Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika
Serikat (AS) oleh Standar & Poor’s (S&P) dari AAA menjadi AA+.
Nouriel Roubini, profesor dari New York University, memprediksi AS akan
mengalami krisis lanjutan (double-dip crisis).
Ibarat
orang sakit yang sudah diinjeksi dan digelontor obat, tetap saja
kondisinya tidak segera pulih. Pemulihan sementara hanya tergantung pada
stimulus fiskal (penerbitan obligasi pemerintah) dan moneter (suku
bunga 0,25 persen).
Dalam situasi ekonomi berkekurangan darah (anemic),
jika dihantam gejolak, risikonya bisa fatal. Menanggapi perkembangan
ini, paling tidak ada dua pertanyaan yang menarik diajukan. Pertama,
bagaimana skenario pemulihan ekonomi AS. Kedua, secara lebih spesifik,
apa dampaknya bagi perekonomian Indonesia.
Krisis lanjutan di AS
ini boleh dibilang lebih gawat dari krisis 2007/2008. Waktu itu, yang
kolaps adalah lembaga-lembaga keuangan yang merembet ke beberapa sektor
riil. Beberapa langkah yang ditempuh, di antaranya melakukan merger dan
akuisisi, likuidasi, dan bailout.
Bahkan bailout juga
melibatkan tiga perusahaan automotif ternama (Ford, Chevrolet,
Chrysler) atau dikenal sebagai “Trio Detroit”. Banyak perusahaan yang
kolaps pada waktu itu, kini segar kembali. Pada 2011 ini kinerja Ford
bahkan diprediksi melampaui Toyota. Kebangkitan kembali sektor swasta AS
dibayar sangat mahal, karena kini pemerintah yang mengalami “gagal
bayar”.
Rasio utang pemerintah terhadap perekonomian (PDB) nyaris
menyentuh 100 persen, sementara tingkat defisit juga sudah sangat
tinggi (sekira 10 persen). Puncaknya, penurunan rating oleh Dagong
Credit Rating Agency (China) dan Standard and Poor’s (AS).
Pasar Modal
Penurunan
peringkat utang tentu sangat memengaruhi investor di pasar keuangan.
Hampir semua pasar modal di seluruh dunia mengalami penurunan. Bursa
Asia juga tak kalah seru penurunannya. Indeks Kospi (Korea Selatan)
mengalami penurunan nyaris 10 persen.
Demikian pula dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami fase bearish cukup
panjang. Walaupun kemarin bangkit kembali dengan kenaikan 128,46 poin
yang didorong optimisme investor terhadap perekonomian global setelah
The Fed mempertahankan suku bunga yang rendah.
Namun,
kekhawatiran masih tetap ada, karena perilaku investor sangat
dipengaruhi oleh faktor kepanikan, bukan kalkulasi rasional. Di AS,
krisis bahkan sebegitu seriusnya, karena menyangkut kepercayaan investor
terhadap otoritas (pemerintah). Sebenarnya, apa yang salah jika rasio
utang AS melebihi 100 persen? Jepang bahkan memiliki rasio utang sekira
200 persen.
Tetapi, investor tidak mengalami kepanikan. Masalah
paling mendasar dari perekonomian AS, ketidakpastian situasi ekonomi
diikuti dengan ketidakpastian politik. Para investor tidak melihat
prospek pemulihan ekonomi, selama pertikaian antara kubu Demokrat dan
Republik masih terus berlangsung.
Meski mereka sepakat menaikkan
pagu utang AS, tetapi Republik berhasil mendesakkan agenda untuk
mengurangi defisit sebesar USD2,4 triliun selama 10 tahun ke depan.
Dalam siaran persnya setebal delapan halaman, S&P menyebutkan alasan
penurunan peringkat utang adalah soal efektivitas, stabilitas, dan
kepastian pengambilan keputusan serta institusi politik AS terkait
dengan tantangan perekonomian ke depan, serta kondisi fiskal.
Pertimbangan
penting penurunan rating adalah ketidakpastian politik. Dengan ruang
gerak yang sangat terbatas, sulit bagi pemerintah untuk melakukan
stimulus ekonomi. Karena itu, secara teoritis, nilai investasi dalam
bentuk dolar AS menurun. Peringkat utang AS berada di bawah Jerman
misalnya.
Namun, dalam kenyataannya investor masih tetap memegang
obligasi AS dengan tingkat bunga yang tidak berubah. Artinya, pasar
modal bergerak di luar logika yang linear. Mereka panik terhadap
penurunan rating utang AS, tetapi mereka tetap memegang instrumen
investasi AS.
Dampaknya bagi Indonesia
Bank
Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya terakhir berjudul Monitor Pasar
Modal Asia menyatakan, Indonesia termasuk negara yang secara umum tidak
terlalu terpengaruh terhadap dinamika perekonomian AS. Meskipun begitu,
ada dua tekanan yang bisa memberikan “efek balik”.
Pertama,
akibat membanjirnya likuiditas dari negara maju ke negara berkembang,
termasuk Indonesia, inflasi diperkirakan akan meningkat. Kedua, potensi
ekspor akan menurun seiring melemahkan perekonomian AS dan kawasan
Eropa. Menurut Weekly Debt Highlights edisi (8/08/2011), terbitan ADB,
Indonesia mengalami penurunan tekanan inflasi pada Juli. Atau menurun
dari 5,5 persen menjadi 4,6 persen untuk periode tahunan (year-on-year/yo-y).
Sementara
laju pertumbuhan mencapai 6,5 persen pada kuartal kedua 2011, atau sama
dengan laju pertumbuhan pada kuartal pertama tahun yang sama. Ekspor
juga meningkat 49,3 persen y-o-y menjadi USD18,4 miliar pada Juni.
Dengan kondisi fundamental yang cukup solid, sepertinya Indonesia tetap
akan diminati investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Meski
demikian, harus tetap ada kewaspadaan yang prima terkait kondisi
terakhir ini. Pertama, gejolak nilai tukar yang mencerminkan arus modal
asing masuk dan keluar harus dikelola secara memadai. Kedua, harus lebih
banyak instrumen keuangan yang tersedia, sehingga jika ada aliran modal
masuk, terdiversifikasi ke beberapa basis investasi.
Hal yang
juga penting adalah memperkuat fundamental ekonomi supaya tidak mudah
goyah oleh gejolak di pasar keuangan. Proporsi pasar obligasi terhadap
PDB di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan negaranegara
lain atau baru mencapai 14,9 persen. Bandingkan misalnya, Malaysia (98,6
persen), Thailand (66,8 persen), Singapura (75 persen).
Jangan
sampai, sektor keuangan yang proporsinya masih kecil tersebut membuat
fundamental ekonomi terombang-ambing. Jika itu terjadi, perekonomian
kita memang benar-benar rapuh.
A PRASETYANTOKO
Kepala Institute for Research & Social Service Universitas Atmajaya Yogyakarta
Pada 23 Februari 2012, Amerika melalui departemen luar negeri menyatakan bahwa JAT, Jamaah...
Read more...Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekitar 227 juta jiwa....
Read more...Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar...
Read more...April tahun 2012 masyarakat harus siap-siap menerima kenyataan dengan kenaikan tarif dasar...
Read more...Sebuah dokumen rahasia yang bocor menunjukkan, Majelis Transisi Nasional (NTC) yang sudah...
Read more...Meningkatnya sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN,...
Read more...BANYAKNYA permasalahan yang terjadi sejak bergulirnya era reformasi hingga kini akibat...
Read more...Tentunya bukan saatnya kita mempersalahkan sebuah era. Kita juga tidak bisa semata mempersalahkan...
Read more...TAHUN 2011 ini, Jakarta memperingati hari jadinya yang ke 484. Ada kesan, Jakarta semakin...
Read more...Infrastruktur jalan mengalami kerusakan di mana-mana. Perbaikan di jalur pantura...
Read more...
