MEMPERINGATI
HUT ke-484 tahun pada Juni 2011 ini wajah Jakarta memang berbeda. Tapi
perbedaannya yang paling kontras adalah dari sisi semakin ramainya pusat
perbelanjaan bermerek asing atau peritel asing yang menyewa mal-mal di
Jakarta. Bahkan di kampung-kampung, bentuk mini market, terlepas apapun
namanya, sudah merambah, meskipun untuk urusan yang mini ini terlarang
dimasuki asing.
INILAH Jakarta. Ketika masih diserbu banjir dan macet, kota ini juga
sedang menghadapi serbuan supermarket, departemen store, hypermarket,
dan pusat perkulakan dengan nama-namanya yang unik seperti mal, plaza,
city atau merek lain. Menariknya, ramai pula peritel asing yang juga
menawarkan berbagai barang bermerek asing pula.
Berjalanlah di sepanjang Jalan Soepomo-Jalan Saharjo, Jakarta
Selatan. Di sana ada dua gerai atau outlet 7-Eleven, merek Amerika yang
di Indonesia dioperatori PT Modern Putra Indonesia, anak usaha PT Modern
Internasional Tbk, hanya dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Bergerak
menuju ke Tugu Pancoran, gerai-gerai lain Mc Donald, dan sejumlah
minimarket merek lain juga sudah ada sebelumnya.
Mereka semua adu kuat-kuatan, adu lama-lamaan. Operasi peritel
dengan pola 24 jam telah mendorong gaya hidup baru di Jakarta. Jika dulu
begadang di mulut gang, kini mereka begadang di tempat tongkrongan
baru. Jangan heran, jika kemacetan pun tidak hanya muncul pagi hari,
tapi juga pada malam hari.
Itu baru beberapa nama saja. Belum lagi dengan Tesco, Lotte, Jasco,
Isetan, Seibu, Central, Ikea, hingga WalMart. Mereka menambah sesak
persaingan setelah kehadiran Giant, Carrefour, Debenheim, Sogo dan merek
lainnya.
Bayangkan, 7-Eleven saja mempunyai target pembangunan 1.000 outlet di Jabodetabek dalam waktu 10 tahun ke depan.
Jakarta sepertinya tidak bisa berbuat banyak dalam urusan ini. Dalam
Perpres No 111/2007, pemerintah memperkenankan asing untuk menanamkan
modalnya hingga 100 persen untuk supermarket, departemen store,
hypermarket, dan pusat perkulakan dengan luas 1.200 meter persegi.
Sementara itu DNI memasukkan minimarket dan convenience store dalam
kelompok modal dalam negeri 100 persen dengan luas 400 meter persegi.
Banyak yang percaya, hadirnya peritel asing itu sejalan dengan makin
bertumbuhnya populasi dan tingkat daya beli masyarakat. Hasil riset
Cushman & Wakefield Research, tahun lalu, gerai ritel food and
beverage diprediksi akan terus mendominasi permintaan sewa di daerah
Jakarta dan sekitarnya.
Penambahan pasokan sebesar 33.000 m2 akan datang dari proyek ritel
yang sudah ada seperti yang terjadi di triwulan VI-2010, yaitu di proyek
Epicentrum Walk dan Tanah Abang Blok B.
Total pasokan kumulatif sampai akhir 2010 akan mencapai 3,56 juta
m2. terdiri dari 67,7 persen proyek ritel sewa dan 32,3 persen proyek
ritel strata-title.
Proyek pusat perbelanjaan baru yang masuk pada 9 bulan pertama 2010
meliputi dua proyek strata-title seperti Jakarta Gems Center Rawabening
di Jakarta Timur dan Tanah Abang Blok B di Jakarta Pusat serta tiga
proyek ritel specialist/supporting, seperti Epicentrum Walk (CBD
Jakarta), Menteng Central dan COne Plaza (Jakarta Pusat); dan 1 proyek
ritel one-stop Gandaria City (Jakarta Selatan).
Dengan makin kompetitifnya pasar ritel, harga sewa pun diperkirakan
akan tetap stabil dan para pengembang akan semakin hati-hati dalam
menaikkan harga sewanya.
Kuliner asing
UNTUK urusan kuliner, penyerbuan kuliner asing di Jakarta sudah
tiga tahun belakangan ini merebak dipajang di seluruh pusat perbelanjaan
elit di ibukota, membuat pertanyaan miris mengenai nasib kuliner
Indonesia.
Seperti terlihat di Mall Pondok Indah, Jakarta Selatan, tepatnya
dilantai tiga hampir semua counter makanan dan kue menyajikan makanan
dan kue berciri asing menjadi sajian berkelas sehingga bisa ditebak bila
yang membeli pasti orang-orang berkelas pula.
Seperti dikatakan Hj Isah Nurman, ibu rumah tangga yang tinggal di
kawasan Cinere, saat ini dirinya selalu berkunjung ke sejumlah mal di
Jakarta, terutama pusat perbelanjaan terkenal seperti Pondok Indah Mall
tidak lagi bisa menemukan makanan dan kue khas Indonesia.
Saya lahir tahun 60-an di Bukit Tinggi. Pasti mengenal betul kue-kue
atau makanan khas Indonesia, tapi ketika saya mau membeli karena
kepengen, tidak lagi ditemukan disejumlah mall. Malah adanya di Senen
dan Blok M. Saya suka sedih kenapa kue dan makanan khas kita tidak lagi
ada yang menjual, kata Hj Isah Nurman yang datang bersama empat anaknya
ke Jakarta, kemarin.
Kenyataan inilah yang kini terlihat jelas, kata Hj Isah Nurman. Dan
kenyataan ini pula yang sangat menyakitkan hatinya, ketika ia hendak
mencicipi kue-kue ala Indonesia di pusat perbelanjaan, ternyata yang
hanya dipajang dan dijual makanan dan kue asing.
Di Blok M Plaza Jakarta, Pelita sempat menyusuri dan mencari
kue-kue dan makanan Indonesia di sana, ternyata tidak lagi ditemukan.
Hampir semua counter kue dan makanan menjual produk kue dan makanan
asing.
Sebagai orang Indonesia, sepertinya kita bukan lagi hidup di tanah
Nusantara, tetapi sudah hidup di negara asing, kata ibu Azisah Azis yang
mengaku sudah sulit menemukan makana khas Indonesia disejumlah mal di
Jakarta.
Bahkan bila ada yang menjual tempatnya berada di luar mal, sehingga
sulit terlihat. Ini membuat Hj Isah Nurman dan ibu Azisah Azis
menyesalkan pengelola pusat perbelanjaan elit di Jakarta yang tak lagi
memperdulikan cirri khas makanan ala Indonesia.
Kita kalau mau membeli kue khas Indonesia, paling kita ke tempat kue
subuh Senen atau tempat kue subuh Blok M. Kalau kita mencari di mal
jangan harap menemukan kue lapis, kue bugis atau makanan daerah yang
sangat membanggakan bangsa Indonesia, tuturnya berdua.
Kegalauan ini juga diungkap H Herman Gozali, warga Kota Depok, yang
ditemui Pelita, kemarin, mengatakan, penyerbuan makanan dan kue-kue
asing di sejumlah mal di Jakarta sebuah ketidakpedulian para pengelola
pusat perbelanjaan terhadap makanan Indonesia.
Padahal makanan Indonesia lebih baik daripada makanan asing meskipun
memiliki nilai lebih mahal, tetapi jangan lupa, justru makanan asing
itu memiliki pemicu penyakit karena bahan makanannya banyak dicampur
bahan kimia.
Jadi kita harus hati-hati membeli makanan asing, walaupun itu
bergengsi. Lebih baik makanan kita yang lebih baik dan nikmat, kata H
Herman.
Merebaknya makanan-makanan asing disejumlah pusat perbelanjaan atau
mal di Jakarta, Asisten Perekonomian dan Administrasi Kota Administrasi
Jakarta Selatan Ahmad Sotar Harahap ketika ditemui Pelita di kantornya,
Selasa (21/6), mengatakan, merebaknya makanan-makanan asing di mal
sangat disesalkan.
Penjualan makanan asing di sejumlah mal, menurut Ahmad Sotar
Harahap, sudah melanggar aturan kebangsaan, karena hasil karya bangsa
Indonesia seperti makanan dan kue Indonesia, tidak lagi menjadi
kebanggaan. Bahkan pihaknya akan melaporkan ke Walikota Jakarta Selatan
atas banyaknya mal yang telah menjual makanan asing.
Bila ditelaah, ujar Sotar, penjualan makanan asing disejumlah mall
di Jakarta telah menyakiti hati rakyat Indonesia, yang sejak dahulu
telah membanggakan makanan-makanan daerah Indonesia. Pengelola mal tidak
lagi mengindahkan kebanggaan makanan Indonesia, mereka lebih
mementingkan keuntungan belaka, ketimbang menjual makanan Indonesia,
turut Sotar.
Menurut dia, Pemerintah Kota Jakarta Selatan akan memanggil
pengelola pusat perbelanjaan di sejumlah wilayah bila masyarakat telah
meprotes keberadaan makanan dan kue khas Indonesia, yang telah
dilupakan. Walikota sendiri telah membina pedagang kue-kue dan makanan
subuh di Blok M, untuk melestarikan hasil kebanggaan bangsa Indonesia,
kata Sotar.
Dikatakan Sotar, di bilangan Blok M dua tahun lalu, pihaknya telah
melakukan pembinaan terhadap pedagang kue dan makanan untuk menjual
hasil kuliner Indonesia, karena makanan daerah lebih baik daripada
makanan asing yang saat ini banyak dijual di pusat perbelanjaan.
Bahkan di kawasan Blok S, Kebayoran Baru, telah pula dilakukan
pembinaan terhadap pedagang kecil yang diharapkan bisa mengangkat harkat
makanan ala Indonesia, dari berbagai daerah di Indonesia. Jangan lupa
dengan makanan dan kue Indonesia. Karena produk Indonesia seperti kue
dan makanan lebih nikmat daripada kuliner asing,
Terbanyak di dunia
DOSEN Planologi Universitas Trisaksi Jakarta, Yayat Supriatna
menyesalkan sikap Pemprov DKI Jakarta yang begitu mudahnya mengizinkan
pembangunan mal, plaza, atau pusat perdagangan mewah.
Semestinya, selain jumlahnya dibatasi, jarak antarpusat perdagangan
juga diatur sedemikian rupa sehingga semua pusat perdagangan bisa hidup
dan tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Saat ini terkesan Pemprov DKI terlalu mengobral izin. Hal itu bisa
dilihat dengan mudahnya para pengusaha pusat perbelanjaan mendapatkan
izin. Tapi sayangnya hal itu tidak diiringi dengan perhitungan terhadap
dampak lalu lintas atas pembangunan mal tersebut, jelasnya.
Padahal, lanjut Yayat, dengan pengalaman yang terjadi selama ini,
hampir semua pusat perbelanjaan dipastikan menjadi titik kemacetan lalu
lintas. Karena itu, untuk pembangunan pusat perbelanjaan, mestinya
dilakukan analisis dampak sosialnya, termasuk dampak kemacetan lalu
lintas bagi masyarakat lain.
Menurut dia, seharusnya dalam memberikan izin pembangunan mal,
Pemprov DKI memperhitungkan berapa kebutuhan mal yang proporsional di
Jakarta. Selain itu juga dilihat apakah pembangunan mal sudah sesuai
dengan kebutuhan masyarakat atau tidak.
Kalau saat ini rasanya pertumbuhan mal terjadi secara sporadis, mal
dibangun di segala tempat. Bahkan dibangun di kawasan yang akan dapat
mematikan usaha kecil menengah (UKM), katanya.
Menurut dia, untuk memperhitungkan berapa jumlah pusat perbelanjaan
yang dibutuhkan, Pemprov DKI dapat membaginya dengan jumlah penduduk
yang ada di Jakarta.
Idealnya, lanjut Yayat, untuk 30.000 penduduk dibutuhkan satu pusat
perbelanjaan pada level kelurahan. Sedangkan untuk 120.000 penduduk
dibutuhkan satu pusat perbelanjaan di level kecamatan, dan untuk 450.000
ke atas dibutuhkan satu pusat perbelanjaan pada level wilayah kota.
Dengan demikian pembangunan mal-mal baik itu tingkat kecil, menengah
atau pun besar dapat disesuaikan dengan jumlah penduduk. Kebutuhan
penduduk terhadap kehadiran pusat perbelanjaan di suatu wilayah pun akan
menjadi seimbang, tuturnya.
Jumlahnya pusat belanja yang ada di Jakarta mencapai 170 lebih dan
telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Harusnya ada skala
untuk mengatur agar jumlah mal tidak tumbuh dengan sangat pesat. Meski
atas nama globalisasi dan perdagangan internasional, ujar Yayat.
Ketua Majelis Pertimbangan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia
Hasan Basri mengatakan dengan begitu mengguritanya pasar modern di
Jakarta, sejumlah pasar tradisional terpaksa tutup dalam empat tahun
terakhir. Contohnya Pasar Kebon Melati, Pasar Tulodong, Pasar
Sudimampir, dan Pasar Kampung Melayu.
Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga, juga mengeluhkan soal
keberadaan pasar modern yang jaraknya berdekatan dengan pasar
tradisional. Hal ini, menurut dia, justru akan mematikan para pedagang
kecil di pasar tradisional.
Peraturan Daerah (Perda) Perpasaran Swasta sebenarnya mengatur
tentang lokasi pasar modern. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya
100-200 meter persegi harus berjarak 0,5 kilometer dari pasar
lingkungan dan terletak di sisi jalan lingkungan/kolektor/arteri. Namun,
banyak pasar modern menyalahi aturan ini.
Pengusaha lokal menjerit
MENJAMURNYA swalayan dan mal secara tidak langsung memukul pengusaha
home industry di Jakarta. Salah satunya melanda pengusaha sepatu yang
mengais rezeki di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) di
Penggilingan, Jakarta Timur.
Harga produk yang ditawarkan para pengusaha papan bawah ini kalah
bersaing dengan yang disuguhkan di swalayan maupun mal. Kondisi ini
membuat masa kejayaan pengusaha yang mangkal di PIK Penggilingan,
Jakarta Timur seperti di tahun 2000-an kini tinggal kenangan belaka.
Namun, kondisi itu berbeda dengan pengusaha konveksi yang malah bisa
dikatakan panen order, apalagi menjelang Ramadhan maupun Hari Raya Idul
Fitri.
Muhamad Faisal, pengusaha sepatu di PIK Penggilingan, Jakarta Timur
menyebutkan, kondisi persepatuan di kawasan itu kian terpuruk saja.
Padahal, mereka sudah menaruh harga murah. Kami sudah membuka harga
paling murah, seperti halnya harga sepatu wanita Rp 20.000 hingga Rp
50.000. Sepatu perkantoran untuk pria mencapai Rp 50.000 hingga Rp
100.000, katanya.
Sayangnya, harga murah itu belum bisa bersaing dengan barang pabrik
yang dijual di swalayan serta mal yang bertebaran di hampir sudut
Jakarta.
Mutunya pun kalah bersaing dengan produk pabrik. Hal itu yang membuat penghasilan para pedagang di kawasan PIK turun drastis.
Faisal asal Padang, Sumatera Barat sudah sejak 1991 membuka usaha
sepatu di PIK mengungkapkan, omzetnya menurun sejak tahun 2006. Di tahun
2004 omzetnya setiap hari bisa mencapai Rp 2 juta lebih. Kini, untuk
meraup setengahnya saja sudah susah. Untuk mendapatkan Rp 300.000 per
hari saja sudah sangat sulit.
Pada kesempatan berbeda Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya
mendesak Pemprov DKI untuk menegakkan analisis mengenai dampak
lingkungan (Amdal) tentang lalulintas bagi pembangunan mal yang tengah
berlangsung.
Semua mal yang ada saat ini selalu jadi biang macet karena lokasinya
berdekatan dengan jalan raya. Apalagi yang letaknya di persimpangan
jalan, kemacetan menjadi lebih parah lagi. Itu karena tidak
ditegakkannya Amdal tentang lalulintas saat pembangunan mal, kata
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Royke Lumowa.
Royke menambahkan, banyak mal yang menjadi biang macet karena gedung
tersebut tidak memiliki fasilitas jalan dan taman parkir yang memadai.
Sebaiknya, pembangunan pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta, jeda
dulu. Karena sudah terlalu banyak, sehingga menyebabkan simpul
kemacetan. (kim/naz)

Pada hari Kamis 16 Februari 2012, banyak media menulis soal pesimisme pemerintah terhadap...
Read more...Pekan lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan RAPBN 2012 beserta Nota Keuangannya...
Read more...Ramadhan termasuk bulan arab yang dua belas. Ia adalah bulan nan agung dalam agama...
Read more...Zakat sebagai rukun Islam merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu membayarnya sesuai...
Read more...Memperingati Hari Dukungan Internasional untuk Korban Penyiksaan (26 Juni), Komisi untuk Orang...
Read more...MEMPERINGATI HUT ke-484 tahun pada Juni 2011 ini wajah Jakarta memang berbeda. Tapi perbedaannya...
Read more...PADA saat melakukan “Refleksi Tiga Tahun Perdamaian Aceh”, 15 Agustus 2008 di Banda Aceh,...
Read more...Muhammad Nazaruddin dua kali mangkir dari panggilan KPK. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat...
Read more...Cyber-warfare mulai terlihat di pelupuk mata. Daya rusaknya melebihi perang konvensional,...
Read more...Kelompok penganut paham Negara Islam Indonesia kembali menebar teror. Mereka menculik...
Read more...