Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah melakukan konsolidasi pasca Khadafi, menunjukkan adanya beberapa bekas elemen dalam pemerintahan Khadafi.Gambaran ini menunjukkan, rakyat Libya sudah pasti akan dikesampingkan, bahkan kelompok-kelompok pro- Barat malah bisa leluasa untuk memainkan kekuasaan dengan berkolaborasi dengan bekas kroni Khadafi.
Harian The Times melaporkan detil bocoran setebal 70 halaman, disitu disebutkan NTC sesungguhnya didesain negara Barat melalui bantuan Inggris. Dokumen itu juga menyebutkan bagaimana NTC meren-canakan rekonstruksi Libya setelah Khadafi meninggalkan negara itu, bahkan mereka akan merencanakan akan menyiarkan dalam radio bahwa suplai gas dan minyak akan disalurkan ke negara Barat.
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencana itu, ketika
kemenangan telah diraih, namun seperti laporan the Times, rencana itu
masih tetap saja kabur. Namun yang menarik adalah, kelompok pemberontak
itu masih ragu-ragu apakah mereka dapat benar-benar bisa menggulingkah
Khadafi. Mereka hanya bisa berharap ada perpecahan di dalam istana milik
Khadafi sehingga mereka dapat dengan mudah mengambil alih kekuasaan.
Laporan itu juga menyuguhkan bagaimana NTC menganggap penggulingan
Khadafi sebagai sesuatu yang mustahil, dan juga sangat tidak mungkin
serangan militer udara Barat dapat begitu saja menggulingkan Khadafi.
Mereka hanya bisa berharap dan menunggu, sampai demonstrasi berlanjut
dan terjadi perpecahan dan kudeta dari dalam, sehingga NTC akan dengan
mudah masuk dan merealisasikan rencananya.
Seperti halnya permainan menunggu, kata pengamat Tim Black, ini merupakan perwujudan dari keman-dulan, dan bukan sebuah perencanaan manuver yang taktis.
Didukung adanya kerenggangan antara pemimpin NTC yang sedang menunggu dan rakyat yang harus siap memberikan kejutan. Saat ini, NTC hanya terfokus pada upaya melobi dunia Barat ketimbang maraih simpati dari rakyat Libya yang mereka klaim sebagai representasi sesungguhnya.
Upaya penggalangan dukungan internasional membuah kan hasil, dengan
dukungan 30 negara yang tergabung dalam kelompok “Libya Contact Group”
termasuk diantara Perancis, Inggris, AS, Jerman dan Jepang.
Sebagian negara itu bahkan, mengalihkan aset pemerintah Libya kepada
NTC, sedangkan Perancis dan Inggris mengusir diplomat Khadafi dan
mengundang kelompok NTC menjadi perwakilan resmi Libya di negara
masing-masing.
Jubir Pemerintah Inggris menyatakan, “Kami sekarang menganggap NTC
sebagai perwakilan resmi dari rakyat Libya. Kami telah mengundang mereka
untuk mendirikan kantor untuk mewakili aspirasi rakyat Libya.
Namun dengan kriteria apa pengakuan terhadap NTC sebagai wakil resmi
rakyat Libya? Meraka juga ti-dak dipilih oleh rakyat Libya. Sepertinya
pemerintah Inggris mengakui mereka dengan hanya satu alasan; mereka
bukan Khadafi, itu saja. Padahal, sebenarnya, sebagian dari mereka
adalah mantan kroni-kroni Khadafi, Kepala NTC misalnya, adalah Mustofa
Abdul Jalil yang juga bekas menteri kehakiman rezim Khadafi. Di sayap
ekonomi NTC adalah Mahmoud Jibril yang pernah menjadi memimpin lembaga
ekonomi Khadafi.
Meskipun mereka megklaim 95 persen pasukan pemberontak loyal
terhadap NTC, masih patut siper-tanyakan, mereka juga belum tentu
mendapat dukungan dari rakyat Libya. Lebih jauh lagi, pemecatan Jalil
baru-baru ini juga membuktikan adanya kritik yang sama seperti ketika
terjadi pembunuhan terhadap Jenderal Abdel Fattah Younes di Benghazi,
itulah mengapa sangat sulit menyatakan NTC sebagai lembaga yang solid.
Satu-satunya alasan penerimaan dunia internasional adalah NTC mau
mengikuti pola yang direncanakan Barat terhadap masa depan Libya.
Dalam sebuah kunjungan di Washington tahun ini, seorang wakil NTC
memastikan kepada Kemenlu AS bahwa kalangan ekstrimis tidak akan
memainkan perannya dalam meramu masa depan Libya.
Jaminan itu menunjukkan NTC hanya menggambarkan visi politiknya yang
mampu meraih simpati Washington agar nantinya Libya mulus menuju negara
yang demokratis sehingga semua orang dapat memiliki kebebasan
berpendapat dan bersikap untuk masa depannya.
Jika belum-belum sudah akan menyingkirkan ekstrimisme, tentu saja, kebebasan itu tidak akan terwujud. Bahkan, ini merupakan benih-benih perpecahan internal, dimana nantinya besar kemungkinan Libya akan menjadi Irak jilid II, NTC berencana akan meneruskan sistem keamanan yang dibentuk Khadafi. Jika itu dilakukan tentu saja banyak elemen pemberontak yang akan mundur karena kebanyakan pemberontak ingin semua rejim Khadafi harus pergi.
Dengan masih bertahannya Khadafi di dalam negeri dan tidak adanya keinginan untuk pergi dari Libya, dan ketika NTC hanya bisa menunggu sambil berharap ada momentum menggulingkannya, maka akan tidak jelas berapa lama lagi kondisi seperti ini terus berlangsung. Yang paling jelas adalah, siapapun yang akan memimpin negara ini pasca Khadafi, prospek rakyat Libya untuk menentukan nasibnya sendiri, sampai sejauh ini, tidak akan menjadi bahasan sama sekali.(rid)
Pada 23 Februari 2012, Amerika melalui departemen luar negeri menyatakan bahwa JAT, Jamaah...
Read more...Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekitar 227 juta jiwa....
Read more...Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar...
Read more...April tahun 2012 masyarakat harus siap-siap menerima kenyataan dengan kenaikan tarif dasar...
Read more...Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah...
Read more...Meningkatnya sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN,...
Read more...BANYAKNYA permasalahan yang terjadi sejak bergulirnya era reformasi hingga kini akibat...
Read more...Tentunya bukan saatnya kita mempersalahkan sebuah era. Kita juga tidak bisa semata mempersalahkan...
Read more...TAHUN 2011 ini, Jakarta memperingati hari jadinya yang ke 484. Ada kesan, Jakarta semakin...
Read more...Infrastruktur jalan mengalami kerusakan di mana-mana. Perbaikan di jalur pantura...
Read more...
