M Nazaruddin pernah menuduh Menteri
Pemuda dan Olahraga ini bersama adiknya, Choel Mallarangeng, sebagai
pengatur berbagai proyek di kementerian itu, termasuk proyek Wisma Atlet
SEA Games Palembang yang kasus suapnya menjerat Sekretaris Menpora,
Wafid Muharam. Andi dan Choel telah membantah keterlibatan mereka dan
menantang Nazar membuktikan tuduhannya itu. Setelah tertangkap, Nazar
belum membuktikan tudingannya mengenai keterlibatan Andi dan politikus
Partai Demokrat lainnya dalam berbagai proyek pemerintah.
Muhaimin Iskandar
Namanya
disebut-sebut sebagai calon penerima suap Rp 1,5 miliar, terkait proyek
Per ce patan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi di
kementerian yang dipimpinnya. KPK menangkap dua pejabat Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yaitu Kepala Bagian Perencanaan dan
Evaluasi Ditjen P2KT Dadong Irbarelawan dan Sekretaris Ditjen P2KT I
Nyoman Suisanaya, bersama karyawan PT Alam Jaya Papua Dharnawati selaku
kontraktor proyek. Mereka mengaku uang suap itu akan diberikan kepada
Muhaimin melalui para staf khususnya, yaitu Fauzi dan Ali Mudhori. (Red)
(Muhammad Hafil, Ditto Papilanda)

Jakarta. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengaku tidak tahu menahu...
Read more...Aburizal Bakrie melalui pengacaranya mengadukan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan,...
Read more...Basrief mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan jaksa yang masih nekat terima suap. Jakarta....
Read more...Akhir-akhir ini, gerakan kaum muda perlahan mulai menggeliat kembali seiring dengan meluasnya...
Read more...Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar serta Menteri Pemuda dan Olahraga...
Read more...Salah satu indikator positif ekonomi Indonesia pasca krisis ekonomi 2008/2009 adalah terus...
Read more...Kekuasaan negara berdasarkan Pasal 18 UUD 1945 kini terdesentralisasi seluas-luasnya ke daerah....
Read more...Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, ketika berbicara di depan...
Read more...Lunturnya kepercayaan orang kepada Partai Demokrat seperti ditulis Hanta Yuda AR (Kompas,...
Read more...Mantan wakil presiden Jusuf Kalla mengatakan, demokrasi itu sebenarnya bisa menciptakan...
Read more...