Pekan lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan RAPBN
2012 beserta Nota Keuangannya kepada parlemen. Acara itu merupakan
ritual tahunan yang selalu diselenggarakan sehari sebelum peringatan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penyampaian RAPBN
terjadi pada saat negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS),
negara-negara di Eropa, dan Jepang sedang menghadapi masalah besar,
khususnya terkait keuangan pemerintah mereka. Kita patut bersyukur,
penyampaian RAPBN di Indonesia terjadi dalam keadaan keuangan Pemerintah
Indonesia berada pada kondisi yang sedang “bagus-bagusnya”.
Rasio
utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun mendekati
angka 20 persen, sementara defisit APBN disiapkan pada level 1,5 persen
PDB di mana umumnya realisasinya sekira 0,7 persen lebih rendah serta
adanya kas pemerintah yang besar, yang menjadi bantalan bagi keuangan
pemerintah.
RAPBN yang berjumlah lebih dari Rp1.400 triliun itu
meningkat di bawah 10 persen, lebih rendah dibandingkan dengan
pertumbuhan PDB nominal yang dewasa ini bergerak di sekira 15 persen.
RAPBN dengan postur demikian serta-merta mengundang banyak komentar.
Intinya, RAPBN tersebut dianggap tidak “menggigit” (not inspiring).
Kendati
demikian, analisis berikut ini akan melihat berbagai aspek dalam RAPBN
tersebut yang dapat menghargai usaha yang dilakukan pemerintah. Dalam
perjalanan pembangunan dewasa ini, kita merasakan suatu perbedaan yang
sangat mencolok antara karakter pembangunan di masa Orde Baru dengan
pembangunan di masa Orde Reformasi.
Di masa Orde Baru, perkembangan ekonomi Indonesia secara ketat ditarik oleh pemerintah (government led growth). Adapun sejak Orde Reformasi hingga saat ini pembangunan lebih banyak didorong sektor swasta (private sector driven growth). Perubahan semacam ini terjadi tanpa direncanakan, tetapi karena perubahan struktural yang disebabkan krisis moneter 1998.
Pada
saat krisis tersebut selama beberapa tahun pemerintah melakukan
penyelamatan perbankan dan dunia usaha sekaligus. Pemerintah menyerap
kerugian yang dialami perbankan dan dunia usaha sehingga pada akhirnya
kedua pelaku ekonomi tersebut menjadi sehat kembali, sementara seluruh
beban ditanggung pemerintah.
Dengan sehatnya perbankan dan dunia
usaha Indonesia, kita melihat perkembangan mereka yang meningkat sangat
pesat dalam beberapa tahun kemudian hingga dewasa ini. Adapun pemerintah
yang harus menanggung tambahan beban utang lantaran pemberian
rekapitalisasi (penambahan modal) pada perbankan akhirnya harus
merangkak lambat untuk bisa mengurai beban itu.
Pada masa itu
rasio utang terhadap PDB bahkan sudah mendekati 100 persen, suatu
tingkat yang dewasa ini dialami negara-negara besar seperti Jepang,
Amerika Serikat (AS), dan berbagai negara maju di Eropa. Pemerintah
akhirnya berupaya melakukan konsolidasi keuangan. Beban utang diatur
kembali, baik melalui negosiasi langsung maupun secara pasar, juga
penyiapan RAPBN yang senantiasa konservatif dari waktu ke waktu.
Itulah yang menyebabkan terjadinya private sector driven growth. Setelah keuangan pemerintah mengalami penguatan di zaman Dr Boediono sebagai menteri keuangan, turning point sebetulnya
baru terjadi pada 2008, yaitu pada saat pemerintah melakukan
penghematan anggaran karena terjadinya krisis keuangan global.
Jadilah
untuk pertama kali sisa anggaran terjadi dalam jumlah cukup signifikan.
Sejak saat itu, sisa anggaran mulai berakumulasi sampai dewasa ini
berjumlah lebih dari Rp100 triliun dan saat ini menumpuk di rekening
pemerintah di Bank Indonesia (BI).
Dalam keadaan demikian
sebetulnya pemerintah memiliki kesempatan untuk bergerak lebih lincah
karena adanya “bantalan keuangan” yang sangat tebal. Ini berarti jika
terjadi apa-apa dengan perekonomian, sehingga menyebabkan terganggunya
keuangan pemerintah, adanya kekurangan tersebut dapat segera ditutupi
oleh bantalan keuangan.
Karena itu sungguh diharapkan terjadi
kenaikan yang signifikan dari anggaran pemerintah yang ditujukan untuk
pembangunan infrastruktur sebagaimana banyak dikeluhkan berbagai pihak.
Dalam RAPBN 2012, kenaikan yang terjadi kurang dari 10 persen. Dalam
keadaan normal, ini menggambarkan konservatisme berlebihan.
Namun,
melihat perbandingan dengan anggaran tahun sebelumnya (APBNP 2011),
tampak kenaikan yang relatif kecil itu terjadi karena pembandingnya
(yaitu APBN-P 2011) mengalami penggelembungan subsidi sehingga mencapai
Rp237 triliun. Angka inilah yang dicoba ditekan pada 2012 sehingga
subsidi direncanakan hanya mencapai Rp209 triliun, penurunan hampir Rp30
triliun.
Jumlah subsidi dibiarkan pada tingkat yang sama, RAPBN
2012 akan mengalami kenaikan yang lebih tinggi lagi. Dalam upaya
penurunan subsidi,banyak hal yang harus dilakukan pemerintah, termasuk
kenaikan tarif listrik pada 2012. Jika batas subsidi dapat terjaga pada
level tersebut, pemerintah sudah dianggap berprestasi untuk menjaga
kenaikan subsidi yang berlebihan.
Kerja keras memang perlu
dilakukan, terutama dalam pengereman subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Dalam RAPBN 2012, kita melihat lonjakan tinggi pada belanja pegawai,
yaitu terjadinya kenaikan sebesar Rp32 triliun. Ini jelas kenaikan yang
melebihi proporsinya.
Namun, dari penjelasan pemerintah, tampak
kenaikan belanja pegawai tersebut, terutama dilakukan sebagai upaya
penyelesaian reformasi kepegawaian yang berujung pada perbaikan
remunerasi pegawai. Kita mendengar beberapa waktu lalu terjadinya
kenaikan remunerasi pegawai di beberapa kementerian.
Anggaran
yang disiapkan dalam RAPBN 2012 ini adalah bagian akhir dari penyesuaian
remunerasi itu. Ini berarti untuk tahun selanjutnya kenaikan belanja
pegawai akan kembali “normal”, misalnya sekira 10 persen. Dengan
demikian pada RAPBN 2013 diharapkan akan terjadi ruang anggaran yang
bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan belanja modal lebih lanjut.
Dalam
RAPBN 2012, kita melihat belanja barang, yaitu belanja rutin yang
dilakukan oleh tiap kementerian, ternyata dicoba untuk dikendalikan atau
bahkan diupayakan terjadi sedikit penurunan. Dengan upaya ini
diharapkan terjadi kenaikan belanja modal yang lebih besar.
Suatu
hal menarik, belanja modal untuk 2012 yang akan datang telah disiapkan
sebesar Rp168 triliun. Jumlah ini naik Rp27,2 triliun (19,3 persen).
Secara relatif, kenaikan belanja modal ini jauh melampaui peningkatan
anggaran belanja secara keseluruhan.
Dengan melihat perkembangan
ini, pada akhirnya kita perlu mensyukuri bahwa pemerintah memberikan
perhatian yang lebih besar pada belanja modal untuk mempercepat
pembangunan infrastruktur sebagaimana banyak dikeluhkan oleh masyarakat
dan dunia usaha.
Kenaikan hampir Rp30 triliun mampu untuk
membiayai banyak proyek yang sudah disiapkan pemerintah. Secara
keseluruhan, jumlah tersebut perlu ditambah lagi belanja modal yang
dihasilkan oleh seluruh pemerintah daerah di Indonesia melalui APBD
mereka.
Ini berarti bukan tidak mungkin seluruh belanja modal
yang terkonsolidasi pusat dan daerah akan mendekati level Rp300 triliun,
suatu jumlah yang cukup besar untuk pembangunan di Indonesia.
Pemerintah
dapat menyiapkan anggaran yang lebih bisa memberikan inspirasi dan
motivasi di tahun-tahun mendatang demi menghasilkan akselerasi yang
lebih tinggi bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi

Pada hari Kamis 16 Februari 2012, banyak media menulis soal pesimisme pemerintah terhadap...
Read more...Pekan lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan RAPBN 2012 beserta Nota Keuangannya...
Read more...Ramadhan termasuk bulan arab yang dua belas. Ia adalah bulan nan agung dalam agama...
Read more...Zakat sebagai rukun Islam merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu membayarnya sesuai...
Read more...Memperingati Hari Dukungan Internasional untuk Korban Penyiksaan (26 Juni), Komisi untuk Orang...
Read more...MEMPERINGATI HUT ke-484 tahun pada Juni 2011 ini wajah Jakarta memang berbeda. Tapi perbedaannya...
Read more...PADA saat melakukan “Refleksi Tiga Tahun Perdamaian Aceh”, 15 Agustus 2008 di Banda Aceh,...
Read more...Muhammad Nazaruddin dua kali mangkir dari panggilan KPK. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat...
Read more...Cyber-warfare mulai terlihat di pelupuk mata. Daya rusaknya melebihi perang konvensional,...
Read more...Kelompok penganut paham Negara Islam Indonesia kembali menebar teror. Mereka menculik...
Read more...