Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com
Hotspot: BI Setuju Kenaikan Harga BBM Bersubsidi - Thursday, 23 February 2012 12:20
Hotspot: Menteri Perindustrian komentari "Esemka" - Wednesday, 11 January 2012 09:57
Hotspot: 750 Personel Polri dan TNI Amankan Timika - Wednesday, 30 November 2011 12:05
Hotspot: Satu Lagi Korban Jembatan Kartanegara Ditemukan - Monday, 28 November 2011 10:00
Hotspot: Freeport Tawarkan Gaji Rp 12,7 juta/bulan - Wednesday, 23 November 2011 14:00
Hotspot: BI Keluarkan Kebijakan Lalu Lintas Devisa - Monday, 03 October 2011 15:31
Hotspot: Wujudkan "Internal Act Security" For Indonesia - Thursday, 29 September 2011 08:37
Hotspot: Bom Solo Tidak Membatalkan Sidang Asian Parliamentary Assembly - Wednesday, 28 September 2011 15:46
Hotspot: KPK Periksa Ali Mudhori dan Iskandar Pasajo - Thursday, 15 September 2011 11:55

Tionghoa Dimata para "guiqiao" di China

User Rating:  / 0
PoorBest 

Meningkatnya sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN, merupakan ujian bagi semua pihak dalam rangka mendorong perkembangan ekonomi saat ini, perlu menahan diri. Bagi China tetap berpegang pada prinsip Deng Xiaoping merupakan ujian kesabaran. Deng menyatakan bahwa jika suatu masalah tidak dapat diselesaikan saat ini, maka biarlah generasi penerus yang menyelesaikannya dan penting menonjolkan kerjasama. Di lain soal, HKSIS menilai Indonesia memiliki pengaruh positif yang diakui internasional. Pemerintah Indonesia, menurut para "guiqiao" telah mengeluarkan berbagai kebijakan positif terhadap Warga Negara Indonesia etnis Tionghoa, sehingga menurut pengamatan para "guiqiao" di China yang pernah lama tinggal di Indonesia, mereka merasa Indonesia adalah tanah air pertamanya.

Dalam kesempatan tujuan mengunjungi Hong Kong ikut serta konferensi, pada tanggal 21 - 22 Juni 2011, Drs. Wijaya juga secara langsung menghadiri konferensi "Chinese Overseas : Culture, Religions and Worldview" di The Chinese University of Hongkong, yang diselenggarakan oleh The International Society for The Study of Chinese Overseas (ISSCO) pimpinan Prof. Leo Suryadinata. Hadir dalam konferensi tersebut sekitar 200 orang pakar dan pemerhati masalah Overseas Chinese dari berbagai negara, antara lain pakar masalah Tionghoa Indonesia dari The University of Melbourne, Dr. Charles A. Coppel; pakar masalah Tionghoa Indonesia dari The Overseas Chinese University of Xiamen China, Prof. Wang Aiping; serta sejumlah akademisi dari Australia, Kanada, China, Perancis, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Myanmar, Belanda, Selandia Baru, Filipina, Rusia, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol, Taiwan, Thailand, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam. Dari 130 makalah yang dipresentasikan, 8 diantaranya berkaitan dengan perkembangan masalah Tionghoa di Indonesia, antara lain tentang agama Khonghucu dan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap masalah Tionghoa di Indonesia.

Berbagai hal yang dibicarakan dalam konferensi antara lain pembicaraan pemahaman dari Overseas Chinese yang merupakan suatu komunitas yang mempunyai dua sifat, yaitu heterogen dan homogen. Bersifat heterogen, karena mereka tersebar di berbagai negara di dunia, menyesuaikan diri dengan budaya dan agama negara setempat, serta mempunyai worldview yang berlainan pula. Bersifat homogen karena merupakan satu keturunan bangsa China dan menjadikan China sebagai tanah leluhurnya, sehingga hak dan kepentingannya dilindungi oleh Pemerintah Republik Rakyat China melalui The Overseas Chinese Affairs Office of the State Council dan Pemerintah Taiwan melalui Overseas Compatriot Affairs Commision.

Prof. Leo Suryadinata membagi empat pilar identitas budaya orang Tionghoa di Indonesia, yaitu Organisasi Etnis Tionghoa, Media Massa Berbahasa Mandarin, Sekolah Tionghoa dan Agama Tionghoa. Menurut Prof. Leo, agama Khonghucu merupakan salah satu identitas budaya Etnis Tionghoa di Indonesia, dan Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengakui Khonghucu sebagai agama. Dalam seminar pembahasan masalah lain, masih terjadi perdebatan tentang pentingnya pemisahan secara tegas arti dari "Overseas Chinese - Huaqiao" (warga negara RRC yang tinggal di luar negeri) dan "Orang Tionghoa - Huaren" (keturunan etnis Tionghoa yang telah menjadi warga negara di negara mereka tinggal), dimana sejumlah pakar masih menganggap "Huaren" sebagai "Overseas Chinese". Menurut Drs. Wijaya, penyelenggaraan konferensi seperti ini sangatlah penting, sehingga perlu dipertimbangkan konferensi ISSCO tahun 2015 dapat diselenggarakan di Indonesia, setelah penyelenggaraan konferensi di Korea (2012), Kanada (2013), dan Malaysia (2014). Penyelenggaraan konferensi dapat dilakukan atas kerjasama ISSCO dengan salah satu universitas yang ada di Indonesia, seperti Universitas Indonesia atau Universitas Gajah Mada. Hal ini akan mempunyai dampak positif bagi Indonesia, baik dari sisi ekonomi maupun pengenalan pluralistik budaya Indonesia kepada para pakar dari berbagai negara di dunia.

Red.

Forecasting Lainnya

Menyoal Label Teroris JAT

Menyoal Label Teroris JAT

Pada 23 Februari 2012, Amerika melalui departemen luar negeri menyatakan bahwa JAT, Jamaah...

Read more...

RI Jadi Pusat Keuangan Islam Global?

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekitar 227 juta jiwa....

Read more...

Krisis AS dan Prospek Perekonomian Kita

Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar...

Read more...

Tarif Listrik akan Naik 10 Persen

April tahun 2012 masyarakat harus siap-siap menerima kenyataan dengan kenaikan tarif dasar...

Read more...

Barat Membajak Momentum Demonstrasi Libya

Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah...

Read more...

Tionghoa Dimata para "guiqiao" di China

Meningkatnya sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN,...

Read more...

Manusia Pancasila Bukan Entitas Abstrak

BANYAKNYA permasalahan yang terjadi sejak bergulirnya era reformasi hingga kini akibat...

Read more...

Regenerasi Koruptor

Tentunya bukan saatnya kita mempersalahkan sebuah era. Kita juga tidak bisa semata mempersalahkan...

Read more...

Menyelamatkan Jakarta

TAHUN 2011 ini, Jakarta memperingati hari jadinya yang ke 484. Ada kesan, Jakarta semakin...

Read more...

Berjuang di Jalan Berlubang

Infrastruktur jalan mengalami kerusakan di mana-mana. Perbaikan di jalur pantura...

Read more...
Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com