Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com
Hotspot: BI Setuju Kenaikan Harga BBM Bersubsidi - Thursday, 23 February 2012 12:20
Hotspot: Menteri Perindustrian komentari "Esemka" - Wednesday, 11 January 2012 09:57
Hotspot: 750 Personel Polri dan TNI Amankan Timika - Wednesday, 30 November 2011 12:05
Hotspot: Satu Lagi Korban Jembatan Kartanegara Ditemukan - Monday, 28 November 2011 10:00
Hotspot: Freeport Tawarkan Gaji Rp 12,7 juta/bulan - Wednesday, 23 November 2011 14:00
Hotspot: BI Keluarkan Kebijakan Lalu Lintas Devisa - Monday, 03 October 2011 15:31
Hotspot: Wujudkan "Internal Act Security" For Indonesia - Thursday, 29 September 2011 08:37
Hotspot: Bom Solo Tidak Membatalkan Sidang Asian Parliamentary Assembly - Wednesday, 28 September 2011 15:46
Hotspot: KPK Periksa Ali Mudhori dan Iskandar Pasajo - Thursday, 15 September 2011 11:55

Jakarta Dikepung Pusat Perbelanjaan Asing

User Rating:  / 0
PoorBest 

MEMPERINGATI HUT ke-484 tahun pada Juni 2011 ini wajah Jakarta memang berbeda. Tapi perbedaannya yang paling kontras adalah dari sisi semakin ramainya pusat perbelanjaan bermerek asing atau peritel asing yang menyewa mal-mal di Jakarta. Bahkan di kampung-kampung, bentuk mini market, terlepas apapun namanya, sudah merambah, meskipun untuk urusan yang mini ini terlarang dimasuki asing.

INILAH Jakarta. Ketika masih diserbu banjir dan macet, kota ini juga sedang menghadapi serbuan supermarket, departemen store, hypermarket, dan pusat perkulakan dengan nama-namanya yang unik seperti mal, plaza, city atau merek lain. Menariknya, ramai pula peritel asing yang juga menawarkan berbagai barang bermerek asing pula.

Berjalanlah di sepanjang Jalan Soepomo-Jalan Saharjo, Jakarta Selatan. Di sana ada dua gerai atau outlet 7-Eleven, merek Amerika yang di Indonesia dioperatori PT Modern Putra Indonesia, anak usaha PT Modern Internasional Tbk, hanya dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Bergerak menuju ke Tugu Pancoran, gerai-gerai lain Mc Donald, dan sejumlah minimarket merek lain juga sudah ada sebelumnya.
Mereka semua adu kuat-kuatan, adu lama-lamaan. Operasi peritel dengan pola 24 jam telah mendorong gaya hidup baru di Jakarta. Jika dulu begadang di mulut gang, kini mereka begadang di tempat tongkrongan baru. Jangan heran, jika kemacetan pun tidak hanya muncul pagi hari, tapi juga pada malam hari.

Itu baru beberapa nama saja. Belum lagi dengan Tesco, Lotte, Jasco, Isetan, Seibu, Central, Ikea, hingga WalMart. Mereka menambah sesak persaingan setelah kehadiran Giant, Carrefour, Debenheim, Sogo dan merek lainnya.

Bayangkan, 7-Eleven saja mempunyai target pembangunan 1.000 outlet di Jabodetabek dalam waktu 10 tahun ke depan.

Jakarta sepertinya tidak bisa berbuat banyak dalam urusan ini. Dalam Perpres No 111/2007, pemerintah memperkenankan asing untuk menanamkan modalnya hingga 100 persen untuk supermarket, departemen store, hypermarket, dan pusat perkulakan dengan luas 1.200 meter persegi. Sementara itu DNI memasukkan minimarket dan convenience store dalam kelompok modal dalam negeri 100 persen dengan luas 400 meter persegi.

Banyak yang percaya, hadirnya peritel asing itu sejalan dengan makin bertumbuhnya populasi dan tingkat daya beli masyarakat. Hasil riset Cushman & Wakefield Research, tahun lalu, gerai ritel food and beverage diprediksi akan terus mendominasi permintaan sewa di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Penambahan pasokan sebesar 33.000 m2 akan datang dari proyek ritel yang sudah ada seperti yang terjadi di triwulan VI-2010, yaitu di proyek Epicentrum Walk dan Tanah Abang Blok B.

Total pasokan kumulatif sampai akhir 2010 akan mencapai 3,56 juta m2. terdiri dari 67,7 persen proyek ritel sewa dan 32,3 persen proyek ritel strata-title.

Proyek pusat perbelanjaan baru yang masuk pada 9 bulan pertama 2010 meliputi dua proyek strata-title seperti Jakarta Gems Center Rawabening di Jakarta Timur dan Tanah Abang Blok B di Jakarta Pusat serta tiga proyek ritel specialist/supporting, seperti Epicentrum Walk (CBD Jakarta), Menteng Central dan COne Plaza (Jakarta Pusat); dan 1 proyek ritel one-stop Gandaria City (Jakarta Selatan).
Dengan makin kompetitifnya pasar ritel, harga sewa pun diperkirakan akan tetap stabil dan para pengembang akan semakin hati-hati dalam menaikkan harga sewanya.

Kuliner asing
UNTUK urusan kuliner, penyerbuan kuliner asing di Jakarta sudah tiga tahun belakangan ini merebak dipajang di seluruh pusat perbelanjaan elit di ibukota, membuat pertanyaan miris mengenai nasib kuliner Indonesia.

Seperti terlihat di Mall Pondok Indah, Jakarta Selatan, tepatnya dilantai tiga hampir semua counter makanan dan kue menyajikan makanan dan kue berciri asing menjadi sajian berkelas sehingga bisa ditebak bila yang membeli pasti orang-orang berkelas pula.
Seperti dikatakan Hj Isah Nurman, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Cinere, saat ini dirinya selalu berkunjung ke sejumlah mal di Jakarta, terutama pusat perbelanjaan terkenal seperti Pondok Indah Mall tidak lagi bisa menemukan makanan dan kue khas Indonesia.

Saya lahir tahun 60-an di Bukit Tinggi. Pasti mengenal betul kue-kue atau makanan khas Indonesia, tapi ketika saya mau membeli karena kepengen, tidak lagi ditemukan disejumlah mall. Malah adanya di Senen dan Blok M. Saya suka sedih kenapa kue dan makanan khas kita tidak lagi ada yang menjual, kata Hj Isah Nurman yang datang bersama empat anaknya ke Jakarta, kemarin.

Kenyataan inilah yang kini terlihat jelas, kata Hj Isah Nurman. Dan kenyataan ini pula yang sangat menyakitkan hatinya, ketika ia hendak mencicipi kue-kue ala Indonesia di pusat perbelanjaan, ternyata yang hanya dipajang dan dijual makanan dan kue asing.

Di Blok M Plaza Jakarta, Pelita sempat menyusuri dan mencari kue-kue dan makanan Indonesia di sana, ternyata tidak lagi ditemukan. Hampir semua counter kue dan makanan menjual produk kue dan makanan asing.

Sebagai orang Indonesia, sepertinya kita bukan lagi hidup di tanah Nusantara, tetapi sudah hidup di negara asing, kata ibu Azisah Azis yang mengaku sudah sulit menemukan makana khas Indonesia disejumlah mal di Jakarta.

Bahkan bila ada yang menjual tempatnya berada di luar mal, sehingga sulit terlihat. Ini membuat Hj Isah Nurman dan ibu Azisah Azis menyesalkan pengelola pusat perbelanjaan elit di Jakarta yang tak lagi memperdulikan cirri khas makanan ala Indonesia.
Kita kalau mau membeli kue khas Indonesia, paling kita ke tempat kue subuh Senen atau tempat kue subuh Blok M. Kalau kita mencari di mal jangan harap menemukan kue lapis, kue bugis atau makanan daerah yang sangat membanggakan bangsa Indonesia, tuturnya berdua.

Kegalauan ini juga diungkap H Herman Gozali, warga Kota Depok, yang ditemui Pelita, kemarin, mengatakan, penyerbuan makanan dan kue-kue asing di sejumlah mal di Jakarta sebuah ketidakpedulian para pengelola pusat perbelanjaan terhadap makanan Indonesia.

Padahal makanan Indonesia lebih baik daripada makanan asing meskipun memiliki nilai lebih mahal, tetapi jangan lupa, justru makanan asing itu memiliki pemicu penyakit karena bahan makanannya banyak dicampur bahan kimia.

Jadi kita harus hati-hati membeli makanan asing, walaupun itu bergengsi. Lebih baik makanan kita yang lebih baik dan nikmat, kata H Herman.

Merebaknya makanan-makanan asing disejumlah pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta, Asisten Perekonomian dan Administrasi Kota Administrasi Jakarta Selatan Ahmad Sotar Harahap ketika ditemui Pelita di kantornya, Selasa (21/6), mengatakan, merebaknya makanan-makanan asing di mal sangat disesalkan.

Penjualan makanan asing di sejumlah mal, menurut Ahmad Sotar Harahap, sudah melanggar aturan kebangsaan, karena hasil karya bangsa Indonesia seperti makanan dan kue Indonesia, tidak lagi menjadi kebanggaan. Bahkan pihaknya akan melaporkan ke Walikota Jakarta Selatan atas banyaknya mal yang telah menjual makanan asing.

Bila ditelaah, ujar Sotar, penjualan makanan asing disejumlah mall di Jakarta telah menyakiti hati rakyat Indonesia, yang sejak dahulu telah membanggakan makanan-makanan daerah Indonesia. Pengelola mal tidak lagi mengindahkan kebanggaan makanan Indonesia, mereka lebih mementingkan keuntungan belaka, ketimbang menjual makanan Indonesia, turut Sotar.

Menurut dia, Pemerintah Kota Jakarta Selatan akan memanggil pengelola pusat perbelanjaan di sejumlah wilayah bila masyarakat telah meprotes keberadaan makanan dan kue khas Indonesia, yang telah dilupakan. Walikota sendiri telah membina pedagang kue-kue dan makanan subuh di Blok M, untuk melestarikan hasil kebanggaan bangsa Indonesia, kata Sotar.

Dikatakan Sotar, di bilangan Blok M dua tahun lalu, pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap pedagang kue dan makanan untuk menjual hasil kuliner Indonesia, karena makanan daerah lebih baik daripada makanan asing yang saat ini banyak dijual di pusat perbelanjaan.

Bahkan di kawasan Blok S, Kebayoran Baru, telah pula dilakukan pembinaan terhadap pedagang kecil yang diharapkan bisa mengangkat harkat makanan ala Indonesia, dari berbagai daerah di Indonesia. Jangan lupa dengan makanan dan kue Indonesia. Karena produk Indonesia seperti kue dan makanan lebih nikmat daripada kuliner asing,
Terbanyak di dunia
DOSEN Planologi Universitas Trisaksi Jakarta, Yayat Supriatna menyesalkan sikap Pemprov DKI Jakarta yang begitu mudahnya mengizinkan pembangunan mal, plaza, atau pusat perdagangan mewah.

Semestinya, selain jumlahnya dibatasi, jarak antarpusat perdagangan juga diatur sedemikian rupa sehingga semua pusat perdagangan bisa hidup dan tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Saat ini terkesan Pemprov DKI terlalu mengobral izin. Hal itu bisa dilihat dengan mudahnya para pengusaha pusat perbelanjaan mendapatkan izin. Tapi sayangnya hal itu tidak diiringi dengan perhitungan terhadap dampak lalu lintas atas pembangunan mal tersebut, jelasnya.

Padahal, lanjut Yayat, dengan pengalaman yang terjadi selama ini, hampir semua pusat perbelanjaan dipastikan menjadi titik kemacetan lalu lintas. Karena itu, untuk pembangunan pusat perbelanjaan, mestinya dilakukan analisis dampak sosialnya, termasuk dampak kemacetan lalu lintas bagi masyarakat lain.
Menurut dia, seharusnya dalam memberikan izin pembangunan mal, Pemprov DKI memperhitungkan berapa kebutuhan mal yang proporsional di Jakarta. Selain itu juga dilihat apakah pembangunan mal sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau tidak.

Kalau saat ini rasanya pertumbuhan mal terjadi secara sporadis, mal dibangun di segala tempat. Bahkan dibangun di kawasan yang akan dapat mematikan usaha kecil menengah (UKM), katanya.
Menurut dia, untuk memperhitungkan berapa jumlah pusat perbelanjaan yang dibutuhkan, Pemprov DKI dapat membaginya dengan jumlah penduduk yang ada di Jakarta.

Idealnya, lanjut Yayat, untuk 30.000 penduduk dibutuhkan satu pusat perbelanjaan pada level kelurahan. Sedangkan untuk 120.000 penduduk dibutuhkan satu pusat perbelanjaan di level kecamatan, dan untuk 450.000 ke atas dibutuhkan satu pusat perbelanjaan pada level wilayah kota.

Dengan demikian pembangunan mal-mal baik itu tingkat kecil, menengah atau pun besar dapat disesuaikan dengan jumlah penduduk. Kebutuhan penduduk terhadap kehadiran pusat perbelanjaan di suatu wilayah pun akan menjadi seimbang, tuturnya.

Jumlahnya pusat belanja yang ada di Jakarta mencapai 170 lebih dan telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Harusnya ada skala untuk mengatur agar jumlah mal tidak tumbuh dengan sangat pesat. Meski atas nama globalisasi dan perdagangan internasional, ujar Yayat.

Ketua Majelis Pertimbangan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Hasan Basri mengatakan dengan begitu mengguritanya pasar modern di Jakarta, sejumlah pasar tradisional terpaksa tutup dalam empat tahun terakhir. Contohnya Pasar Kebon Melati, Pasar Tulodong, Pasar Sudimampir, dan Pasar Kampung Melayu.

Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga, juga mengeluhkan soal keberadaan pasar modern yang jaraknya berdekatan dengan pasar tradisional. Hal ini, menurut dia, justru akan mematikan para pedagang kecil di pasar tradisional.

Peraturan Daerah (Perda) Perpasaran Swasta sebenarnya mengatur tentang lokasi pasar modern. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya 100-200 meter persegi harus berjarak 0,5 kilometer dari pasar lingkungan dan terletak di sisi jalan lingkungan/kolektor/arteri. Namun, banyak pasar modern menyalahi aturan ini.

Pengusaha lokal menjerit
MENJAMURNYA swalayan dan mal secara tidak langsung memukul pengusaha home industry di Jakarta. Salah satunya melanda pengusaha sepatu yang mengais rezeki di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) di Penggilingan, Jakarta Timur.

Harga produk yang ditawarkan para pengusaha papan bawah ini kalah bersaing dengan yang disuguhkan di swalayan maupun mal. Kondisi ini membuat masa kejayaan pengusaha yang mangkal di PIK Penggilingan, Jakarta Timur seperti di tahun 2000-an kini tinggal kenangan belaka. Namun, kondisi itu berbeda dengan pengusaha konveksi yang malah bisa dikatakan panen order, apalagi menjelang Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri.

Muhamad Faisal, pengusaha sepatu di PIK Penggilingan, Jakarta Timur menyebutkan, kondisi persepatuan di kawasan itu kian terpuruk saja. Padahal, mereka sudah menaruh harga murah. Kami sudah membuka harga paling murah, seperti halnya harga sepatu wanita Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Sepatu perkantoran untuk pria mencapai Rp 50.000 hingga Rp 100.000, katanya.

Sayangnya, harga murah itu belum bisa bersaing dengan barang pabrik yang dijual di swalayan serta mal yang bertebaran di hampir sudut Jakarta.

Mutunya pun kalah bersaing dengan produk pabrik. Hal itu yang membuat penghasilan para pedagang di kawasan PIK turun drastis.

Faisal asal Padang, Sumatera Barat sudah sejak 1991 membuka usaha sepatu di PIK mengungkapkan, omzetnya menurun sejak tahun 2006. Di tahun 2004 omzetnya setiap hari bisa mencapai Rp 2 juta lebih. Kini, untuk meraup setengahnya saja sudah susah. Untuk mendapatkan Rp 300.000 per hari saja sudah sangat sulit.

Pada kesempatan berbeda Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mendesak Pemprov DKI untuk menegakkan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) tentang lalulintas bagi pembangunan mal yang tengah berlangsung.

Semua mal yang ada saat ini selalu jadi biang macet karena lokasinya berdekatan dengan jalan raya. Apalagi yang letaknya di persimpangan jalan, kemacetan menjadi lebih parah lagi. Itu karena tidak ditegakkannya Amdal tentang lalulintas saat pembangunan mal, kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Royke Lumowa.

Royke menambahkan, banyak mal yang menjadi biang macet karena gedung tersebut tidak memiliki fasilitas jalan dan taman parkir yang memadai. Sebaiknya, pembangunan pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta, jeda dulu. Karena sudah terlalu banyak, sehingga menyebabkan simpul kemacetan. (kim/naz)

Research Lainnya

Fluktuasi Harga Minyak dan Pesimisme Makro Ekonomi ditahun 2012

Pada hari Kamis 16 Februari 2012, banyak media menulis soal pesimisme pemerintah terhadap...

Read more...

Reviu RAPBN 2012

Pekan lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan RAPBN 2012 beserta Nota Keuangannya...

Read more...
Ramadhan, Bulan Yang Istimewa

Ramadhan, Bulan Yang Istimewa

Ramadhan termasuk bulan arab yang dua belas.  Ia adalah bulan nan agung dalam agama...

Read more...

Zakat Kewajiban Agama yang Sering Terabaikan

Zakat sebagai rukun Islam merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu membayarnya sesuai...

Read more...

Tindakan Keji yang Tidak Dianggap Serius

Memperingati Hari Dukungan Internasional untuk Korban Penyiksaan (26 Juni), Komisi untuk Orang...

Read more...

Jakarta Dikepung Pusat Perbelanjaan Asing

MEMPERINGATI HUT ke-484 tahun pada Juni 2011 ini wajah Jakarta memang berbeda. Tapi perbedaannya...

Read more...

Damai Aceh, Menuju Damai Papua

PADA saat melakukan “Refleksi Tiga Tahun Perdamaian Aceh”, 15 Agustus 2008 di Banda Aceh,...

Read more...

Kader Berulah, Demokrat Babak Belur

Muhammad Nazaruddin dua kali mangkir dari panggilan KPK. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat...

Read more...

Di Ambang Perang Dunia Hacker II

Cyber-warfare mulai terlihat di pelupuk mata. Daya rusaknya melebihi perang konvensional,...

Read more...

Aksi Penculikan NII Kambuh Lagi

Kelompok penganut paham Negara Islam Indonesia kembali menebar teror. Mereka menculik...

Read more...
Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com