Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com
Hotspot: BI Setuju Kenaikan Harga BBM Bersubsidi - Thursday, 23 February 2012 12:20
Hotspot: Menteri Perindustrian komentari "Esemka" - Wednesday, 11 January 2012 09:57
Hotspot: 750 Personel Polri dan TNI Amankan Timika - Wednesday, 30 November 2011 12:05
Hotspot: Satu Lagi Korban Jembatan Kartanegara Ditemukan - Monday, 28 November 2011 10:00
Hotspot: Freeport Tawarkan Gaji Rp 12,7 juta/bulan - Wednesday, 23 November 2011 14:00
Hotspot: BI Keluarkan Kebijakan Lalu Lintas Devisa - Monday, 03 October 2011 15:31
Hotspot: Wujudkan "Internal Act Security" For Indonesia - Thursday, 29 September 2011 08:37
Hotspot: Bom Solo Tidak Membatalkan Sidang Asian Parliamentary Assembly - Wednesday, 28 September 2011 15:46
Hotspot: KPK Periksa Ali Mudhori dan Iskandar Pasajo - Thursday, 15 September 2011 11:55

Menyoal Label Teroris JAT

User Rating:  / 0

Pada 23 Februari 2012, Amerika melalui departemen luar negeri menyatakan bahwa JAT, Jamaah Anshorut Tauhid adalah organisasi teroris yang ada di luar negeri. Dalam waktu yang sama, Kementrian Keuangan negara ini juga menyebut tiga pentolan organisasi ini; M Achwan, Sonhadi dan Abdul Rosyid Ba'asyir terlibat dalam hal perekrutan dan pendanaan.

Keputusan ini haruslah dibaca dalam kerangka teori keamanan internasional, realist doctrine yang mengajarkan bahwa sebuah negara harus melindungi diri mereka sendiri dengan cara apapun meskipun harus melakukan intervensi terhadap kedaulatan hukum negara lain. Merasa gregetan dengan sistem hukum di Indonesia yang masih sangat lembek terhadap teroris seperti belum adanya payung hukum tentang pembekuan aset bagi para teroris, maka Amerikapun mengeluarkan ketetapan di atas. Langkah ini dilakukan sebelum mereka kecolongan seperti misalnya jika suata saat JAT secara organisasi ataupun anggotanya melakukan aksi terorisme di luar Indonesia dan akhirnya merugikan kepentingan Amerika.

Namun disaat yang sama, ketetapan itu justru membesarkan JAT dan nama-nama yang disebut diatas. Jika dulunya mereka ini hanya seekor kucing, maka kini mereka menjadi tidak hanya seekor macan tapi naga yang bisa terbang dan dari mulutnya dapat mengeluarkan api yang sangat panas. Yang dulunya mereka tidak ada cakar yang tajam, sekarang mereka dipaksa menjadi monster ganas yang siap menghabisi siapa yang tidak disukainya.

Bagi kalangan umum, tuduhan menjadi teroris itu menyakitkan. Tapi bagi kalangan akar rumput tertentu, tuduhan itu justru sebuah penghormatan. Apalagi yang menyebut teroris itu adalah negara sebesar Amerika.

Seorang aktifis gerakan jihad pernah menunjukkan dengan bangga kepada penulis sebuah kartu nama dengan foto dirinya sebagai cover sebuah majalah mingguan Amerika dengan tag line yang serem: “The most dangerous person in Southeast Asia”. (Manusia paling berbahaya di Asia Tenggara).

Melaui sosok Sonhadi, implikasi dari penetapan ini dapat terbaca dengan jelas. Awalnya dia hanya tokoh pinggiran dalam gerakan. Dia bukanlah seorang veteran Afganistan yang sangar seperti Abu Tholut atau kombatan Moro yang licin seperti Umar Patek. Ia tidak faham bikin bom seperti Dr. Azhari. Ia hanya alumni Ngruki yang bahasa Arabnya pun terbatas. 'Karier' tangga teroris pertamanya adalah ketika ia dituduh pernah bertemu dangan Noordin M Top dan membantu proses pernikahan keduanya dengan Munfiatun, murid pengajiannya di Jawa Timur. Karena tindakan itulah Sonhadi kemudian harus mendekam di LP Cipinang. Ironisnya, justru pada fase inilah ia naik karier tangga teroris kedua karena ia bertemu dengan para 'teroris' sebenarnya. Ketetapan Amerika ini kembali mengukuhkan bapak dua anak yang sangat sayang keluarga ini menjadi seorang teroris yang namanya diakui oleh Amerika.

Sonhadi pelan tapi pasti akan menjadi sosok yang mendapatkan tempat tersendiri di kalangan para aktifis gerakan jihad. Lelaki asli Bangil ini menjadi ikon baru dari kalangan muda JAT yang akan siap melakukan perlawanan terhadap kepentingan Amerika. Padahal organisasi di mana Sonhadi bernaung, JAT, sering dicap oleh aktifis akar rumput gerakan jihad sebagai organisasi jihad 'banci'. Terutama karena posisi sikap mereka yang sering tidak jelas terhadap aksi jihad.

Misalnya berkaitan dalam menetapkan apakah Indonesia itu 'dar harb' (wilayah perang) atau 'dar amn' (wilayah aman). Penetapan ini sangat penting karena akan berdampak langsung pada tingkat operasional gerakan di lapangan: Jika meyakini bahwa Indonesia 'dar harb' maka melakukan perlawan dengan senjata diperbolehkan. Tapi jika meyakini Indonesia adalah 'dar amn', maka pilihan aksi dengan senjata tidaklah diperbolehkan dan oleh karena itu berdakwah adalah pilihan yang paling tepat.

Dalam pernyataan terbuka mereka, JAT menyatakan bahwa pemerintah Indonesia ini adalah thoghut karena umat Islam hari ini belumlah merdeka sepenuhnya dalam melaksanakan syariat Islam di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah ini adalah kafir maka haruslah dilawan.

Namun di sini lain, JAT sebagai organisasi secara terbuka menolak aksi terorisme. Terutama jika ada orang yang pernah menjadi anggota JAT dan kemudian terlibat dalam aksi terorisme seperti yang terjadi di Cirebon, Solo dan Bima. Kemudian dalam kasus pelatihan militer di Aceh, secara hukum di Indonesia beberapa pengurus JAT termasuk Abu Bakar Ba'asyir terbukti terlibat dalam kasus tersebut. Namun, lagi-lagi secara terbuka, JAT menolak bahwa pelatihan militer di Aceh tersebut bukanlah program JAT secara organisasi. Wajar jika kemudian dikalangan akar rumput gerakan jihad bertanya: 'Lalu dalam kapasitas apa JAT ikut membantu program Aceh?

Bagaimana negara seharusnya menyikapi ketetapan Amerika ini?

Pertama. Negara kita menganut hukum positif. Artinya negara hanya dapat menetapkan sebuah organisasi atau seseorang itu sebagai teroris melalui proses pengadilan dan bukti-bukti hukum yang kuat. Meskipun pilihan sikap ini juga menjadi tantangan yang tidak mudah karena sebagai negara demokrasi, negara harus menghadapi sebuah organisasi yang secara terang-terangan dalam manifesto politiknya menolak demokrasi itu sendiri.

Kedua. Amerika tentu tidak 'ngawur' dalam mengeluarkan ketetapan tersebut. Oleh karena itu, pihak aparat dapat menggunakannya sebagai informasi intelejen yang masih sangat mentah dan diperlukan kerja keras untuk menjadikannya sebagai alat bukti di pengadilan. Aparat kitapun haram untuk menelan mentah-mentah informasi inteljen ini karena jika itu terjadi maka tudingan bahwa isu terorisme ini adalah sebuah proyek Amerika akan menjadi kenyataan yang akan diamini oleh masyakarat kebanyakan.

Oleh Noor Huda Ismail, alumnus Ngruki, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Organisasi pendampingan mantan kombatan

RI Jadi Pusat Keuangan Islam Global?

User Rating:  / 0

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekitar 227 juta jiwa. Indonesia juga negara yang memiliki kekayaan alam melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi. Tingkat pendapatan masyarakat kita juga relatif tinggi, sekitar 3.000 dolar AS per kapita, yang menunjukkan tingginya daya beli.

Di samping itu, kebiasaan berekonomi secara syariah (ekonomi Islam) sesungguhnya telah menjadi bagian dari sosial budaya masyarakat Indonesia sejak dulu, seperti telah dikenal dengan istilah 'sistem paroan' yang sejalan dengan prinsip bagi hasil dalam ekonomi Islam. Minat masyarakat terhadap kegiatan ekonomi Islam khususnya perbankan syariah di Indonesia juga tinggi. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa sebanyak 89 persen masyarakat kita dapat menerima prinsip syariah.

Sayangnya, dengan berbagai keunggulan di atas, Indonesia hingga kini belum mampu menempatkan diri sebagai pusat keuangan Islam global. Berdasarkan data yang dirilis Zawya (2010), pangsa pasar keuangan Islam Indonesia di dunia hanya sekitar tiga persen, jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang penduduk Muslimnya hanya sekitar 28 juta. Pasar keuangan Islam Malaysia memiliki pangsa sekitar 23 persen atau tertinggi di dunia. Selanjutnya diikuti Arab Saudi 19 persen, Kuwait 9 persen, Luksemburg 7 persen, Bahrain 6 persen, Cayman Island 4 persen, Irlandia 4 persen, dan lainnya 32 persen.

Posisi Indonesia dalam pasar keuangan Islam global juga dapat dilihat dari pangsa pasar penerbitan sukuk di pasar global. Selama 2010, total penerbitan sukuk secara global mencapai 1,5 miliar dolar AS atau meningkat 54 persen dibandingkan posisi pada 2009. Malaysia tetap mendominasi sebagai penerbit sukuk terbesar di dunia dengan pangsa pasar sebesar 78 persen dan negara-negara di kawasan Middle East and North Africa (MENA) sebesar 13,4 persen. Sementara itu, Indonesia hanya menguasai sekitar enam persen dari seluruh penerbitan sukuk di dunia.

Rendahnya kontribusi Indonesia dalam sistem keuangan Islam global tersebut tentunya kurang menggembirakan. Rendahnya peran Indonesia dalam sistem keuangan Islam global ini semestinya menjadi catatan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan dalam pengembangan sistem keuangan Islam kita. Pertanyaannya, mengapa ini bisa terjadi dan bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam sistem keuangan Islam secara global?

Saya berpendapat, setidaknya dua hal berikut perlu menjadi perhatian jika kita menginginkan Indonesia menjadi salah satu pusat keuangan Islam global. Pertama, perlu dipahami bahwa sistem keuangan Islam bukanlah sebagai pelengkap (complementary) bagi sistem keuangan yang saat ini berlaku di dunia. Kini, sistem keuangan Islam telah menjadi sistem keuangan alternatif yang suatu saat berpotensi mendominasi dalam sistem keuangan global jika sistem ini telah teruji.

Di negara-negara lain, tak terkecuali di negara yang penduduknya mayoritas non-Muslim, perkembangan sistem keuangan Islam kini telah sangat maju. Tidak hanya karena potensi pasarnya yang tinggi, tetapi sistem keuangan Islam juga mampu menjawab setiap kebutuhan para pelakunya. Hampir seluruh jenis kebutuhan investasi dan pembiayaan dapat dipenuhi melalui inovasi skema keuangan Islam. Perlu diingat bahwa sistem keuangan Islam tidak hanya sistem bagi hasil (mudharabah). Sistem keuangan Islam memiliki beragam skema pembiayaan (financing scheme) yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan investor dan pengusaha.

Di Indonesia, perkembangan inovasi keuangan Islam relatif tertinggal. Penyebabnya cukup beragam. Pertama, minat investor asing yang menuntut investasi secara Islam masuk ke Indonesia, khususnya investor dari kawasan MENA, relatif rendah. Akibatnya, inovasi skema keuangan Islam di Indonesia menjadi tidak berkembang. Kedua, iklim investasi di Indonesia kurang kondusif bagi masuknya investor dengan kebutuhan khusus (special demand), seperti investor dengan tuntutan investasi secara Islam. Ketiga, regulasi sektor keuangan kita relatif ketat sehingga inovasi keuangan menjadi terhambat. Kita menyadari bahwa regulasi sektor keuangan yang ketat memang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, tentunya tetap perlu mengakomodasi kebutuhan untuk meningkatkan pertumbuhan keuangan Islam secara signifikan melalui inovasi yang lebih dipermudah.

Kedua, sistem keuangan Islam bukanlah sistem keuangan inferior sekalipun belum superior di pasar keuangan global. Sistem keuangan Islam kini memiliki tuntutan yang sangat tinggi. Para pemilik modal menuntut perlakuan dengan standar produk dan layanan yang tinggi. Itulah mengapa sistem keuangan Islam justru berkembang pesat di Eropa, Singapura, dan negara-negara pusat keuangan global lainnya sekalipun negara-negara tersebut bukan negara berpenduduk mayoritas Muslim. Ini mengingat negara-negara di Eropa, Singapura, dan pusat-pusat keuangan lainnya telah memiliki sistem keuangan yang sophisticated, yang memungkinkan para pemilik modal yang menuntut investasi secara Islam dapat terpenuhi seluruh kebutuhannya.

Negara-negara di Eropa, Singapura, dan pusat-pusat keuangan global lainnya adalah negara dengan kualitas investasi yang sangat baik. Sektor keuangan mereka sangat terbuka yang memungkinkan arus masuk dan keluar investasi secara mudah. Mereka juga memiliki infrastruktur dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Iklim investasinya juga sangat mendukung yang dibuktikan dengan indeks daya saing, indeks persepsi korupsi, dan derajat kebebasan berusaha yang baik pula. Berbagai kondisi inilah yang menyebabkan negara-negara tersebut mengalami pertumbuhan sektor keuangan yang sangat pesat, termasuk keuangan Islam.

Sebagai perbandingkan, mari kita lihat Indonesia. Sebagaimana pernah saya kemukakan di sini (Republika, 2 Mei 2011), derajat liberalisasi ekonomi di Indonesia sejatinya masih relatif rendah (mostly unfree) atau cenderung tidak bebas (tidak liberal). Di kawasan Asia, peringkat kebebasan ekonomi Indonesia masih kalah dibanding Hong Kong, Singapura, Australia, Selandia Baru, Makau, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.

Indeks kemudahan berbisnis (doing business index) kita juga relatif rendah. Menurut Bank Dunia, doing business index Indonesia berada di urutan ke-121 dari 183 negara. Sementara itu, sekalipun indek daya saing (global competitiveness index/GCI) Indonesia pada tahun ini meningkat (peringkat 44 atau meningkat dibanding posisi sebelumnya peringkat 54), terlihat bahwa masalah institusi-termasuk di dalamnya sistem hukum dan birokrasi-menduduki peringkat tidak terlalu bagus, yaitu peringkat 61.

Mengingat bahwa para investor berbasis Islam juga menuntut hal-hal yang sama lazimnya berlaku dalam kegiatan investasi, memperbaiki kualitas sistem keuangan dan iklim investasi, termasuk juga meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastrukturnya menjadi hal yang mutlak yang harus kita lakukan. Tanpa hal itu, jangan berharap Indonesia dapat menjadi salah satu pusat keuangan Islam global yang diperhitungkan.

Oleh Sunarsip

Tarif Listrik akan Naik 10 Persen

User Rating:  / 0

April tahun 2012 masyarakat harus siap-siap menerima kenyataan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Pasalnya, pemerintah mengkaji kenaikan TDL dalam upaya tidak membebani anggaran subsidi energi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo dalam jumpa pers terkait Nota Keuangan dan RAPBN 2012 di Jakarta, Selasa (16/8). menjelaskan, mungkin pada April 2012, TDL akan dinaikkan 10 persen secara proporsional. Namun, tidak naik bagi rumah tangga miskin yang menggunakan tenaga di bawah 240 VA.

Kebijakan ini akan dibicarakan terlebih dahulu dengan DPR, apalagi rencana pemerintah untuk menaikkan TDL 10- 15 persen tahun ini tidak disetujui oleh DPR.

Dengan demikian, hal ini tentu sesuatu yang harus dibicarakan dengan DPR dalam diskusi RAPBN 2012. Karena tahun lalu rencananya menaikkan 10- 15 persen, tetapi tidak berhasil mendapatkan persetujuan dari DPR.
“Jadi hal ini tantangan pemerintah untuk bisa berdiskusi dengan DPR,” ujar Agus.

Menurutnya, penyesuaian ini dimungkinkan karena sejak 2004 pemerintah belum pernah menaikkan harga TDL dan rencana ini tidak akan siginifikan memengaruhi laju inflasi pada 2012 yang telah ditetapkan sebesar 5,3 persen.
Pemerintah menurunkan anggaran subsidi energi listrik pada RAPBN 2012 menjadi Rp44,96 triliun, lebih rendah dari APBN Perubahan 2011 sebesar Rp65,6 triliun.

Untuk kebijakan subsidi listrik pada 2012, pemerintah akan menjaga penyediaan tenaga listrik secara efisien dan menjaga kesinambungan kepentingan penyediaan listrik dan konsumen.

Pemerintah juga, kata Menkeu, memastikan akan memberikan subsidi listrik kepada golongan pelanggan yang lebih tepat sasaran dengan didukung kebijakan tarif.

Selain itu, pemerintah menetapkan margin PLN pada 2012 sebesar 7 persen serta susut jaringan hingga 8,5 persen dan melakukan optimalisasi bauran energi atau energy mix untuk bahan bakar pembangkit terutama basis batubara dan gas.
Sementara untuk BBM bersubsidi, Agus Marto menyatakan pemerintah akan melakukan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi melalui sistem tertutup dan bertahap sehingga kuota BBM bisa terjaga pada 40 juta kiloliter hingga akhir tahun mendatang.
Pemerintah memastikan akan melakukan pengendalian BBM bersubsidi secara tertutup dan bertahap sebagai salah satu upaya untuk menjaga kuota volume serta anggaran subsidi BBM pada 2012.

Menkeu menjelaskan, kuota volume pada 2012 ditetapkan sebesar 40 juta kiloliter dan anggaran subsidi BBM sebesar Rp123,6 triliun atau turun dari yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2011 Rp129,7 triliun.

Untuk itu, lanjut Agus, pemerintah akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap volume BBM bersubsidi yang didistribusikan kepada masyarakat dan pengaturan tata niaga BBM.

Menteri ESDM Darwin Z Shaleh menambabhkan, pihaknya akan menjalankan UU No 30 tahun 2007 untuk memastikan subsidi diterima bagi golongan tidak mampu.


Selain golongan itu, tidak diberikan subsidi, termasuk industri, pertambangan, dan perkebunan. Guna menjalankan aturan tersebut, pemerintah akan melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah untuk mengawasinya, sehingga tidak ada kebocoran dan penyalahgunaan.

“Sejauh ini pemerintah daerah sudah berperan, tetapi belum cukup berperan sungguh-sungguh dalam mengawasi subsidi BBM tersebut,” kata Darin Saleh. (am/aw/iz)

Krisis AS dan Prospek Perekonomian Kita

User Rating:  / 0

Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar & Poor’s (S&P) dari AAA menjadi AA+. Nouriel Roubini, profesor dari New York University, memprediksi AS akan mengalami krisis lanjutan (double-dip crisis).

Ibarat orang sakit yang sudah diinjeksi dan digelontor obat, tetap saja kondisinya tidak segera pulih. Pemulihan sementara hanya tergantung pada stimulus fiskal (penerbitan obligasi pemerintah) dan moneter (suku bunga 0,25 persen).

Dalam situasi ekonomi berkekurangan darah (anemic), jika dihantam gejolak, risikonya bisa fatal. Menanggapi perkembangan ini, paling tidak ada dua pertanyaan yang menarik diajukan. Pertama, bagaimana skenario pemulihan ekonomi AS. Kedua, secara lebih spesifik, apa dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

Krisis lanjutan di AS ini boleh dibilang lebih gawat dari krisis 2007/2008. Waktu itu, yang kolaps adalah lembaga-lembaga keuangan yang merembet ke beberapa sektor riil. Beberapa langkah yang ditempuh, di antaranya melakukan merger dan akuisisi, likuidasi, dan bailout.

Bahkan bailout juga melibatkan tiga perusahaan automotif ternama (Ford, Chevrolet, Chrysler) atau dikenal sebagai “Trio Detroit”. Banyak perusahaan yang kolaps pada waktu itu, kini segar kembali. Pada 2011 ini kinerja Ford bahkan diprediksi melampaui Toyota. Kebangkitan kembali sektor swasta AS dibayar sangat mahal, karena kini pemerintah yang mengalami “gagal bayar”.

Rasio utang pemerintah terhadap perekonomian (PDB) nyaris menyentuh 100 persen, sementara tingkat defisit juga sudah sangat tinggi (sekira 10 persen). Puncaknya, penurunan rating oleh Dagong Credit Rating Agency (China) dan Standard and Poor’s (AS).

Pasar Modal

Penurunan peringkat utang tentu sangat memengaruhi investor di pasar keuangan. Hampir semua pasar modal di seluruh dunia mengalami penurunan. Bursa Asia juga tak kalah seru penurunannya. Indeks Kospi (Korea Selatan) mengalami penurunan nyaris 10 persen.

Demikian pula dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami fase bearish cukup panjang. Walaupun kemarin bangkit kembali dengan kenaikan 128,46 poin yang didorong optimisme investor terhadap perekonomian global setelah The Fed mempertahankan suku bunga yang rendah.

Namun, kekhawatiran masih tetap ada, karena perilaku investor sangat dipengaruhi oleh faktor kepanikan, bukan kalkulasi rasional. Di AS, krisis bahkan sebegitu seriusnya, karena menyangkut kepercayaan investor terhadap otoritas (pemerintah). Sebenarnya, apa yang salah jika rasio utang AS melebihi 100 persen? Jepang bahkan memiliki rasio utang sekira 200 persen.

Tetapi, investor tidak mengalami kepanikan. Masalah paling mendasar dari perekonomian AS, ketidakpastian situasi ekonomi diikuti dengan ketidakpastian politik. Para investor tidak melihat prospek pemulihan ekonomi, selama pertikaian antara kubu Demokrat dan Republik masih terus berlangsung.

Meski mereka sepakat menaikkan pagu utang AS, tetapi Republik berhasil mendesakkan agenda untuk mengurangi defisit sebesar USD2,4 triliun selama 10 tahun ke depan. Dalam siaran persnya setebal delapan halaman, S&P menyebutkan alasan penurunan peringkat utang adalah soal efektivitas, stabilitas, dan kepastian pengambilan keputusan serta institusi politik AS terkait dengan tantangan perekonomian ke depan, serta kondisi fiskal.

Pertimbangan penting penurunan rating adalah ketidakpastian politik. Dengan ruang gerak yang sangat terbatas, sulit bagi pemerintah untuk melakukan stimulus ekonomi. Karena itu, secara teoritis, nilai investasi dalam bentuk dolar AS menurun. Peringkat utang AS berada di bawah Jerman misalnya.

Namun, dalam kenyataannya investor masih tetap memegang obligasi AS dengan tingkat bunga yang tidak berubah. Artinya, pasar modal bergerak di luar logika yang linear. Mereka panik terhadap penurunan rating utang AS, tetapi mereka tetap memegang instrumen investasi AS.

Dampaknya bagi Indonesia

Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya terakhir berjudul Monitor Pasar Modal Asia menyatakan, Indonesia termasuk negara yang secara umum tidak terlalu terpengaruh terhadap dinamika perekonomian AS. Meskipun begitu, ada dua tekanan yang bisa memberikan “efek balik”.

Pertama, akibat membanjirnya likuiditas dari negara maju ke negara berkembang, termasuk Indonesia, inflasi diperkirakan akan meningkat. Kedua, potensi ekspor akan menurun seiring melemahkan perekonomian AS dan kawasan Eropa. Menurut Weekly Debt Highlights edisi (8/08/2011), terbitan ADB, Indonesia mengalami penurunan tekanan inflasi pada Juli. Atau menurun dari 5,5 persen menjadi 4,6 persen untuk periode tahunan (year-on-year/yo-y).

Sementara laju pertumbuhan mencapai 6,5 persen pada kuartal kedua 2011, atau sama dengan laju pertumbuhan pada kuartal pertama tahun yang sama. Ekspor juga meningkat 49,3 persen y-o-y menjadi USD18,4 miliar pada Juni. Dengan kondisi fundamental yang cukup solid, sepertinya Indonesia tetap akan diminati investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Meski demikian, harus tetap ada kewaspadaan yang prima terkait kondisi terakhir ini. Pertama, gejolak nilai tukar yang mencerminkan arus modal asing masuk dan keluar harus dikelola secara memadai. Kedua, harus lebih banyak instrumen keuangan yang tersedia, sehingga jika ada aliran modal masuk, terdiversifikasi ke beberapa basis investasi.

Hal yang juga penting adalah memperkuat fundamental ekonomi supaya tidak mudah goyah oleh gejolak di pasar keuangan. Proporsi pasar obligasi terhadap PDB di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan negaranegara lain atau baru mencapai 14,9 persen. Bandingkan misalnya, Malaysia (98,6 persen), Thailand (66,8 persen), Singapura (75 persen).

Jangan sampai, sektor keuangan yang proporsinya masih kecil tersebut membuat fundamental ekonomi terombang-ambing. Jika itu terjadi, perekonomian kita memang benar-benar rapuh.

A PRASETYANTOKO
Kepala Institute for Research & Social Service Universitas Atmajaya Yogyakarta

Barat Membajak Momentum Demonstrasi Libya

User Rating:  / 0

Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah melakukan konsolidasi pasca Khadafi, menunjukkan adanya beberapa bekas elemen dalam pemerintahan Khadafi.Gambaran ini menunjukkan, rakyat Libya sudah pasti akan dikesampingkan, bahkan kelompok-kelompok pro- Barat malah bisa leluasa untuk memainkan kekuasaan dengan berkolaborasi dengan bekas kroni Khadafi.

Harian The Times melaporkan detil bocoran setebal 70 halaman, disitu disebutkan NTC sesungguhnya didesain negara Barat melalui bantuan Inggris. Dokumen itu juga menyebutkan bagaimana NTC meren-canakan rekonstruksi Libya setelah Khadafi meninggalkan negara itu, bahkan mereka akan merencanakan akan menyiarkan dalam radio bahwa suplai gas dan minyak akan disalurkan ke negara Barat.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencana itu, ketika kemenangan telah diraih, namun seperti laporan the Times, rencana itu masih tetap saja kabur. Namun yang menarik adalah, kelompok pemberontak itu masih ragu-ragu apakah mereka dapat benar-benar bisa menggulingkah Khadafi. Mereka hanya bisa berharap ada perpecahan di dalam istana milik Khadafi sehingga mereka dapat dengan mudah mengambil alih kekuasaan.
Laporan itu juga menyuguhkan bagaimana NTC menganggap penggulingan Khadafi sebagai sesuatu yang mustahil, dan juga sangat tidak mungkin serangan militer udara Barat dapat begitu saja menggulingkan Khadafi. Mereka hanya bisa berharap dan menunggu, sampai demonstrasi berlanjut dan terjadi perpecahan dan kudeta dari dalam, sehingga NTC akan dengan mudah masuk dan merealisasikan rencananya.

Seperti halnya permainan menunggu, kata pengamat Tim Black, ini merupakan perwujudan dari keman-dulan, dan bukan sebuah perencanaan manuver yang taktis.

Didukung adanya kerenggangan antara pemimpin NTC yang sedang menunggu dan rakyat yang harus siap memberikan kejutan. Saat ini, NTC hanya terfokus pada upaya melobi dunia Barat ketimbang maraih simpati dari rakyat Libya yang mereka klaim sebagai representasi sesungguhnya.

Upaya penggalangan dukungan internasional membuah kan hasil, dengan dukungan 30 negara yang tergabung dalam kelompok “Libya Contact Group” termasuk diantara Perancis, Inggris, AS, Jerman dan Jepang.
Sebagian negara itu bahkan, mengalihkan aset pemerintah Libya kepada NTC, sedangkan Perancis dan Inggris mengusir diplomat Khadafi dan mengundang kelompok NTC menjadi perwakilan resmi Libya di negara masing-masing.

Jubir Pemerintah Inggris menyatakan, “Kami sekarang menganggap NTC sebagai perwakilan resmi dari rakyat Libya. Kami telah mengundang mereka untuk mendirikan kantor untuk mewakili aspirasi rakyat Libya.
Namun dengan kriteria apa pengakuan terhadap NTC sebagai wakil resmi rakyat Libya? Meraka juga ti-dak dipilih oleh rakyat Libya. Sepertinya pemerintah Inggris mengakui mereka dengan hanya satu alasan; mereka bukan Khadafi, itu saja. Padahal, sebenarnya, sebagian dari mereka adalah mantan kroni-kroni Khadafi, Kepala NTC misalnya, adalah Mustofa Abdul Jalil yang juga bekas menteri kehakiman rezim Khadafi. Di sayap ekonomi NTC adalah Mahmoud Jibril yang pernah menjadi memimpin lembaga ekonomi Khadafi.

Meskipun mereka megklaim 95 persen pasukan pemberontak loyal terhadap NTC, masih patut siper-tanyakan, mereka juga belum tentu mendapat dukungan dari rakyat Libya. Lebih jauh lagi, pemecatan Jalil baru-baru ini juga membuktikan adanya kritik yang sama seperti ketika terjadi pembunuhan terhadap Jenderal Abdel Fattah Younes di Benghazi, itulah mengapa sangat sulit menyatakan NTC sebagai lembaga yang solid.
Satu-satunya alasan penerimaan dunia internasional adalah NTC mau mengikuti pola yang direncanakan Barat terhadap masa depan Libya.

Dalam sebuah kunjungan di Washington tahun ini, seorang wakil NTC memastikan kepada Kemenlu AS bahwa kalangan ekstrimis tidak akan memainkan perannya dalam meramu masa depan Libya.
Jaminan itu menunjukkan NTC hanya menggambarkan visi politiknya yang mampu meraih simpati Washington agar nantinya Libya mulus menuju negara yang demokratis sehingga semua orang dapat memiliki kebebasan berpendapat dan bersikap untuk masa depannya.

Jika belum-belum sudah akan menyingkirkan ekstrimisme, tentu saja, kebebasan itu tidak akan terwujud. Bahkan, ini merupakan benih-benih perpecahan internal, dimana nantinya besar kemungkinan Libya akan menjadi Irak jilid II, NTC berencana akan meneruskan sistem keamanan yang dibentuk Khadafi. Jika itu dilakukan tentu saja banyak elemen pemberontak yang akan mundur karena kebanyakan pemberontak ingin semua rejim Khadafi harus pergi.

Dengan masih bertahannya Khadafi di dalam negeri dan tidak adanya keinginan untuk pergi dari Libya, dan ketika NTC hanya bisa menunggu sambil berharap ada momentum menggulingkannya, maka akan tidak jelas berapa lama lagi kondisi seperti ini terus berlangsung. Yang paling jelas adalah, siapapun yang akan memimpin negara ini pasca Khadafi, prospek rakyat Libya untuk menentukan nasibnya sendiri, sampai sejauh ini, tidak akan menjadi bahasan sama sekali.(rid)

Forecasting Lainnya

Menyoal Label Teroris JAT

Menyoal Label Teroris JAT

Pada 23 Februari 2012, Amerika melalui departemen luar negeri menyatakan bahwa JAT, Jamaah...

Read more...

RI Jadi Pusat Keuangan Islam Global?

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekitar 227 juta jiwa....

Read more...

Krisis AS dan Prospek Perekonomian Kita

Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar...

Read more...

Tarif Listrik akan Naik 10 Persen

April tahun 2012 masyarakat harus siap-siap menerima kenyataan dengan kenaikan tarif dasar...

Read more...

Barat Membajak Momentum Demonstrasi Libya

Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah...

Read more...

Tionghoa Dimata para "guiqiao" di China

Meningkatnya sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN,...

Read more...

Manusia Pancasila Bukan Entitas Abstrak

BANYAKNYA permasalahan yang terjadi sejak bergulirnya era reformasi hingga kini akibat...

Read more...

Regenerasi Koruptor

Tentunya bukan saatnya kita mempersalahkan sebuah era. Kita juga tidak bisa semata mempersalahkan...

Read more...

Menyelamatkan Jakarta

TAHUN 2011 ini, Jakarta memperingati hari jadinya yang ke 484. Ada kesan, Jakarta semakin...

Read more...

Berjuang di Jalan Berlubang

Infrastruktur jalan mengalami kerusakan di mana-mana. Perbaikan di jalur pantura...

Read more...
Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com