Akhir-akhir ini, gerakan kaum muda perlahan mulai menggeliat kembali
seiring dengan meluasnya kekecewaan masyarakat pada rezim Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY). Meski sifatnya masih sporadis dan mengusung tema yang
berbeda-beda, alurnya mulai jelas: kaum muda skeptis bahkan pesimis pada
pemerintahan SBY yang sudah berjalan 7 tahun.
Bandul kekuasaan SBY lebih mengarah pada politik kaum elit dan
menempatkan rakyat pemilik mandat di wilayah pinggiran. Salah satu
contoh politik kaum elit yang dijunjung SBY adalah reshuffle yang
baru saja dilakukan. Perombakan kian meneguhkan dominasi elit parpol
dalam kabinet sehingga wajar jika postur birokrasi-oligarkis berporos
pada politik representasi. Dalam konteks situasi politik yang sedang
mengalami sumbatan seperti sekarang, kaum muda seyogyanya meneguhkan
kembali arah politiknya agar tetap memberi kontribusi pada bangsa dan
negara.
Spirit Sumpah Pemuda
Pada momentum Hari Sumpah Pemuda kali ini, ada baiknya kita
melakukan refleksi kembali munculnya spirit dan kekuatan politik pemuda
yang telah menghantarkan NKRI sperti sekarang. Sedikit flashback
sejarah nasional kita, artikulasi semangat pemuda Indonesia tak hanya
dengan mengangkat senjata tapi dengan pemikiran dan pencerahan. Caranya,
tentu saja melalui konsolidasi kekuatan personal dan organisasional
yang memiliki spirit perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat
bangsa ini tanpa pamrih berlebih.
Pada tahun 1925 para pemuda yang terhimpun dalam Perhimpunan
Indonesia di negeri Belanda, telah melahirkan Manifesto Politik yang
intinya menegaskan prinsip perjuangan yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty
(kemerdekaan). Konggres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 menjadi momentum
lanjutan dari artikulasi politik kaum muda yang luar biasa. Sebuah
manifesto dari para pemuda menjadi pintu menentukan bagi proses ikrar
bersama sebuah masyarakat negara-bangsa (nation-state) yang berslogan
“satu nusa, satu bangsa, satu bahasa" yakni Indonesia. Momentum ini
melahirkan konsolidasi kekuatan politik pemuda untuk sama-sama
memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara yang dicita-citakan.
Kohesivitas kebangsaan dalam bingkai kepemudaan saat itu, mampu
melintasi fragmentasi kepentingan primordial, etnis, dan ideologi.
Singkatnya, para pemuda bisa menyatu dalam keberbedaan.
Proses berdemokrasi yang dinamis di setiap era yang bangsa Indonesia
lalui, kerapkali melahirkan situasi krisis. Sejarah pun mencatat,
setiap krisis muncul dan setiap perubahan era politik di negeri ini,
senantiasa membutuhkan kontribusi politik kaum muda.
Presiden Soekarno sempat berujar “Berikan kepadaku 10 pemuda, maka
akan ku ubah dunia”. Sebuah pernyataan retoris yang menekankan
optimisme, jika kaum muda mau dan mampu membangun kapasitas individual
mereka, tentu para pemuda ini akan menjadi sebuah harapan bagi berbagai
perbaikan bangsa dan negara ini.
Politik para pemuda kerapkali mengalami dilema antara perjuangan
idealisme dengan fakta politik yang berkembang. Biasanya ada 3 faktor
yang kerap mereduksi idealisme para pemuda. Pertama, menguatnya kembali referent power
yakni banyaknya politisi muda di partai politik, DPR maupun di
birokrasi yang muncul ke permukaan karena menyandarkan dirinya ke
kekuataan politik kerabat, patron politik dan nepotisme. Menguatnya
kembali fenomena ini bisa kita amati di Pemilukada, Pemilu legislatif
2009, hingga proses regenerasi di tubuh parpol. Kekuataan “garansi”
berbasis geneologi politik seolah mengingatkan kita pada saat Orde Baru
sedang berjaya.
Kedua, dorongan rasionalitas instrumental yang kian mengental. Hal
ini dipicu oleh banyaknya para petualang politik yang sudah kadung
dilabeli “aktivis” atau “mantan aktivis” yang justru meruntuhkan citra
politik pemuda yang idealis menjadi machieavellist. Migrasi vertikal
mantan aktivis masuk ke DPR maupun ke birokrasi ternyata bukannya
mengubah kondisi menjadi lebih baik, melainkan kian meneguhkan wajah
buram politik di level suprastruktur. Bahkan ada kecenderungan politisi
muda di DPR maupun di birokrasi, tak berbeda dengan politisi tua-kawakan
yang juga menyandarkan kiprah politiknya pada persekongkolan jahat
dengan cara ‘bancakan’ uang rakyat. Kasus Nazaruddin menjadi potret
buram kiprah politisi muda.
Ketiga, kian marginalnya politik kerja dilakukan oleh para politisi
muda dan banyak beralih ke politik citra yang kerap melahirkan disonansi
kognitif di masyarakat. Tak dinafikan, di era industri media yang gegap
gempita sosok politisi muda menjadi icon yang layak dijual. Kita bisa
melihat, hampir setiap hari politisi muda kita live talkshow di
televisi, radio, berkomentar di koran dan internet. Tetapi berapa
banyak politisi muda yang memilih jalan hening bekerja untuk rakyat
pedalaman, mengagregasi kepentingan politik di basis konstituennya?
Revitalisasi Politik
Kiprah politik kaum muda tak hanya diukur dari kuantitas melainkan
kualitas kerjanya. Saat ini, kita butuh revitalisasi gerakan politik
kaum muda untuk menghidupkan kembali semangat pencerahan yang belakangan
tertutupi pekatnya politik transaksional.
Pertama, kita harus merevitalisasi kembali asketisme politik yang
saat ini sudah dianggap utopia oleh banyak pihak. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, asketisme diberi arti 'paham yang mempraktikkan
kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban'. Sementara dalam Encyclopedia of the Middle Ages, Volume 2 (2000: 118)
asketis merupakan sejumlah latihan penyesalan diri, hidup kekurangan,
menahan malu atau aib, serta kontemplasi untuk menuju jiwa yang
sempurna. Dengan demikian, asketisme politik secara umum bisa kita
pahami sebagai upaya menjalankan aktivitas berpolitik berdasarkan pada
prinsip kesederhanaan dan etika serta memproyeksikan tindakannya demi
kemaslahatan rakyat banyak. Basis rasionalitasnya jika meminjam kategori
dari Weber adalah wertrationalitat atau rasionalitas-bernilai.
Prilaku politik mengacu pada komitmen rasional akan nilai yang
dihayatinya secara pribadi baik nilai etis, estetis maupun religius.
Kedua, arah politik kaum muda harus selaras dengan denyut kebutuhan
dan aspirasi masyarakat. Artinya, kaum muda harus menjadi katalisator
perubahan yang pro rakyat, meski pun harus berhadap-hadapan dengan rezim
berkuasa. ***

Jakarta. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengaku tidak tahu menahu...
Read more...Aburizal Bakrie melalui pengacaranya mengadukan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan,...
Read more...Basrief mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan jaksa yang masih nekat terima suap. Jakarta....
Read more...Akhir-akhir ini, gerakan kaum muda perlahan mulai menggeliat kembali seiring dengan meluasnya...
Read more...Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar serta Menteri Pemuda dan Olahraga...
Read more...Salah satu indikator positif ekonomi Indonesia pasca krisis ekonomi 2008/2009 adalah terus...
Read more...Kekuasaan negara berdasarkan Pasal 18 UUD 1945 kini terdesentralisasi seluas-luasnya ke daerah....
Read more...Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, ketika berbicara di depan...
Read more...Lunturnya kepercayaan orang kepada Partai Demokrat seperti ditulis Hanta Yuda AR (Kompas,...
Read more...Mantan wakil presiden Jusuf Kalla mengatakan, demokrasi itu sebenarnya bisa menciptakan...
Read more...